Tampilkan postingan dengan label AKHLAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AKHLAK. Tampilkan semua postingan

Sikap Berani Yang Benar

بسم الله الرحمن الرحيم
Sikap Berani Yang Benar
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba'du:
Berikut pembahasan tentang sikap berani yang benar, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
Pengantar
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang paling indah fisiknya dan paling pemberani. Suatu ketika penduduk Madinah ditimpa rasa takut (karena suara keras),  maka mereka pun pergi ke arah itu, ternyata mereka menjumpai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (telah mendahului mereka dalam keadaan pulang dari tempat dimana suara ini muncul), dan keadaan yang sebenarnya pun telah tampak. Ketika itu Beliau berada di atas kuda milik Abu Thalhah tanpa pelana, sedangkan di dekat leher Beliau ada pedang sambil bersabda, "Jangan takut! Jangan takut!" Kemudian Beliau bersabda, “Sungguh, kami dapatkan kuda ini cepat larinya.”
Hadits di atas menunjukkan, bahwa sikap berani merupakan akhlak terpuji, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki sikap demikian.
Apa itu berani?
Berani adalah keberanian hati dan kuatnya jiwa ketika menghadapi masalah yang sulit.
Keberanian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
Para sahabat radhiyallahu 'anhu apabila merasakan perang semakin memanas, maka mereka berlindung di belakang punggung Nabi shallallahu 'alaihi wa salllam dan menjadikan Beliau di depannya. Tentang hal ini, Ali radhiyallahu  'anhu berkata, "Kami, ketika perang semakin memanas, maka kami melindungi diri dengan Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam, sehingga tidak ada yang lebih dekat dengan musuh daripada Beliau."
Al Barra’ berkata, “Demi Allah, saat perang semakin memanas, maka kami berlindung di balik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan orang yang pemberani di antara kami adalah orang yang sejajar dengan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari)
Dalam perang Hunain saat kaum muslim terpukul mundur, sebagian besar dari mereka melarikan diri, namun Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tetap di tempatnya tidak berpindah sambil menyeru dengan suara tinggi, "Aku Nabi tidak dusta, aku cucu Abdul Muththalib."
Saat kaum muslim mendengar kalimat itu, maka kembalilah sifat pemberani ke dalam hati mereka, dan mereka berkumpul kembali di sekeliling Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam untuk ikut berperang, sehingga mereka memperoleh kemenangan.
Demikianlah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai orang yang paling berani, lalu para sahabat mengambil keberanian itu dari Beliau sehingga mereka menjadi panutan dalam pengorbanan dan penebusan.
Keberanian para sahabat radhiyallahu 'anhum
Para sahabat telah memberikan contoh yang paling menarik dalam hal keberanian. Di antaranya adalah para sahabat berikut ini:
'Amr bin Jamuh. Anak-anaknya menahannya agar tidak ikut ke medan perang, karena ia tidak dapat berjalan dengan kakinya yang pincang. Maka 'Amr berkata kepada mereka, "Demi Allah, sesungguhnya saya ingin menginjak surga dengan kakiku yang pincang." Kemudian ia meminta izin kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk berperang, maka Beliau mengizinkan dan ia pun berangkat ke medan perang, ia berperang dengan beraninya sehingga memperoleh syahid di jalan Allah.
Ali bin Abi Thalib. Ia tumbuh di bawah asuhan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tumbuh di atas keberanian sejak kecilnya. Ia telah memberikan contoh yang luar biasa tentang keberanian saat ia masih kecil, yaitu ia berani tidur di ranjang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam saat Beliau berhijrah, padahal ketika itu musuh hendak membunuh Beliau. Ali radhiyallahu ‘anhu rela menempati  ranjang Beliau untuk memudahkan urusan Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam agar Beliau dapat berhijrah ke Madinah dengan selamat.
Abdullah bin Rawahah. Seorang sahabat yang mulia, ia rela berjihad di jalan Allah dan syahid di perang Mu'tah. Sebelum ia mendapatkan syahid, ia berbicara dengan dirinya dan mendorongnya untuk berperang, sambil berkata,
Aku bersumpah, wahai diri kamu harus terjun ke dalamnya
Mengapa aku lihat engkau membenci surga
Wahai diri, jika engkau tidak terbunuh (sebagai syahid), engkau tetap akan mati
Inilah kematian telah membakarmu
Apa yang engkau inginkan, maka telah diberikan kepadamu
Jika engkau melakukanya, maka engkau telah ditunjuki
Abdullah ingin memperoleh syahid dan ingin bertemu dengan kedua kawannya, yaitu Zaid bin Haritsah dan Ja'far bin Abi Thalib yang telah  syahid dalam perang Mu'tah sehingga ia pun gugur pula sebagai syahid.
Khalid bin Al Walid. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyebutnya sebagai pedang Allah yang terhunus karena keberaniannya dan siap bertempur sampai mati. Saat ia akan meninggal dunia, maka ia bersedih karena tidak mati dalam keadaan syahid di medan perang. Ia berkata, "Tidak ada satu jengkal pun dari badanku kecuali di sana terdapat sayatan pedang, tusukan tombak, atau lemparan panah. Tetapi sekarang saya mati di atas kasurku sebagaimana matinya unta, maka semoga mata para pengecut tidak dapat tidur.
Abu Dzar Al Ghifariy. Beliau terkenal dengan keberaniannya dalam beramar ma'ruf dan bernahi munkar, ia membela kaum fakir dan meminta kaum kaya agar bersedekah dan mengeluarkan zakat harta mereka yang di dalamnya terdapat hak kaum fakir. Ia pernah berkata, "Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang menyimpan emas dan perak dengan setrika dari api, dimana dahi dan rusuk mereka akan dipanaskan dengannya pada hari Kiamat."
Wanita para sahabat
Wanita para sahabat disifati dengan sifat berani. Mereka pernah ikut bersama kaum muslim di medan peperangan, mereka yang menyiapkan makanan untuk orang-orang yang berperang dan yang menyiapkan air untuk memberi minum pasukan kaum muslimin, serta mengobati yang terluka dan yang sakit, sehingga terkenallah di antara mereka Ummu 'Imarah Nusaibah binti Ka'ab, Ummu 'Athiyyah Al Anshaariyyah, Ummu Sulaim, Laila Al Ghifariyyah dan lainnya radhiyallahu 'anhunna.
Bahkan ada seorang sahabiyah bernama Khaulah binti Tsa'labah radhiyallahu 'anha bertemu dengan Amirul Mukminin Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu menasihatinya dengan tegas, namun Umar terdiam di hadapannya, mendengarkan kata-katanya sampai selesai.
Anak-anak para sahabat
Banyak anak-anak para sahabat yang menampakkan kesedihan mereka karena tidak dapat ikut berperang bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dikisahkan, bahwa Umair bin Abi Waqqash, saat ia masih kecil pernah bersembunyi di barisan pasukan namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak melihatnya, setelah diketaui, maka Beliau memulangkannya karena usianya yang masih kecil, maka ia menangis, kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengizinkan untuk menemani pasukan saja.
Kisah Keberanian Lainnya
1. Surat Kaisar Romawi kepada Mu'awiyah ketika terjadi perselisihan antara Mu'awiyah dan  Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhuma.
Dari Kaisar Romawi kepada Mu'awiayah,
Kami telah mengetahui perselisihan yang terjadi antara anda dengan Ali bin Abi Thalib, dan menurut penilaian kami, Andalah yang paling berhak menempati posisi sebagai khalifah. Jika Anda memerintahkan kepadaku (untuk menyiapkan pasukan),  niscaya aku akan mengirimkan kepadamu sejumlah pasukan yang akan membawakan kepadamu kepala Ali bin Abi Thalib.
Surat kaisar romawi ini pun dibalas oleh Mu'awiyah,
Dari Mu'awiyah kepada Heraklius.
Ini adalah perselisihan antara dua saudara, lalu mengapa Anda ingin turut campur dalam urusan mereka berdua.
Jika engkau tidak membungkam mulutmu sendiri, maka aku akan mengirim kepadamu sebuah pasukan, barisan pertamanya telah sampai kepadamu dan barisan terakhirnya masih di tempatku hanya untuk mendatangkan kepalamu untukku agar aku serahkan kepada Ali bin Abi Thalib.
2. Surat Khalid bin Walid radhiyallahu anhu kepada Kisra
Khalid pernah mengirim surat kepada Kisra, yang isinya:
Masuk Islamlah kengkau, niscaya engkau akan selamat. Jika engkau menolaknya, aku akan mendatangimu dengan sejumlah ksatria yang sangat mencintai kematian seperti kalian mencintai kehidupan.
Ketika Kisra membaca surat tersebut, ia segera mengirim utusannya kepada kaisar Cina; memohon bala bantuan, kaisar Cina kala itu hanya membalas dengan ucapan berikut,
Wahai kisra,  aku sama sekali tidak memiliki kekuatan melawan suatu kaum yang jika mereka bertekad mencabut sebuah gunung, niscaya mereka sanggup untuk melakukannya.
3. Kaum muslimin ketika melewati pelabuhan-pelabuhan di Eropa
Pada masa kekuasaan Daulah Utsmaniyah terdahulu, kapal-kapal armada perang mereka jika melintasi pelabuhan pelabuhan Eropa, serentak seluruh gereja di kota-kota pesisir pantai itu mengehentikan pukulan lonceng-lonceng gereja sebab mereka sangat takut jika hal itu dapat memancing kaum muslimin untuk menaklukkan negeri mereka.
