Tampilkan postingan dengan label KAJIAN ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KAJIAN ISLAM. Tampilkan semua postingan

Memupuk Rasa Malu


Bangsa Indonesia adalah bangsa yang beradab dan mempunyai norma dan etika yang tinggi. Bahkan bangsa ini termasuk ke dalam katagori bangsa yang mempunyai peradaban tinggi, terlihat dari muamalah yang dilakukan masyarakatnya yang mempunyai tradisi dan kebudayaan daerah yang berbeda-beda. Mereka mampu hidup rukun, damai, penuh rasa saling menghargai dan toleransi.

Namun dibalik itu, harus jujur kita akui bahwa bangsa Indonesia termasuk kategori bangsa yang memiliki kecakapan luarbiasa untuk melupakan hal-hal yang sebenarnya sangat signifikan mempengaruhi kehidupan kita. Orang menyebut kita bangsa yang mengalami amnesia dengan stadium yang sangat merisaukan. Kalau harus diukur dengan bentangan angka-angka, maka sudah tak berbilang berapa jumlah peristiwa bersejarah lalu-lalang di hadapan kita begitu saja. Peristiwa yang membanggakan atau peristiwa tragis yang meluluhlantakkan perikehidupan manusia. Kini mari bersikap jujur, benarkah peristiwa-peristiwa ini telah menanam kesan yang kuat dalam diri dan hati sehingga mampu mengubah prilaku buruk kita?

Kalau terjadi peristiwa dan tragedi alam, seperti bencana alam Tsunami di Aceh dan gempa bumi di Balakot dan Mudzafarabad bisa jadi kita akan berkilah, itu semata kodrat dan takdir Allah. Tetapi bagaimana dengan tindakan-tindakan destruktif akibat negative behavior (Su-ul Khuluq) yang dilakukan sebagian anak bangsa. Kini, pilar-pilar demokrasi, politik, hukum serta sosial akan segera runtuh karena kian derasnya tindak pidana korupsi yang dilakukan secara terang-benderang. Tindakan korupsi ini, begitu kuat tertanam, sehingga untuk --jangankan memberantasnya-- mencegah pun akan kesulitan dilakukan oleh siapa pun, apalagi kalau kita hanya berpangku tangan dan cuma mengandalkan tangan-tangan pemerintahan.

Lantas, alat penakut semacam apa yang bisa membuat para koruptor jera? Rasanya akan sulit menemukan alat paling tepat untuk mengembalikan para koruptor ke jalan yang benar. Sebab, sedari awal Baginda Rasul sudah mewanti-wanti umatnya soal bahaya korupsi bagi tegaknya pilar-pilar kehidupan. Dari saking bahayanya, Rasulullah mengancam para koruptor --salah satu bentuk tindakannya adalah menyuap dan menerima suap-- ini dengan jilatan api neraka. Ar-Roosyi Wal Murtasyii Finnaar; pemberi suap dan penerima suap sama-sama di neraka.

Kalau neraka saja, bukan alat penakut buat mereka, lantas alat apa yang pantas kita siapkan? Rasanya sulit menemukan jalan paling tepat kecuali kita berharap lahirnya kecerdasan spiritual bagi bangsa tercinta kita.

Asal muasal tindakan korupsi sebenarnya berawal dari rasa iri, dengki, dan hasad terhadap sesama manusia serta adanya rasa hubud dunya (cinta dunia). Seorang pendengki tidak akan bisa hidup tenang kalau menyaksikan tetangganya bergelimang karunia. Hitungan detik dalam hidupnya, hanya memikirkan tetangganya dengan hati yang mendongkol, sementara tetangga yang menjadi objek sifat irinya dapat tidur nyenyak. Masih bagus kalau dia berharap nikmat serupa tanpa mengusik ketenangan tetangganya. Bila sifat dengki, iri, hasad dan hubud dunya sudah jauh merasuk ke dalam jiwa, maka harapannya cuma satu; bagaimana caranya nikmat itu bisa hilang atau tetangganya pergi jauh dari lingkungannya. Kalau rasa iri begitu dalam menghunjam dalam dirinya, maka ia akan mengambil cara apa pun agar bisa memperoleh kakayaan. Maka lahirlah tindakan suap, sogok, dan akhirnya melakukan tindak korupsi.

Pantaslah kalau Al-Quran menyebut perbuatan korupsi ini sebagai al-fasad (yang merusak dan menghancurkan), yang layak dihukum dengan hukuman yang seberat-beratnya; seperti dihukum mati, disalib, dipotong tangan dan kakinya dengan timbal balik, atau dibuang dari negeri tempat kediamannya, sebagaimana dikemukakan dalam al-Qur’an Surat al-Maidah ayat 33-34:

"Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan (al-fasad) di muka bumi, hanyalah mereka dihukum mati atau disalib, dipotong tangan dan kakinya secara menyilang, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat nanti mereka memperoleh siksaan yang besar. Kecuali orang-orang yang taubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang."

Adalah wajar dan sah-sah saja apabila setiap manusia (apa pun posisi, jabatan, pekerjaan, dan keahliannya) mencintai harta. Ini karena ia merupakan hal yang bersifat fitrah dan naluriah, bahkan menjadi sunnatullah dalam kehidupan manusia, sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur’an Surat Ali Imron ayat 14:

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan (kendaraan mewah), binatang-binatang ternak, dan sawah ladang, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik."

Akan tetapi, hal tersebut akan menjadi sangat berbahaya bagi kehidupan manusia, apabila berubah menjadi hubbud dunya (kecintaan yang berlebih-lebihan kepada harta dunia), yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhir dan menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkannya. Rasulullah SAW menyebutkan hubbud dunya itu sebagai fitnah terbesar bagi umatnya, sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim, Beliau bersabda: "Setiap umat memiliki fitnah dan ujian, dan fitnah terbesar bagi umatku adalah harta dunia."


Jika tidak dikendalikan dengan keimanan yang kuat, hubbud dunya ini akan selalu menimpa pada setiap orang, karena memang dunia itu adalah sesuatu yang indah, lezat, dan menggiurkan. Dalam hadits lain riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda pula: "Sesungguhnya harta dunia ini adalah ibarat tanaman yang hijau (yang sangat menarik) dan terasa manis. Harta dunia akan menjadi sebaik-baiknya sahabat bagi kehidupan seorang Muslim, jika mendapatkannya dengan cara yang benar dan memanfaatkannya dengan cara yang benar pula, seperti untuk menegakkan agama Allah, menolong dan membantu anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil (orang yang kehabisan bekal dalam perjalanannya). Dan barangsiapa yang mendapatkannya dengan cara yang tidak benar, maka ibarat orang yang makan tetapi tidak pernah merasa kenyang, dan kelak akan menjadi saksi pada hari kiamat (yang memberatkan)."

Banyaknya kalangan yang jatuh dan bertekuk lutut pada pelukan hubbud dunya, di samping karena indah, manis, dan lezatnya, juga karena ada anggapan bahwa fitnah dan ujian itu hanyalah dengan sesuatu yang dianggap menyakitkan, seperti kelaparan, kemiskinan, kekurangan dan menderita sakit. Sedangkan, pangkat, jabatan, kedudukan harta, ilmu pengetahuan, kesehatan, dan popularitas bukan dianggap ujian dan cobaan, tetapi adalah semata-mata kenikmatan dan karunia. Oleh karena itu banyak orang yang tidak hati-hati ketika mendapatkannya, bahkan cenderung lupa daratan. Padahal Allah SWT sudah mengingatkan hal ini dengan firman-Nya pada al-Qur’an Surat Al-Anbiya ayat 35:

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan."

Ketika mengomentari ayat tersebut (QS Al Anbiya: 35), Sayyid Quthb dalam Tafsir Fi Dzilalil Qur'an, menyatakan adalah tidak perlu penjelasan yang rinci jika fitnah dan ujian dalam bentuk hal-hal yang menyakitkan, karena hampir setiap orang pasti memahami dan menyadarinya. Tetapi, terhadap bentuk ujian dengan hal-hal yang dianggap baik dan menyenangkan perlu terus menerus dikumandangkan dan disosialisasikan, karena banyak orang yang tidak menyadarinya. Banyak orang yang kufrun ni'mah (tidak memanfaatkan anugerah Allah untuk kemaslahatan bersama) dan kemudian memanfaatkannya untuk kepentingan diri sendiri. Akibatnya, orang tersebut menderita selama-lamanya (di dunia maupun di akhirat), walaupun pada mulanya seolah-olah mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan.