4. Shalahuddin Al Ayyubi di malam hari sebelum terjadinya perang Hittin
Pada malam perang Hitthin, sebuah peperangan monumental kaum muslimin dimana mereka dapat mengembalikan Baitul Maqdis ke dalam kekuasaan Islam serta menaklukkan pasukan Salib. Pada malam itu panglima Shalahuddin Al Ayyubi berkeliling melakukan pengawasan pada seluruh kemah-kemah tentarannya, ia mendengarkan beberapa kemah penghuninya tengah melaksanakan qiyamullail, kemah yang lain tengah berzikir, sedangkan kemah berikutnya sedang membaca Al Qur'an. Demikian seterusnya, hingga beliau melintasi sebuah kemah yangg sepi sebab seluruh penghuninya terlelap tidur, maka sang panglima mengatakan kepada pengawalnya, “Dari arah kemah inilah kita akan kebobolan,” maksudnya dari kemah inilah kita bisa dikalahkan.
Berbagai macam keberanian
Keberanian ada banyak macamnya, di antaranya:
1. Berani dalam Amar Ma'ruf dan Nahi Munkar
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah marah kecuali jika salah satu larangan Allah dilanggar, atau seseorang mengerjakan kemungkaran; dengan melakukan maksiat, maka Rasululullah shallallahu 'alaihi wa sallam segera menyuruhnya melakukan kebaikan dan melarang kemaksiatan itu.
Allah Subhaanahu wa Ta'ala memerintahkan keberanian seperti ini, Dia berfirman, "(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan." (QS. Al Hajj: 41),
Abu Dzar berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyuruhku mengatakan yang benar meskipun pahit." (HR. Ahmad. Pentahqiq Musnad Ahmad berkata, "Hadits shahih.")
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُبِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيْمَانِ
"Barang siapa yang melihat kemungkaran di antara kalian, maka rubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka rubahlah dengan lisannya, dan jika tidak mampu, maka rubahlah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman." (HR. Muslim)
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah menerangkan, bahwa orang yang mengingatkan waliyyul amri (pemerintah) dan menasihatinya secara lembut dan baik akan memperoleh pahala yang besar dari Allah Rabbul 'aalamin. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
"Jihad yang paling utama adalah berkata yang hak di hadapan pemimpin yang zalim." (HR. Ibnu Majah, Ahmad, Thabrani, Baihaqi dalam Asy Syu'ab, dan Nasa'i, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami' no. 1100)
Berani dalam menuntut ilmu
Seorang muslim selalu berusaha menuntut ilmu, ia bertanya dan meminta penjelasan terhadap masalah yang tidak ia ketahui, karena menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim. Oleh karena itu, para sahabat biasa bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan meminta penjelasan terhadap masalah yang tidak mereka ketahui tanpa malu. Dalam hal ini, antara para sahabat baik yang laki-laki maupun yang wanita adalah sama.
Berani mengakui kesalahan
Seorang muslim selalu cenderung kepada yang hak dan kebenaran. Ketika ia keliru, ia segera mengakui kesalahan, menyesalinya, dan bertobat kepada Allah Azza wa Jalla. Di antara (contohnya) adalah sikap Nabi Adam 'alaihis salam saat ia memakan pohon yang dilarang untuk dimakan dan mendurhakai Rabbnya, maka ia segera mengakui kesalahannya dan meminta ampunan kepada Tuhannya sehingga Allah menerima tobatnya.
Demikian juga Nabi Allah Yunus 'alaihis salam saat ia ditelan ikan yang besar, ia segera kembali kepada Rabbnya berdzikr dan meminta ampunan sehingga Allah menyelamatkannya dari keadaan itu. Ketika itu, ia berdoa kepada Rabbnya sambil berkata, "Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim."
Demikianlah seorang muslim, ia selalu kembali kepada kebenaran. Jika terjadi dosa atau kesalahan pada dirinya, maka ia segera bertobat, meminta maaf, dan mengakui kesalahannya.
Keberanian dalam berperang
Allah memerintahkan kaum muslim agar bersiap-siap untuk menghadapi musuh-musuh-Nya, Dia berfirman,
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. " (QS. Al Anfaal: 60)
Allah Subhaanahu wa Ta'ala juga memerintahkan untuk memerangi orang-orang kafir yang memerangi kita, Diaberfirman, "Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur)." (Terj. QS. Al Anfaal: 15)
Dan seorang muslim tidaklah takut mati di jalan Allah, karena hal itu adalah kedudukan yang agung di sisi Allah Subhaanahu wa Ta'ala.
Seorang penyair berkata,
Jika kematian pasti datang
Maka termasuk kelemahan adalah ketika engkau mati dalam keadaan sebagai seorang pengecut.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mendorong agar seseorang menjadi orang yang kuat, Beliau bersabda,
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ، خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ، فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
"Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Namun pada keduanya ada kebaikan. Berusahalah untuk mengejar hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan bersikap lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu, maka jangan katakan, "Kalau seandainya aku melakukan ini dan itu, tentu akan jadi begini dan begitu." Tetapi katakanlah, "Allah telah menakdirkan dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan." Karena kata "Kalau seandainya," membuka pintu amal setan." (HR. Muslim)
Oleh karena itu, seorang muslim harus menjadikan sifat pemberani sebagai sifat yang selalu melekat pada dirinya.
Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji’: http://islam.aljayyash.net, Modul Akhlak SMP (Penulis), Maktabah Syamilah versi 3.45, dll.

Fawaid Riyadhush Shalihin (5)

بسم الله الرحمن الرحيم
Hasil gambar untuk ‫التوبة‬‎
Fawaid Riyadhush Shalihin (5)
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba'du:
Berikut Fawaid (Kandungan Hadits) Riyadhush Shalihin yang banyak kami rujuk dari kitab Syarh Riyadhush Shalihin karya Syaikh Faishal bin Abdul Aziz An Najdiy.  semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنَ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ، وَكَانَ، قَائِدَ كَعْبٍ مِنْ بَنِيهِ، حِينَ عَمِيَ، قَالَ: سَمِعْتُ كَعْبَ بْنَ مَالِكٍ، يُحَدِّثُ حِينَ تَخَلَّفَ عَنْ قِصَّةِ، تَبُوكَ، قَالَ كَعْبٌ: لَمْ أَتَخَلَّفْ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةٍ غَزَاهَا إِلَّا فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ، غَيْرَ أَنِّي كُنْتُ تَخَلَّفْتُ فِي غَزْوَةِ بَدْرٍ، وَلَمْ يُعَاتِبْ أَحَدًا تَخَلَّفَ عَنْهَا، إِنَّمَا خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرِيدُ عِيرَ قُرَيْشٍ، حَتَّى جَمَعَ اللَّهُ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ عَدُوِّهِمْ عَلَى غَيْرِ مِيعَادٍ، وَلَقَدْ شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةَ العَقَبَةِ، حِينَ تَوَاثَقْنَا عَلَى الإِسْلاَمِ، وَمَا أُحِبُّ أَنَّ لِي بِهَا مَشْهَدَ بَدْرٍ، وَإِنْ كَانَتْ بَدْرٌ، أَذْكَرَ فِي النَّاسِ مِنْهَا، كَانَ مِنْ خَبَرِي: أَنِّي لَمْ أَكُنْ قَطُّ أَقْوَى وَلاَ أَيْسَرَ حِينَ تَخَلَّفْتُ عَنْهُ، فِي تِلْكَ الغَزَاةِ، وَاللَّهِ مَا اجْتَمَعَتْ عِنْدِي قَبْلَهُ رَاحِلَتَانِ قَطُّ، حَتَّى جَمَعْتُهُمَا فِي تِلْكَ الغَزْوَةِ، وَلَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرِيدُ غَزْوَةً إِلَّا وَرَّى بِغَيْرِهَا، حَتَّى كَانَتْ تِلْكَ الغَزْوَةُ، غَزَاهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَرٍّ شَدِيدٍ، وَاسْتَقْبَلَ سَفَرًا بَعِيدًا، وَمَفَازًا وَعَدُوًّا كَثِيرًا، فَجَلَّى لِلْمُسْلِمِينَ أَمْرَهُمْ لِيَتَأَهَّبُوا أُهْبَةَ غَزْوِهِمْ، فَأَخْبَرَهُمْ بِوَجْهِهِ الَّذِي يُرِيدُ، وَالمُسْلِمُونَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَثِيرٌ، وَلاَ يَجْمَعُهُمْ كِتَابٌ حَافِظٌ، يُرِيدُ الدِّيوَانَ، قَالَ كَعْبٌ: فَمَا رَجُلٌ يُرِيدُ أَنْ يَتَغَيَّبَ إِلَّا ظَنَّ أَنْ سَيَخْفَى لَهُ، مَا لَمْ يَنْزِلْ فِيهِ وَحْيُ اللَّهِ، وَغَزَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِلْكَ الغَزْوَةَ حِينَ طَابَتِ الثِّمَارُ وَالظِّلاَلُ، وَتَجَهَّزَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالمُسْلِمُونَ مَعَهُ، فَطَفِقْتُ أَغْدُو لِكَيْ أَتَجَهَّزَ مَعَهُمْ، فَأَرْجِعُ وَلَمْ أَقْضِ شَيْئًا، فَأَقُولُ فِي نَفْسِي: أَنَا قَادِرٌ عَلَيْهِ، فَلَمْ يَزَلْ يَتَمَادَى بِي حَتَّى اشْتَدَّ بِالنَّاسِ الجِدُّ، فَأَصْبَحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالمُسْلِمُونَ مَعَهُ، وَلَمْ أَقْضِ مِنْ جَهَازِي شَيْئًا، فَقُلْتُ أَتَجَهَّزُ بَعْدَهُ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ، ثُمَّ أَلْحَقُهُمْ، فَغَدَوْتُ بَعْدَ أَنْ فَصَلُوا لِأَتَجَهَّزَ، فَرَجَعْتُ وَلَمْ أَقْضِ شَيْئًا، ثُمَّ غَدَوْتُ، ثُمَّ رَجَعْتُ وَلَمْ أَقْضِ شَيْئًا، فَلَمْ يَزَلْ بِي حَتَّى أَسْرَعُوا وَتَفَارَطَ الغَزْوُ، وَهَمَمْتُ أَنْ أَرْتَحِلَ فَأُدْرِكَهُمْ، وَلَيْتَنِي فَعَلْتُ، فَلَمْ يُقَدَّرْ لِي ذَلِكَ، فَكُنْتُ إِذَا خَرَجْتُ فِي النَّاسِ بَعْدَ خُرُوجِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَطُفْتُ فِيهِمْ، أَحْزَنَنِي أَنِّي لاَ أَرَى إِلَّا رَجُلًا مَغْمُوصًا عَلَيْهِ النِّفَاقُ، أَوْ رَجُلًا مِمَّنْ عَذَرَ اللَّهُ مِنَ الضُّعَفَاءِ، وَلَمْ يَذْكُرْنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَلَغَ تَبُوكَ، فَقَالَ: وَهُوَ جَالِسٌ فِي القَوْمِ بِتَبُوكَ: «مَا فَعَلَ كَعْبٌ» فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَلِمَةَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، حَبَسَهُ بُرْدَاهُ، وَنَظَرُهُ فِي عِطْفِهِ، فَقَالَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ: بِئْسَ مَا قُلْتَ، وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عَلِمْنَا عَلَيْهِ إِلَّا خَيْرًا، فَسَكَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبَيْنَا هُوَ عَلى ذَلِكَ رَأى رَجُلًا مُبْيِضًا يَزُولُ بِهِ السَّرَابُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ - صلى الله عليه وسلم: «كُنْ أَبَا خَيْثَمَةَ» ، فَإذَا هُوَ أبُو خَيْثَمَةَ الأنْصَارِيُّ وَهُوَ الَّذِي تَصَدَّقَ بِصَاعِ التَّمْرِ حِيْنَ لَمَزَهُ المُنَافِقُونَ. قَالَ كَعْبُ بْنُ مَالِكٍ: فَلَمَّا بَلَغَنِي أَنَّهُ تَوَجَّهَ قَافِلًا حَضَرَنِي هَمِّي، وَطَفِقْتُ أَتَذَكَّرُ الكَذِبَ، وَأَقُولُ: بِمَاذَا أَخْرُجُ مِنْ سَخَطِهِ غَدًا، وَاسْتَعَنْتُ عَلَى ذَلِكَ بِكُلِّ ذِي رَأْيٍ مِنْ أَهْلِي، فَلَمَّا قِيلَ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَظَلَّ قَادِمًا زَاحَ عَنِّي البَاطِلُ، وَعَرَفْتُ أَنِّي لَنْ أَخْرُجَ مِنْهُ أَبَدًا بِشَيْءٍ فِيهِ كَذِبٌ، فَأَجْمَعْتُ صِدْقَهُ، وَأَصْبَحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَادِمًا، وَكَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ، بَدَأَ بِالْمَسْجِدِ، فَيَرْكَعُ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ جَلَسَ لِلنَّاسِ، فَلَمَّا فَعَلَ ذَلِكَ جَاءَهُ المُخَلَّفُونَ، فَطَفِقُوا يَعْتَذِرُونَ إِلَيْهِ وَيَحْلِفُونَ لَهُ، وَكَانُوا بِضْعَةً وَثَمَانِينَ رَجُلًا، فَقَبِلَ مِنْهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلاَنِيَتَهُمْ، وَبَايَعَهُمْ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمْ، وَوَكَلَ سَرَائِرَهُمْ إِلَى اللَّهِ، فَجِئْتُهُ فَلَمَّا سَلَّمْتُ عَلَيْهِ تَبَسَّمَ تَبَسُّمَ المُغْضَبِ، ثُمَّ قَالَ: «تَعَالَ» فَجِئْتُ أَمْشِي حَتَّى جَلَسْتُ بَيْنَ يَدَيْهِ ، فَقَالَ لِي: «مَا خَلَّفَكَ، أَلَمْ تَكُنْ قَدْ ابْتَعْتَ ظَهْرَكَ» . فَقُلْتُ: بَلَى، إِنِّي وَاللَّهِ لَوْ جَلَسْتُ عِنْدَ غَيْرِكَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا، لَرَأَيْتُ أَنْ سَأَخْرُجُ مِنْ سَخَطِهِ بِعُذْرٍ، وَلَقَدْ أُعْطِيتُ جَدَلًا، وَلَكِنِّي وَاللَّهِ، لَقَدْ عَلِمْتُ لَئِنْ حَدَّثْتُكَ اليَوْمَ حَدِيثَ كَذِبٍ تَرْضَى بِهِ عَنِّي، لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يُسْخِطَكَ عَلَيَّ، وَلَئِنْ حَدَّثْتُكَ حَدِيثَ صِدْقٍ، تَجِدُ عَلَيَّ فِيهِ، إِنِّي لَأَرْجُو فِيهِ عَفْوَ اللَّهِ، لاَ وَاللَّهِ، مَا كَانَ لِي مِنْ عُذْرٍ، وَاللَّهِ مَا كُنْتُ قَطُّ أَقْوَى، وَلاَ أَيْسَرَ مِنِّي حِينَ تَخَلَّفْتُ عَنْكَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَمَّا هَذَا فَقَدْ صَدَقَ، فَقُمْ حَتَّى يَقْضِيَ اللَّهُ فِيكَ» . فَقُمْتُ، وَثَارَ رِجَالٌ مِنْ بَنِي سَلِمَةَ فَاتَّبَعُونِي، فَقَالُوا لِي: وَاللَّهِ مَا عَلِمْنَاكَ كُنْتَ أَذْنَبْتَ ذَنْبًا قَبْلَ هَذَا، وَلَقَدْ عَجَزْتَ أَنْ لاَ تَكُونَ اعْتَذَرْتَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَا اعْتَذَرَ إِلَيْهِ المُتَخَلِّفُونَ، قَدْ كَانَ كَافِيَكَ ذَنْبَكَ اسْتِغْفَارُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكَ، فَوَاللَّهِ مَا زَالُوا يُؤَنِّبُونِي حَتَّى أَرَدْتُ أَنْ أَرْجِعَ فَأُكَذِّبَ نَفْسِي، ثُمَّ قُلْتُ لَهُمْ: هَلْ لَقِيَ هَذَا مَعِي أَحَدٌ؟ قَالُوا: نَعَمْ، رَجُلاَنِ، قَالاَ مِثْلَ مَا قُلْتَ، فَقِيلَ لَهُمَا مِثْلُ مَا قِيلَ لَكَ، فَقُلْتُ: مَنْ هُمَا؟ قَالُوا: مُرَارَةُ بْنُ الرَّبِيعِ العَمْرِيُّ، وَهِلاَلُ بْنُ أُمَيَّةَ الوَاقِفِيُّ، فَذَكَرُوا لِي رَجُلَيْنِ صَالِحَيْنِ، قَدْ شَهِدَا بَدْرًا، فِيهِمَا أُسْوَةٌ، فَمَضَيْتُ حِينَ ذَكَرُوهُمَا لِي، وَنَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُسْلِمِينَ عَنْ كَلاَمِنَا أَيُّهَا الثَّلاَثَةُ مِنْ بَيْنِ مَنْ تَخَلَّفَ عَنْهُ، فَاجْتَنَبَنَا النَّاسُ، وَتَغَيَّرُوا لَنَا حَتَّى تَنَكَّرَتْ فِي نَفْسِي الأَرْضُ فَمَا هِيَ الَّتِي أَعْرِفُ، فَلَبِثْنَا عَلَى ذَلِكَ خَمْسِينَ لَيْلَةً، فَأَمَّا صَاحِبَايَ فَاسْتَكَانَا وَقَعَدَا فِي بُيُوتِهِمَا يَبْكِيَانِ، وَأَمَّا أَنَا، فَكُنْتُ أَشَبَّ القَوْمِ وَأَجْلَدَهُمْ فَكُنْتُ أَخْرُجُ فَأَشْهَدُ الصَّلاَةَ مَعَ المُسْلِمِينَ، وَأَطُوفُ فِي الأَسْوَاقِ وَلاَ يُكَلِّمُنِي أَحَدٌ، وَآتِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأُسَلِّمُ عَلَيْهِ وَهُوَ فِي مَجْلِسِهِ بَعْدَ الصَّلاَةِ، فَأَقُولُ فِي نَفْسِي: هَلْ حَرَّكَ شَفَتَيْهِ بِرَدِّ السَّلاَمِ عَلَيَّ أَمْ لاَ؟ ثُمَّ أُصَلِّي قَرِيبًا مِنْهُ، فَأُسَارِقُهُ النَّظَرَ، فَإِذَا أَقْبَلْتُ عَلَى صَلاَتِي أَقْبَلَ إِلَيَّ، وَإِذَا التَفَتُّ نَحْوَهُ أَعْرَضَ عَنِّي، حَتَّى إِذَا طَالَ عَلَيَّ ذَلِكَ مِنْ جَفْوَةِ النَّاسِ، مَشَيْتُ حَتَّى تَسَوَّرْتُ جِدَارَ حَائِطِ أَبِي قَتَادَةَ، وَهُوَ ابْنُ عَمِّي وَأَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ، فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ، فَوَاللَّهِ مَا رَدَّ عَلَيَّ السَّلاَمَ، فَقُلْتُ: يَا أَبَا قَتَادَةَ، أَنْشُدُكَ بِاللَّهِ هَلْ تَعْلَمُنِي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ؟ فَسَكَتَ، فَعُدْتُ لَهُ فَنَشَدْتُهُ فَسَكَتَ، فَعُدْتُ لَهُ فَنَشَدْتُهُ، فَقَالَ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، فَفَاضَتْ عَيْنَايَ، وَتَوَلَّيْتُ حَتَّى تَسَوَّرْتُ الجِدَارَ، قَالَ: فَبَيْنَا أَنَا أَمْشِي بِسُوقِ المَدِينَةِ، إِذَا نَبَطِيٌّ مِنْ أَنْبَاطِ أَهْلِ الشَّأْمِ، مِمَّنْ قَدِمَ بِالطَّعَامِ يَبِيعُهُ بِالْمَدِينَةِ، يَقُولُ: مَنْ يَدُلُّ عَلَى كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ، فَطَفِقَ النَّاسُ يُشِيرُونَ لَهُ، حَتَّى إِذَا جَاءَنِي دَفَعَ إِلَيَّ كِتَابًا مِنْ مَلِكِ غَسَّانَ، فَإِذَا فِيهِ: أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّهُ قَدْ بَلَغَنِي أَنَّ صَاحِبَكَ قَدْ جَفَاكَ وَلَمْ يَجْعَلْكَ اللَّهُ بِدَارِ هَوَانٍ، وَلاَ مَضْيَعَةٍ، فَالحَقْ بِنَا نُوَاسِكَ، فَقُلْتُ لَمَّا قَرَأْتُهَا: وَهَذَا أَيْضًا مِنَ البَلاَءِ، فَتَيَمَّمْتُ بِهَا التَّنُّورَ فَسَجَرْتُهُ بِهَا، حَتَّى إِذَا مَضَتْ أَرْبَعُونَ لَيْلَةً مِنَ الخَمْسِينَ، إِذَا رَسُولُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِينِي، فَقَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُكَ أَنْ تَعْتَزِلَ امْرَأَتَكَ، فَقُلْتُ: أُطَلِّقُهَا؟ أَمْ مَاذَا أَفْعَلُ؟ قَالَ: لاَ، بَلِ اعْتَزِلْهَا وَلاَ تَقْرَبْهَا، وَأَرْسَلَ إِلَى صَاحِبَيَّ مِثْلَ ذَلِكَ، فَقُلْتُ لِامْرَأَتِي: الحَقِي بِأَهْلِكِ، فَتَكُونِي عِنْدَهُمْ، حَتَّى يَقْضِيَ اللَّهُ فِي هَذَا الأَمْرِ، قَالَ كَعْبٌ: فَجَاءَتِ امْرَأَةُ هِلاَلِ بْنِ أُمَيَّةَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ: إِنَّ هِلاَلَ بْنَ أُمَيَّةَ شَيْخٌ ضَائِعٌ، لَيْسَ لَهُ خَادِمٌ، فَهَلْ تَكْرَهُ أَنْ أَخْدُمَهُ؟ قَالَ: «لاَ، وَلَكِنْ لاَ يَقْرَبْكِ» . قَالَتْ: إِنَّهُ وَاللَّهِ مَا بِهِ حَرَكَةٌ إِلَى شَيْءٍ، وَاللَّهِ مَا زَالَ يَبْكِي مُنْذُ كَانَ مِنْ أَمْرِهِ، مَا كَانَ إِلَى يَوْمِهِ هَذَا، فَقَالَ لِي بَعْضُ أَهْلِي: لَوِ اسْتَأْذَنْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي امْرَأَتِكَ كَمَا أَذِنَ لِامْرَأَةِ هِلاَلِ بْنِ أُمَيَّةَ أَنْ تَخْدُمَهُ؟ فَقُلْتُ: وَاللَّهِ لاَ أَسْتَأْذِنُ فِيهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَا يُدْرِينِي مَا يَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اسْتَأْذَنْتُهُ فِيهَا، وَأَنَا رَجُلٌ شَابٌّ؟ فَلَبِثْتُ بَعْدَ ذَلِكَ عَشْرَ لَيَالٍ، حَتَّى كَمَلَتْ لَنَا خَمْسُونَ لَيْلَةً مِنْ حِينَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ كَلاَمِنَا، فَلَمَّا صَلَّيْتُ صَلاَةَ الفَجْرِ صُبْحَ خَمْسِينَ لَيْلَةً، وَأَنَا عَلَى ظَهْرِ بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِنَا، فَبَيْنَا أَنَا جَالِسٌ عَلَى الحَالِ الَّتِي ذَكَرَ اللَّهُ، قَدْ ضَاقَتْ عَلَيَّ نَفْسِي، وَضَاقَتْ عَلَيَّ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ، سَمِعْتُ صَوْتَ صَارِخٍ، أَوْفَى عَلَى جَبَلِ سَلْعٍ بِأَعْلَى صَوْتِهِ: يَا كَعْبُ بْنَ مَالِكٍ أَبْشِرْ، قَالَ: فَخَرَرْتُ سَاجِدًا، وَعَرَفْتُ أَنْ قَدْ جَاءَ فَرَجٌ، وَآذَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِتَوْبَةِ اللَّهِ عَلَيْنَا حِينَ صَلَّى صَلاَةَ الفَجْرِ، فَذَهَبَ النَّاسُ يُبَشِّرُونَنَا، وَذَهَبَ قِبَلَ صَاحِبَيَّ مُبَشِّرُونَ، وَرَكَضَ إِلَيَّ رَجُلٌ فَرَسًا، وَسَعَى سَاعٍ مِنْ أَسْلَمَ، فَأَوْفَى عَلَى الجَبَلِ، وَكَانَ الصَّوْتُ أَسْرَعَ مِنَ الفَرَسِ، فَلَمَّا جَاءَنِي الَّذِي سَمِعْتُ صَوْتَهُ يُبَشِّرُنِي، نَزَعْتُ لَهُ ثَوْبَيَّ، فَكَسَوْتُهُ إِيَّاهُمَا، بِبُشْرَاهُ وَاللَّهِ مَا أَمْلِكُ غَيْرَهُمَا يَوْمَئِذٍ، وَاسْتَعَرْتُ ثَوْبَيْنِ فَلَبِسْتُهُمَا، وَانْطَلَقْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَيَتَلَقَّانِي النَّاسُ فَوْجًا فَوْجًا، يُهَنُّونِي بِالتَّوْبَةِ، يَقُولُونَ: لِتَهْنِكَ تَوْبَةُ اللَّهِ عَلَيْكَ، قَالَ كَعْبٌ: حَتَّى دَخَلْتُ المَسْجِدَ، فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ حَوْلَهُ النَّاسُ، فَقَامَ إِلَيَّ طَلْحَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ يُهَرْوِلُ حَتَّى صَافَحَنِي وَهَنَّانِي، وَاللَّهِ مَا قَامَ إِلَيَّ رَجُلٌ مِنَ المُهَاجِرِينَ غَيْرَهُ، وَلاَ أَنْسَاهَا لِطَلْحَةَ، قَالَ كَعْبٌ: فَلَمَّا سَلَّمْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ يَبْرُقُ وَجْهُهُ مِنَ السُّرُورِ: «أَبْشِرْ بِخَيْرِ  يَوْمٍ مَرَّ عَلَيْكَ مُنْذُ وَلَدَتْكَ أُمُّكَ» ، قَالَ: قُلْتُ: أَمِنْ عِنْدِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَمْ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ؟ قَالَ: «لاَ، بَلْ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ» . وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سُرَّ اسْتَنَارَ وَجْهُهُ، حَتَّى كَأَنَّهُ قِطْعَةُ قَمَرٍ، وَكُنَّا نَعْرِفُ ذَلِكَ مِنْهُ، فَلَمَّا جَلَسْتُ بَيْنَ يَدَيْهِ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ مِنْ تَوْبَتِي أَنْ أَنْخَلِعَ مِنْ مَالِي صَدَقَةً إِلَى اللَّهِ وَإِلَى رَسُولِ اللَّهِ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَمْسِكْ عَلَيْكَ بَعْضَ مَالِكَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» . قُلْتُ: فَإِنِّي أُمْسِكُ سَهْمِي الَّذِي بِخَيْبَرَ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ إِنَّمَا نَجَّانِي بِالصِّدْقِ، وَإِنَّ مِنْ تَوْبَتِي أَنْ لاَ أُحَدِّثَ إِلَّا صِدْقًا، مَا بَقِيتُ. فَوَاللَّهِ مَا أَعْلَمُ أَحَدًا مِنَ المُسْلِمِينَ أَبْلاَهُ اللَّهُ فِي صِدْقِ الحَدِيثِ مُنْذُ ذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَحْسَنَ مِمَّا أَبْلاَنِي، مَا تَعَمَّدْتُ مُنْذُ ذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى يَوْمِي هَذَا كَذِبًا، وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ يَحْفَظَنِي اللَّهُ فِيمَا بَقِيتُ، وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالمُهَاجِرِينَ وَالأَنْصَارِ} [التوبة: 117] إِلَى قَوْلِهِ {وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ} [التوبة: 119] فَوَاللَّهِ مَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ نِعْمَةٍ قَطُّ بَعْدَ أَنْ هَدَانِي لِلْإِسْلاَمِ، أَعْظَمَ فِي نَفْسِي مِنْ صِدْقِي لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنْ لاَ أَكُونَ كَذَبْتُهُ، فَأَهْلِكَ كَمَا هَلَكَ الَّذِينَ كَذَبُوا، فَإِنَّ اللَّهَ قَالَ لِلَّذِينَ كَذَبُوا - حِينَ أَنْزَلَ الوَحْيَ - شَرَّ مَا قَالَ لِأَحَدٍ، فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: {سَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ إِذَا انْقَلَبْتُمْ} [التوبة: 95] إِلَى قَوْلِهِ {فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَرْضَى عَنِ القَوْمِ الفَاسِقِينَ} [التوبة: 96] ، قَالَ كَعْبٌ: وَكُنَّا تَخَلَّفْنَا أَيُّهَا الثَّلاَثَةُ عَنْ أَمْرِ أُولَئِكَ الَّذِينَ قَبِلَ مِنْهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ حَلَفُوا لَهُ، فَبَايَعَهُمْ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمْ، وَأَرْجَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمْرَنَا حَتَّى قَضَى اللَّهُ فِيهِ، فَبِذَلِكَ قَالَ اللَّهُ: {وَعَلَى الثَّلاَثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا} [التوبة: 118] . وَلَيْسَ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ مِمَّا خُلِّفْنَا عَنِ الغَزْوِ، إِنَّمَا هُوَ تَخْلِيفُهُ إِيَّانَا، وَإِرْجَاؤُهُ أَمْرَنَا، عَمَّنْ حَلَفَ لَهُ وَاعْتَذَرَ إِلَيْهِ فَقَبِلَ مِنْهُ
(21) Dari Abdulah bin Ka’ab bin Malik, dia di antara anak Ka’ab yang menjadi penuntun Ka’ab ketika telah buta. Ia berkata, “Aku mendengar Ka’ab bin Malik bercerita tentang kisah Tabuk ketika ia tidak ikut berperang, ia berkata, “Aku tidaklah meninggalkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di peperangan apa pun selain perang Tabuk, namun aku pernah tidak ikut pula perang Badar, tetapi Beliau tidak mencela orang yang meninggalkannya, hal itu karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar untuk mendatangi kafilah (dagang) Quraisy, namun akhirnya Allah mengumpulkan mereka dengan musuhnya tanpa perjanjian terlebih dahulu. Aku hadir bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di malam ‘Aqabah ketika Beliau membai’at kami untuk membela Islam, dan aku tidak suka jika ada pengganti (yang melebihi) malam ‘Aqabah, yaitu perang Badar (menurutnya malam ‘Aqabah lebih afdhal daripada perang Badar), meskipun perang Badar lebih dikenang oleh manusia daripada malam ‘Aqabah. Di antara kisah saya, bahwa saya tidaklah pernah lebih kuat dan lebih lapang daripada keadaan ketika saya meninggalkan perang itu. Demi Allah, sesungguhnya sebelum itu tidak ada dua kendaraan sama sekali, hingga saya berhasil mengumpulkan keduanya pada perang itu. Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa Beliau tidaklah hendak berperang kecuali menampakkan yang lain, termasuk dalam peperangan itu. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berangkat di waktu yang sangat panas, menuju perjalanan yang jauh, padang pasir, dan musuh yang banyak. Maka Beliau menerangkan kepada kaum muslimin hal yang sesungguhnya agar mereka mempersiapkan perlengkapan untuk perang itu dan memberitahukan arah mana yang hendak Beliau tuju. Kaum muslimin yang bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam jumlahnya banyak, dan mereka tidak terdaftar dalam buku induk. Ka’ab berkata, “Oleh karena itu, tidak ada yang ingin absen kecuali dia menduga bahwa yang demikian akan tersembunyi bagi Beliau, selama tidak turun wahyu Allah terhadapnya.