Kapankah sifat iri, dengki, hasad, hubud dunya mengantarkan seseorang kepada tindakan durjana ini? Kalau rasa malu sudah merasa malu tinggal dalam diri seseorang yang memiliki sifat-sifat rendah tersebut. Ia sudah tidak mamiliki rasa malu untuk berbuat apa saja asal harapannya tercapai. Kalau rasa malu sudah hilang tak tersisa, maka semua jalan yang telah disyariatkan agama pun akan ia langgar. Hatinya tak akan pernah luluh meski berpanjang-pancang tiang firman Allah dihunjamkan ke hatinya. Kalau rasa malu sudah hilang tandas, maka Tuhan juga akan dengan cepat ia tanggalkan. Semua kisi-kisi hatinya dipenuhi kegandrungan terhadap dunia, harta didapat dengan cara-cara yang tidak halal. Ia berani menentang Tuhan, seakan-akan Dia tidak pernah ada. Jangan merasa malu terhadap Tuhan, Dzat yang dia tak mampu mencerna kehadiran-Nya, terhadap keluarganya pun ia tak akan sanggup mengundang rasa malu bertengger di hatinya.

Di sinilah, ketika alat penakut sudah sulit kita temukan, mendatangkan rasa malu menjadi sebuah awal yang bagus untuk menghindarkan seseorang dari tindak pidana korupsi. Al-Hayaa-u Minal Iman; (Malu sebagian dari iman). Bagaimana konsep malu menurut versi Rasulullah? "Orang yang ingin malu dengan sebenar-benarnya di hadapan Allah SWT, hendaklah menjaga pikiran dan hatinya. Hendaklah ia menjaga perutnya dan apa yang dimakannya. Hendaklah ia mengingat mati dan fitnah kubur."

Para cerdik pandai selalu mengingatkan kita untuk mampu menjaga rasa malu agar tetap hidup dalam hati kita dengan cara selalu berlapang dada untuk berteman dengan orang yang terbiasa dipermalukan. Seorang sufi besar, Yahya Bin Mu'adz pernah menyitir rasa malu ini dengan begitu indahnya. Katanya, "Bagi manusia yang malu di hadapan Allah SWT ketika taat, maka Allah akan malu ketika ia berbuat dosa."

Mengundang rasa malu yang sudah terlanjur jauh meninggalkan kita, memang tidaklah mudah. Betapa dahsyatnya rasa malu ini, sampai-sampai Tuhan Yang Maha Perkasa sekalipun memiliki sifat tersebut. Menurut Muadz Bin Jabal ra, sebuah Hadits Qudsi meriwayatkan soal rasa malu Tuhan ini. "Hamba-Ku telah berlaku tidak adil terhadap diri-Ku. Ia meminta kepada-Ku, tetapi Aku malu untuk tidak mengabulkan keinginannya. Padahal ia tidak pernah malu bermaksiat kepada-Ku."

Sifat malu sesungguhnya merupakan kunci paling fundamental untuk menakar tingkat kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya. Bila seseorang sudah tidak punya rasa malu, maka ia akan berbuat apa saja. Serba tegas untuk menindas, serba sampai hati memeras bawahannya, serba mungkin memindahkan angka-angka kemiskinan menjadi lembar-lembar dolar ke dalam rekening pribadi.

Tak adakah rasa malu kepada Allah SWT saat kita sodorkan lembaran-lembaran mata uang kepada istri kita untuk dibelikan bahan makanan, tetapi uang tersebut hasil memeras atau hasil korupsi yang akan segera menjadi darah daging dalam tubuh anak-anak kita? Masihkah tersisa rasa malu terhadap Allah SWT ketika makanan sudah tersaji, tetapi itu jelas-jelas hak orang lain? Di tengah-tengah kita, rasa malu tak tersisa lagi. Kalau masih sadar, malu rasanya kita mengundang kembali rasa malu untuk secara suka rela bersemayam dalam hati kita karena ia terlanjur malu menghuni rumah yang menolak kehadiran rasa malu. "Allah malu menyerahkan Buku Induk Akhirat kepada hamba-Nya secara berhadap-hadapan karena isinya cuma daftar dosa-dosa," kata Imam al-Qusyairy an-Naishabury dalam bukunya Ar-Risalah al-Qusyairiyah mengutip sebuah Hadits Qudsi.