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pergi berperang ketika buah-buah matang dan pohonnya rindang, maka bersiap-siaplah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan kaum muslimin yang bersamanya. Aku pun pergi untuk ikut bersiap-siap bersama mereka, aku pulang, namun tidak melakukan apa-apa, maka aku berkata dalam hati, “Saya mampu melakukannya.” Hal itu berlangsung terus hingga mereka semakin siap, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan kaum muslimin berangkat sedangkan saya belum mempersiapkan apa-apa,” aku pun berkata, “Saya akan bersap-siap setelahnya sehari atau dua hari kemudian menyusul mereka.” Maka saya pergi setelah mereka jauh untuk bersiap-siap, saya pulang namun tidak melakukan apa-apa. Saya pergi lagi dan kembali namun belum melakukan apa-apa, dan terus menerus seperti itu sampai mereka semakin cepat dan (saya) ketinggalan perang. Saya ingin berangkat dan menyusul mereka. Duhai, andai saja saya melakukannya, namun tidak ditaqdirkan buat saya, sehingga ketika saya keluar kepada orang-orang setelah kepergian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka saya berkeliling di antara mereka, saya pun bersedih karena tidak melihat orang selain orang yang tercela karena kemunafikannya atau orang yang diberi uzur oleh Allah dari kalangan kaum dhu’afa. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menyebutku sampai tiba di Tabuk. Beliau pun bersabda ketika duduk di tengah-tengah manusia di Tabuk, “Apa yang dilakukan Ka’ab?” Maka seorang dari Bani Salamah berkata, “Wahai Rasulullah, ia tertahan oleh kedua burdahnya dan melihat sisi tubuhnya.” Mu’adz bin Jabal berkata, “Buruk sekali apa yang kamu katakan. Demi Allah, wahai Rasulullah, kami tidak mengetahui tentangnya selain kebaikan.” Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam diam. Ketika Beliau dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Beliau melihat seorang yang berpakaian serba putih yang digerak-gerakkan oleh fatamorgana. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkaukah Abu Khaitsamah?” Ternyata betul Abu Khaitsamah Al Anshariy; seorang yang bersedekah satu sha’ kurma kemudian dicela oleh orang-orang munafik.
Ka’ab bin Malik berkata, “Ketika sampai berita kepadaku, bahwa Beliau sedang kembali pulang, maka aku pun bersedih. Aku  mulai berpikir tentang berdusta dan berkata (dalam hati), “Bagaimana caranya agar aku dapat lolos dari kemarahan Beliau besok? Aku pun meminta bantuan untuk itu kepada keluargaku yang berpengalaman. Namun ketika disebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelang tiba, maka hilanglah (pikiran) batil dariku, dan saya mengetahui bahwa saya tidak dapat lolos selamanya dengan sesuatu yang di sana terdapat dusta, maka saya bertekad untuk jujur. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian datang, dan Beliau biasanya apabila pulang dari safar, pergi ke masjid, lalu shalat di sana dua rakaat, kemudian duduk di hadapan manusia. Ketika Beliau sedang seperti itu, maka orang-orang yang tidak ikut berperang datang, dan mulai mengemukakan uzurnya serta bersumpah. Jumlah mereka ada delapan puluh orang lebih, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menerima lahiriah mereka, membai’at mereka, dan memintakan ampunan untuk mereka, serta menyerahkan rahasia mereka kepada Allah. Aku pun datang dan mengucapkan salam kepadanya, maka Beliau tersenyum dengan senyuman orang yang marah. Beliau bersabda, “Kemari!” Maka aku pun datang sambil berjalan dan duduk di hadapannya, dan Beliau bersabda kepadaku, “Apa yang membuatmu tertinggal?” Bukankah kamu telah membeli kendaraanmu?” Aku menjawab, “Ya. Sesungguhnya aku demi Allah, jika aku duduk pada selain dirimu di antara penduduk dunia, aku yakin dapat lolos dari kemarahannya dengan suatu alasan. Aku telah diberi kelebihan berdebat, akan tetapi demi Allah, aku tahu bahwa jika aku menyampaikan kata-kata dusta pada hari ini kepadamu yang membuatmu ridha dengannya, tentu Allah akan menjadikan engkau marah kepadaku. Namun jika aku menyampaikan kata-kata jujur, maka engkau akan marah kepadaku. Sesungguhnya aku berharap ampunan dari Allah dengan kejujuran itu. Demi Allah, aku tidak memiliki uzur. Demi Allah, aku tidaklah lebih kuat dan lebih lapang daripada keadaan ketika aku meninggalkanmu.” Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Adapun orang ini, maka dia benar. Bangunlah sampai Allah memberikan keputusan terhadapmu.” Aku pun berdiri dan beberapa orang Bani Salamah bangkit mengikutiku. Mereka berkata kepadaku, “Demi Allah, kami tidak mengetahui kamu melakukan dosa sebelum ini, ternyata kamu tidak berani mengajukan uzur kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam seperti uzur yang diajukan oleh orang-orang yang tertinggal lainnya (kaum munafik). Padahal cukup bagi dosamu permohonan ampunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untukmu.” Demi Allah, mereka senantiasa mencelaku sampai aku ingin kembali dan berkata dusta. Lalu aku berkata kepada mereka, “Apakah ada orang yang mengalami seperti diriku?” Mereka menjawab, “Ya. Ada dua orang yang berkata seperti yang kamu ucapkan, kemudian dikatakan kepada keduanya seperti yang dikatakan kepadamu.” Aku pun berkata, “Siapa keduanya?” Mereka menjawab, “Muraarah bin Ar Rabii’ Al ‘Amriy dan Hilal bin Umayyah Al Waaqifiy.” Ternyata mereka menyebutkan kepadaku dua laki-laki saleh yang ikut perang Badar, di mana pada keduanya ada keteladanan. Maka aku pun tetap berjalan, ketika mereka menyebutkan kedua orang itu kepadaku. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga dari sekian banyak orang yang tertinggal dari perang.” Manusia pun menjauhi kami dan berubah sikap kepada kami, sehingga berubah pula bumi dalam diriku, tidak seperti bumi yang aku kenal. kami tetap seperti itu selama lima puluh malam. Sedangkan kedua teman saya, mereka merasa hina dan duduk di rumahnya sambil menangis. Adapun saya, maka saya adalah orang yang paling muda di antara mereka dan paling kuat. Aku keluar, ikut shalat bersama kaum muslimin, dan berkeliling di pasar, namun tidak ada yang mau berbicara denganku. Aku mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan salam kepadanya, sedangkan Beliau berada di tempat duduknya setelah shalat. Aku berkata dalam hati, “Apakah Beliau akan menggerakkan bibirnya untuk menjawab salamku atau tidak? Lalu saya shalat dekat dengan Beliau, sambil mencuri pandang kepada Beliau. Ketika saya memasuki shalat, maka Beliau memandangku. Namun ketika aku menoleh ke arahnya, maka Beliau berpaling dariku. Sehingga ketika ketidakramahan dari manusia berlangsung lama padaku, aku pun berjalan dan menaiki tembok Abu Qatadah, dia adalah putera pamanku dan manusia yang paling saya cintai. Aku pun mengucapkan salam kepadanya. Demi Allah, dia tidak menjawab salamku. Aku pun berkata, “Wahai Abu Qatadah, saya bertanya kepadamu dengan nama Allah, tahukah kamu bahwa aku cinta kepada Allah dan Rasul-Nya? Ia pun diam, dan aku mengulangi lagi dan bertanya kepadanya sambil bersumpah, namun ia tetap diam.” Ia pun berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Maka mengalirlah kedua mataku dan aku pun berpaling hingga aku memanjat tembok. Ketika saya berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba ada seorang petani dari petani penduduk Syam yang datang membawa makanan yang ia jual di Madinah, ia berkata, “Siapa yang mau menunjukkanku kepada Ka’ab bin Malik?” Orang-orang segera memberi isyarat kepadanya (yakni kepadaku). Ketika ia datang kepadaku, ia menyerahkan surat dari raja Ghassan, dan ternyata isinya, “Amma ba’du, sesungguhnya telah sampai berita kepadaku, bahwa kawanmu telah bersikap kasar kepadamu, dan Allah tentu tidak akan menjadikanmu berada di negeri hina, juga tidak tersia-sia. Maka bergabunglah dengan kami, kami akan menolongmu.” Setelah membacanya, aku berkata, “Ini termasuk cobaan.” Aku pun pergi ke dapur, lalu aku bakar surat itu dengannya. Hingga ketika telah berlalu 40 malam dari 50 malam, tiba-tiba utusan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang kepadaku dan berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kamu menjauhi istrimu.” Aku pun berkata, “Apakah aku talak? Atau apa yang harus aku lakukan?” Ia berkata, “Jauhi saja dan jangan dekati.” Beliau juga mengutus kepada kedua kawanku seperti itu. Aku pun berkata kepada istriku, “Kembalilah kepada keluargamu sehingga kamu tinggal bersama mereka sampai Allah menyelesaikan masalah ini.” Ka’ab berkata, “Lalu istri Hilal bin Umayyah datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Hilal bin Umayyah adalah orang yang sudah tua lagi tidak punya apa-apa, ia tidak punya lagi pelayannya, apakah engkau tidak suka kalau aku melayaninya?” Beliau menjawab, “Bukan begitu, tetapi jangan sampai ia mendekatimu.” Istrinya berkata, “Demi Allah, sesungguhnya ia tidak pernah bergerak kepada sesuatu. Demi Allah ia senantiasa menangis sejak hari itu hingga hari ini.” Lalu sebagian keluargaku berkata kepadaku, “Kalau sekiranya engkau meminta izin kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang istrimu sebagaimana Beliau mengizinkan kepada istri Hilal bin Umayyah untuk melayaninya?” Aku pun berkata, “Demi Allah, aku tidak akan meminta izin kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan aku tidak tahu apa yang dikatakan nanti oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika aku meminta izin kepadanya, sedangkan saya seorang pemuda?” Maka setelah itu, saya tetap seperti itu sampai sepuluh malam sehingga genaplah lima puluh malam dari sejak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang berbicara dengan kami. Ketika aku shalat Subuh pada malam yang kelima puluh, sedangkan aku berada di salah satu atap rumah kami. Ketika aku sedang duduk dalam keadaan yang disebutkan Allah itu, di mana diriku telah terasa sempit, dan bumi yang luas pun menjadi sempit bagiku, aku pun mendengar suara keras orang yang berteriak yang muncul dari atas gunung Sala’, “Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah.” Maka aku pun tersungkur sujud, dan aku mengetahui bahwa kelegaan telah datang, kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberitahukan tobat dari Allah kepada kami ketika telah selesai shalat Subuh. Lalu orang-orang datang memberi kabar gembira kepada kami, dan datang pula orang-orang memberi kabar gembira kepada dua sahabatku. Ada seseorang yang memacu kudanya dengan cepat kepadaku, dan ada lagi orang yang berlari kencang menujuku dari Bani Aslam, dia naik ke atas gunung, dan suara itu lebih cepat daripada kuda. Ketika telah datang kepadaku orang yang aku dengar suaranya memberi kabar gembira kepadaku, aku pun melepas kedua pakaianku dan memakaikan kepadanya karena kabar gembiranya. Demi Allah, padahal ketika itu aku tidak memiliki selainnya. Aku pun meminjam dua baju, dan aku pakai. Aku pun pergi kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu orang-orang mendatangiku secara berbondong-bondong, mereka mengucapkan selamat atau tobat saya. Mereka berkata, “Semoga tobat Allah membahagiakanmu.” Aku pun masuk ke masjid, tiba-tiba Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang duduk dengan dikerumuni manusia. Lalu Thalhah bin Ubaidillah berjalan cepat, menyalamiku dan mengucapkan selamat kepadaku. Demi Allah, tidak ada seorang pun dari kaum muhajirin yang bangkit kepadaku selainnya, dan aku tidak pernah melupakannya untuk Thalhah. Ka’ab melanjutkan kata-katanya, “Ketika aku mengucapkan salam kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadaku dalam keadaan mukanya berseri-seri karena senang, “Bergembiralah dengan hari terbaik yang pernah melewati hidupmu sejak kamu dilahirkan oleh ibumu.” Aku pun bertanya, “Apakah dari sisimu wahai Rasulullah ataukah dari sisi Allah?” Beliau menjawab, “Tidak, bahkan dari sisi Allah.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila senang, mukanya berseri-seri sehingga seperti satu potong rembulan, dan kami mengenali yang demikian dari Beliau. Ketika aku duduk di depannya, aku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya di antara tobatku adalah saya akan mengeluarkan sedekah kepada Allah dan kepada Rasulullah dari harta saya.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Tahanlah sebagian hartamu, yang demikian lebih baik bagimu.” Aku pun berkata, “Sesungguhnya saya menahan bagian saya yang ada di Khaibar.” Saya juga berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah menyelamatkanku karena kejujuran, dan termasuk (kesempurnaan) tobat saya adalah saya tidak berbicara kecuali benar selama aku masih hidup.” Demi Allah, aku tidak mengetahui seorang pun dari kaum muslimin yang diberi nikmat oleh Allah tentang kejujuran bicara sejak aku sebutkan hal itu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang lebih baik dari nikmat yang diberikan-Nya kepadaku. Sejak aku sebutkan hal itu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam aku tidak pernah sengaja berdusta sampai hari ini. Saya pun berharap kepada Allah agar Dia menjaga saya selama saya masih hidup, dan Allah pun menurunkan ayat kepada Rasul-Nya, “Laqad taaballahu ‘alan nabiyyi wal muhaajiriin…dst. Sampai ayat, “Wa kuunuu ma’ash shaadiqiin.” Demi Allah, Allah tidaklah memberi nikmat kepadaku suatu nikmat yang lebih besar setelah aku ditunjuki-Nya kepada Islam daripada kejujuranku kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, di mana aku tidak berdusta kepadanya, yang membuatku binasa sebagaimana orang-orang yang berdusta binasa. Sesungguhnya Allah berfirman kepada mereka yang berdusta ketika Dia menurunkan wahyu dengan seburuk-buruk ucapan yang difirmankan-Nya kepada seseorang, “Sayahlifuuna billahi lakum idzanqalabtum ilaihim…dst. Sampai Fa innallaha laa yardhaa ‘anil qaumil faasiqiin.” Ka’ab berkata, “Kami bertiga ditangguhkan dari perkara orang-orang yang telah diterima oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika mereka berani bersumpah kepada Beliau. Beliau membai’at mereka, memintakan ampunan dan menangguhkan urusan kami sehingga Allah memutuskannya. Oleh karena itulah, Allah berfirman, “Wa ‘alats tsalaatsatilladziina khullifuu…dst.” Dan yang disebutkan Allah itu bukan ketertinggalan kami dari peperangan, tetapi penangguhan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada kami dan pengakhiran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap urusan kami dari orang-orang yang telah bersumpah serta mengajukan uzurnya kepada Beliau dan Beliau telah menerimanya.” (HR. Bukhari dan Musim. Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk perang Tabuk pada hari Kamis, dan Beliau senang keluar (bepergian) pada hari Kamis.” Sedangkan dalam riwayat lain juga disebutkan, “Dan Beliau tidak pulang dari safarnya kecuali siang hari di waktu Dhuha, dan ketika datang, maka Beliau lebih dulu masuk ke masjid, lalu shalat dua rakaat di sana kemudian duduk.”)
Fawaid:
1. Keutamaan jujur.
2. Menghukumi manusia berdasarkan lahiriah.
3. Orang yang kuat dalam agama dibebani melebihi orang yang lemah.
4. Bolehnya memutuskan hubungan dengan pelaku dosa melebihi tiga hari jika jelas faedahnya dan tidak menimbulkan mafsadat.
5. Anjuran bersedekah ketika bertaubat.
6. Sikap komandan perang menyembunyikan maksudnya ketika hendak berperang.
7. Bolehnya merasa sedih terhadap kebaikan yang luput.
8. Perintah membela saudara muslim yang dighibahi.
9. Anjuran melakukan shalat dua rakaat sepulang dari safar di masjid kampungnya.
10. Mencuri pandangan ketika shalat tidak membatalkan shalat.
11. Wajibnya mendahulukan ketaatan dan kecintaan kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
12. Bolehnya membakar lembaran yang memuat nama Allah untuk maslahat.
13. Anjuran menggunakan kata kinayah (sindiran) untuk kata-kata yang berkenaan dengan bersenang-senang dengan wanita.
14. Anjuran menyampaikan kabar gembira kepada seorang muslim.
15. Anjuran memuliakan orang yang datang membawa kabar gembira.
16. Bolehnya meminjam pakaian untuk dipakai.
17. Anjuran berjabat tangan ketika bertemu.
18. Anjuran sujud syukur ketika memperoleh nikmat atau terindar dari bahaya.
19. Ahli Ilmu berkata, “Berdiri untuk orang lain ada tiga macam:
Pertama, qiyam ilar rajul (berdiri kepada seseorang).
Kedua, qiyam lir rajul (berdiri karena seseorang).
Ketiga, qiyam ‘alar rajul (berdiri di atas orang lain)
Untuk yang pertama tidak mengapa, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdirilah kepada (menemui) pemimpin kalian.” Yakni Sa’ad bin Mu’adz.
Untuk yang kedua, maksudnya berdiri karena ada seorang yang masuk. Jika orang-orang menganggapnya sebagai kebiasaan, dimana jika seseorang masuk dan tidak ada yang berdiri, maka hal itu dipandang sikap merendahkannya, maka hal ini tidak mengapa, namun lebih utama ditinggalkan.
Sedangkan yang ketiga, yaitu seorang dalam keadaan duduk, lalu ada seorang yang berdiri sebagai pemuliaan dan penghormatan untuknya, maka hal ini dilarang.
Adapun jika seseorang berdiri atas orang yang duduk untuk melindunginya atau merendahkan musuh, maka tidak mengapa (Lihat Syarh Riyadhush Shalihin karya Syaikh Ibnu Utsaimin 1/148-149).
Bersambung…
Marwan bin Musa
Maraji': Syarh Riyadh Ash Shalihin (Syaikh Faishal bin Abdul Aziz An Najdiy), Syarh Riyadh Ash Shalihin (Muhammad bin Shalih Al Utsaimin),  Bahjatun Nazhirin (Salim bin ’Ied Al Hilaliy), Al Maktabatusy Syamilah versi 3.45, dll.

Sebab-Sebab Keselamatan Pada Hari Kiamat

بسم الله الرحمن الرحيم
Hasil gambar untuk ‫أسباب النجاة يوم القيامة‬‎
Sebab-Sebab Keselamatan Pada Hari Kiamat
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba'du:
Berikut pembahasan tentang sebab-sebab keselamatan pada hari Kiamat yang kami simpulkan dari ceramah Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr dengan judul Asbabun Najah Yaumal Qiyamah, semoga Allah menjadikan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma amin.
Pengantar
Imam Ahmad meriwayatkan dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Umar pernah lewat di hadapanku dan mengucapkan salam, namun aku tidak mendengarnya,” maka Umar pergi menemui Abu Bakar di masa pemerintahannya dan berkata, “Tahukah engkau apa yang dilakukan Utsman? Aku mengucapkan salam kepadanya, namun ia tidak menjawabnya.” Maka Abu Bakar dan Umar pun pergi menemui Utsman. Ketika sampai, Abu Bakar berkata kepada Utsman, “Sesungguhnya saudaramu Umar telah memberikan salamnya kepadamu, tetapi engkau tidak menjawab salamnya, apa sebabnya?” Utsman menjawab, “Aku tidak mendengarnya.” Maka Abu Bakar berkata, “Utsman benar.” Selanjutnya Abu Bakar berkata kepada Utsman, “Sepertinya engkau disibukkan oleh masalah yang besar.” Utsman menjawab, “Ya. Sesungguhnya aku sedang memikirkan bagaimana cara memperoleh keselamatan di hari itu (hari Kiamat). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, namun aku belum sempat menanyakan bagaimana cara memperoleh keselamatan pada hari itu?” Abu Bakar berkata, “Aku telah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu.” Utsman menjawab, “Biarlah ayah dan ibuku menjadi penebus dirimu, sesungguhnya engkau adalah orang yang paling berhak menanyakan hal itu, lalu apa sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadamu?” Abu Bakar menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَبِلَ مِنِّي الْكَلِمَةَ الَّتِي عَرَضْتُ عَلَى عَمِّي، فَرَدَّهَا عَلَيَّ، فَهِيَ لَهُ نَجَاةٌ
“Barang siapa yang menerima kalimat (tauhid) yang pernah aku tawarkan kepada pamanku yang menolak kalimat itu, maka ia akan memperoleh keselamatan (pada hari Kiamat).” (Hadits ini marfu’nya dinyatakan shahih karena syahawidnya oleh pentahqiq Musnad Ahmad 1/201 cet. Ar Risalah)
Hadits di atas menunjukkan perhatian besar para sahabat terhadap keselamatan diri mereka pada hari Kiamat. Apalagi para pelaku kisah pada hadits di atas adalah tiga orang sahabat terbaik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah dijamin masuk surga oleh Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meskipun begitu, mereka memiliki rasa kekhawatiran yang tinggi terhadap keselamatan diri mereka pada hari Kiamat, sehingga Utsman radhiyallahu ‘anhu sampai tidak mendengar ucapan salam yang disampaikan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu. Adapun kita, terkadang disibukkan oleh suatu masalah sehingga tidak sempat memperhatikan sapaan orang lain, tetapi masalah yang kita pikirkan hanya masalah dunia.
Sebab-Sebab Keselamatan Pada Hari Kiamat
1. Mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya.
Dalil terhadap sebab ini telah disebutkan dalam kisah di atas, yaitu pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang menerima kalimat (tauhid) yang pernah aku tawarkan kepada pamanku yang menolak kalimat itu, maka ia akan memperoleh keselamatan (pada hari Kiamat).”
Kalimat tauhid di sini adalah Laailaahaillallah, dimana seseorang tidak akan selamat pada hari Kiamat kecuali dengan kalimat itu. Akan tetapi, kalimat ini tidak sekedar diucapkan tanpa dipahami maknanya dan tanpa diamalkan konsekwensinya. Karena Laailaahaillallah akan bermanfaat bagi orang yang mengucapkannya ketika ia mengucapkannya dalam keadaan mengetahui maknanya, mengamalkan konsekwensinya, dan jujur dalam mengucapkannya dari hatinya. Karena dengan mengetahui maknanya, maka dia terlepas dari jalannya orang-orang Nasrani, dan dengan mengamalkan konsekwensinya dia terlepas dari jalannya orang-orang Yahudi, dan dengan jujur dalam mengucapkannya dia terlepas dari jalannya orang-orang munafik.
Nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah menunjukkan, bahwa Laailaahaillallah akan bermanfaat bagi seseorang ketika terpenuhi syarat-syaratnya. Syarat-syaratnya adalah:
a. Ilmu(mengetahui makna Laailaahaillah)
Makna Laailaahaillallah adalah tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah.
b. Yaqin(yakin; tidak ragu-ragu)
c. Shidq(jujur; tidak berdusta)
d. Mahabbah(cinta; tidak membenci)
e. Inqiyad(tunduk mengamalkan konsekwensinya)
Konsekwensinya adalah meniadakan sesembahan selain Allah dan menetapkan bahwa ibadah hanya untuk Allah saja.
f. Qabul(menerima; tidak menolaknya)
g. Ikhlas(karena Allah; bukan karena riya)
2. Beribadah sesuai sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata, “As Sunnah itu seperti perahu Nabi Nuh. Barang siapa yang menaikinya, maka akan selamat dan barang siapa yang meninggalkannya, maka akan tenggelam.”
Perbuatan bid’ah (tidak dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) bukanlah termasuk sebab keselamatan meskipun banyak dilakukan. Karena Allah Azza wa Jalla hanya menerima amalan atau ibadah apabila sesuai dengan petunjuk Rasul-NYa shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak kami perintahkan, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim)
Oleh karenanya, pada hari Kiamat ada sebagian manusia yang diusir dari telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mereka berbuat bid’ah dalam agamanya (sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim).
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sederhana di atas Sunnah lebih baik daripada banyak namun di atas bid’ah.”
3. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Takut kepada-Nya, dan bertakwa kepada-Nya.
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
“Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.” (QS. An Nuur: 52)
Yang dimaksud dengan takut kepada Allah adalah takut kepada Allah baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, dimana jika rasa takut ini ada dalam diri seorang hamba, maka amalnya akan menjadi baik dan dirinya akan jauh dari maksiat. Adapun yang dimaksud dengan takwa adalah menaati Allah di atas ilmu dari-Nya karena mengharap pahala-Nya dan meninggalkan larangan Allah di atas ilmu dari-Nya kaena takut terhadap siksa-Nya.
3. Mengerjakan kewajiban-kewajiban dalam Islam dan menjauhi yang haram
Dari Jabir bin Abdullah Al Anshary radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, “Bagaimana pendapatmu jika saya melaksanakan shalat yang wajib, berpuasa Ramadhan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan  yang haram dan saya tidak menambah lagi, apakah saya akan masuk surga?". Beliau menjawab, "Ya." (HR. Muslim)
4. Selalu mengingat bahwa kita akan berhadapan dengan Allah Azza wa Jalla pada hari Kiamat, kita akan dihisab-Nya dan akan diberikan balasan terhadap amal perbuatan kita, dan bahwa Dia akan bertanya kepada kita tentang hidup kita semuanya.
Mengingat hal ini akan membantu kita memperbaiki amalan, dan jika amal kita sudah baik, maka kita akan memperoleh keselamatan pada hari Kiamat. Oleh karenanya, Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman menerangkan keadaan orang yang berbahagia pada hari Kiamat; yang mengambil catatan amalnya dengan tangan kanannya, bahwa ia dahulu selalu merasakan akan berhadapan dengan Allah Azza wa Jalla untuk dihisab-Nya,
فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَيَقُولُ هَاؤُمُ اقْرَءُوا كِتَابِيَهْ (19) إِنِّي ظَنَنْتُ أَنِّي مُلَاقٍ حِسَابِيَهْ (20) فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ (21)
“Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata, "Ambillah, bacalah kitabku (ini).--Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku.”--Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai. (QS. Al Haaqqah: 19-21)
5. Berhati-hati agar tidak ujub terhadap amal yang dikerjakan meskipun banyak, dan senantiasa bersungguh-sungguh dalam beramal disertai rasa harap dan cemas.
Allah Azza wa Jalla berfirman menyebutkan sifat hamba-hamba-Nya yang saleh,
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ (60)
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al Mu’minun: 60)
Imam Hakim meriwayatkan dalam Mustadraknya, bahwa Abdullah bin Rawahah radhiyallahu ‘anhu ketika berada di rumahnya dalam kondisi sakit ditemani istrinya, maka ia pun menangis, lalu istrinya ikut menangis, maka Abdullah bin Rawahah bertanya kepada istrinya tentang sebab dirinya menangis, istrinya menjawab, “Aku melihat engkau menangis, maka aku pun ikut menangis,” lalu istrinya balik bertanya kepada suaminya, “Apa yang menyebabkan engkau menangis?” Abdullah bin Rawahah menjawab, “Aku ingat firman Allah Ta’ala,
وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا (71) ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا (72)
“Dan tidak ada seorang pun darimu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.-72. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. (QS. Maryam: 71)
Abdullah bin Rawahah melanjutkan kata-katanya, “Aku tidak tahu, apakah aku termasuk mereka yang bertakwa atau bukan?”
6. Menjaga lisan, diam di rumah (tidak mendatangi tempat-tempat fitnah), dan menangisi dosa-dosa terutama pada saat fitnah datang yang membuat banyak manusia menyimpang dari jalan yang lurus
‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu 'anhu pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, di manakah letak keselamatan?” Beliau menjawab,
أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ، وَابْكِ عَلىَ خَطِيْئَتِكَ
“Jagalah lisanmu, sempatkanlah berada di rumahmu, dan tangisilah dosa-dosamu.” (HR. Tirmidzi, Shahihul Jami’ no. 1388)
7. Berdoa dan meminta kepada Allah keselamatan pada hari Kiamat.
Yang demikian adalah karena semua urusan di Tangan Allah, maka hendaknya kita meminta kepada-Nya keselamatan. Dan ketahuilah, bahwa Dia tidak akan mengecewakan orang yang meminta kepada-Nya.
8. Banyak beristighfar (meminta ampun) kepada Allah Azza wa Jalla
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Allah tidak akan mengazab mereka ketika mereka memohon ampunan kepada-Nya.” (QS. Al Anfaal: 33)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا
“Sungguh beruntung orang yang menemukan banyak istighfar dalam catatan amalnya.” (HR. Ibnu Majah dari Abdullah bin Busr, Abu Nu’aim dalam Al Hilyah dari Aisyah, dan Ahmad dalam Az Zuhd dari Abu Darda secara mauquf, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3930).
Ali bin Abi Thalib berkata, “Aku heran kepada orang yang akan binasa padahal keselamatan ada di dekatnya.” Lalu ia ditanya, “Di mana keselamatannya itu?” Ia menjawab, “Yaitu dengan beristigfar.”
9. Perhatian terhadap ilmu syar’i (ilmu agama)
Yang demikian adalah karena ilmu syar’i adalah cahaya di tengah kegelapan. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidak mengetahui apa Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apa iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy Syura: 52)
Dengan ilmu syar’i seseorang dapat mengetahui kewajiban-kewajiban agama dan larangan-larangannya; mengetahui mana yang halal dan mana yang haram sehingga ia bisa bertakwa. Bagaimana seseorang bisa menjauhi larangan sedangkan ia tidak mengetahui mana perkara yang dilarang?
10. Memilih teman-teman yang saleh.
Yang demikian adalah karena teman itu biasanya dapat menarik seseorang kepada kebaikan atau keburukan. Siapa saja yang berteman dengan orang-orang saleh, maka teman-temannya akan menariknya kepada kebaikan, sebaliknya siapa saja yang berteman dengan orang-orang yang buruk, maka teman-temannya akan menariknya kepada keburukan dan kebinasaan. Allah Subhaanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam Al Qur’an penyesalan orang-orang zalim karena mengambil orang-orang buruk sebagai temannya,
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا (27) يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (28) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا (29)
“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul."--Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku).--Sesungguhnya dia telah menyesatkanku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al Furqaan: 27-29)
Di zaman kita ada teman-teman baru yang belum pernah ada di zaman sebelumnya, yaitu berteman dengan saluran-saluran televisi dan internet, baik melalui Hp maupun layar langsung, dimana sebagian orang ada yang berteman dengan barang-barang tersebut sampai menghabiskan sebagian besar waktunya, padahal di dalamnya terdapat berbagai fitnah; baik fitnah syubhat yang merusak pemikiran maupun fitnah syahwat yang merusak amal dan keinginan. Maka bagi yang menginginkan keselamatan bagi dirinya, hendaknya ia berhati-hati terhadap sumber-sumber fitnah, dan taufiq hanya di Tangan Allah saja.
11. Berhati-hati terhadap musuh yang tersembunyi, yaitu setan.
Setan melihat kita, sedangkan kita tidak melihatnya, dia berusaha mengajak kita ke jurang kebinasaan dengan berbagai cara dan tipu dayanya, maka hendaknya kita waspada terhadapnya, semoga Allah melindungi kita dan keturunan kita dari godaan setan yang terkutuk.
Hendaknya kita ketahui, bahwa setan duduk di setiap jalan yang ditempuh anak Adam, baik jalan yang baik maupun jalan yang buruk. Jika jalan yang ditempuhnya baik, maka setan  berusaha menghalanginya dari jalan itu dan melemahkannya, tetapi jika jalan itu buruk, maka setan terus mendorongnya untuk melakukannya.
Tidak ada yang diperoleh bagi mereka yang mengikuti setan selain penyesalan. Disebutkan dalam Al Qur’an khutbah setan (Iblis) di hadapan para pengikutnya pada hari Kiamat,
وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Dan setan berkata ketika perkara (hisab) telah diselesaikan, "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencelaku, akan tetapi celalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu." Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” (QS. Ibrahim: 22)
Setan memiliki cara yang banyak dalam menyesatkan anak cucu Adam. Cara-cara tersebut telah disebutkan sebagiannya oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya Ighatsatul Lahfan min Mashaidisy Syaithan. Dan setan memiliki pengamalan yang banyak dalam menyesatkan anak cucu Adam, bahkan tidak ada pengamalan yang lebih lama dibanding setan. Ia sudah mulai menyesatkan manusia sejak zaman Nabi Adam sampai sekarang. Oleh karena itu, seorang harus menjadikan setan sebagai musuhnya dan hendaknya ia selalu meminta perlindungan kepada Allah dari godaan setan. Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan dari setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al A’raaf: 200)
Khatimah
Sebagai penutup, ada sebuah doa yang dianjurkan bagi seorang muslim untuk berdoa dengannya di siang dan malam agar seseorang dapat terhindar dari sumber-sumber keburukan dan akibatnya, yaitu doa yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ahmad, dan Abu Dawud dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Abu Bakar pernah berkata, “Wahai Rasulullah, perintahkanlah kepadaku mengucapkan sesuatu yang aku ucapkan ketika aku berada di pagi hari dan di sore hari.” Beliau menjawab, “Ucapkanlah,
اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ عَالِمَ الغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءًا أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ
“Ya Allah Pencipta langit dan bumi, yang mengetahui yang gaib dan yang tampak, tidak ada yang berhak disembah kecuali Engkau; Pemilik segala seuatu dan Rajanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan diriku, keburukan setan serta seruannya kepada syirk, dan melakukan suatu keburukan terhadap diriku atau menyeret seorang muslim kepadanya.”
Beliau juga bersabda, “Ucapkanlah kalimat itu ketika engkau berada di pagi hari, di sore hari, dan ketika engkau mendatangi tempat tidurmu.” (Dishahihkan oleh Al Albani)
Selesai ditulis materi ini dan disimpulkan oleh Marwan bin Musa dari ceramah Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Badr hafizhahullah.
Wa shallallau ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam wal hamdulillahi Rabbil ‘alamin.