Apa keuntungan yang bakal kita dapat kalau kita meneguhkan rasa malu? Abu Sulaiman Ad-Darany berkata, "Allah SWT berfirman: Wahai hamba-Ku, selama engkau malu di hadapan-Ku, Aku akan membuat manusia lupa kekuranganmu. Aku akan membuat muka bumi lupa akan dosa-dosamu. Aku akan menghapuskan dosa-dosamu dari Buku Catatan Induk dan Aku tidak akan meneliti amalanmu pada Hari Kebangkitan." Para koruptor adalah saudara kita juga. Mari kita ingatkan mereka bahwa Tuhan Maha Melihat.

10 Nasihat Ibnul Qayyim rahimahullah







10 Nasihat Ibnul Qayyim rahimahullah untuk menggapai kesabaran diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat :


Pertama : Hendaknya seorang hamba menyadari betapa buruk dan hina perbuatan maksiat. Dan hendaknya dia memahami bahwa Allah Ta’ala mengharamkannya serta melarangnya dalam rangka menjaga hamba dari terjerumus dalam perkara-perkara yang keji sebagaimana penjagaan seorang ayah yang sangat sayang kepada anaknya demi menjaga anaknya agar tidak terkena sesuatu yang membahayakannya.

Kedua : Merasa malu kepada Allah Ta’ala, Karena sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari pandangan Allah Ta’ala yang selalu mengawasi dirinya dan menyadari betapa tinggi kedudukan Allah Ta’ala di matanya. Dan apabila dia menyadari bahwa perbuatannya dilihat dan didengar Allah Ta’ala tentu saja dia akan merasa malu apabila dia melakukan hal-hal yang dapat membuat murka Rabbnya… Rasa malu itu akan menyebabkan terbukanya mata hati yang akan membuat Anda bisa melihat seolah-olah Anda sedang berada di hadapan Allah…

Ketiga : Senantiasa menjaga nikmat Allah yang dilimpahkan kepadamu dan mengingat-ingat perbuatan baik-Nya kepadamu…… Apabila engkau berlimpah nikmat maka jagalah, karena maksiat akan membuat nikmat hilang dan lenyap. Barangsiapa yang tidak mau bersyukur dengan nikmat yang telah diberikan Allah Ta’ala kepadanya maka dia akan disiksa dengan nikmat itu sendiri.

Keempat : Merasa takut kepada Allah Ta’ala dan khawatir tertimpa adzab-Nya

Kelima : Mencintai Allah Ta’ala, karena seorang kekasih tentu akan mentaati sosok yang dikasihinya… Sesungguhnya maksiat itu muncul diakibatkan oleh lemahnya rasa cinta.

Keenam : Menjaga kemuliaan dan kesucian diri serta memelihara kehormatan dan kebaikannya… Sebab perkara-perkara inilah yang akan bisa membuat dirinya merasa mulia dan rela meninggalkan berbagai perbuatan maksiat…

Ketujuh : Memiliki kekuatan ilmu tentang betapa buruknya dampak perbuatan maksiat, serta jeleknya akibat yang ditimbulkannya dan juga bahaya yang timbul sesudahnya yaitu berupa muramnya wajah, kegelapan hati, sempitnya hati dan gundah gulana yang menyelimuti diri… karena dosadosa itu akan membuat hati menjadi mati…

Kedelapan : Memupus buaian angan-angan yang tidak berguna. Dan hendaknya setiap insan menyadari bahwa dia tidak akan tinggal selamanya di alam dunia. Dan mestinya dia sadar kalau dirinya hanyalah sebagaimana tamu yang singgah di sana, dia akan segera berpindah darinya. Sehingga tidak ada sesuatu pun yang akan mendorong dirinya untuk semakin menambah berat 2 tanggungan dosanya, karena dosa-dosa itu jelas akan membahayakan dirinya dan sama sekali tidak akan memberikan manfaat apa-apa.

Kesembilan : Hendaknya menjauhi sikap berlebihan dalam hal makan, minum dan berpakaian. Karena sesungguhnya besarnya dorongan untuk berbuat maksiat hanyalah muncul dari akibat berlebihan dalam perkara-perkara tadi. Dan di antara sebab terbesar yang menimbulkan bahaya bagi diri seorang hamba adalah… waktu senggang dan lapang yang dia miliki… karena jiwa manusia itu tidak akan pernah mau duduk diam tanpa kegiatan… sehingga apabila dia tidak disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat maka tentulah dia akan disibukkan dengan hal-hal yang berbahaya baginya.

Kesepuluh : Sebab terakhir adalah sebab yang merangkum sebab-sebab di atas… yaitu kekokohan pohon keimanan yang tertanam kuat di dalam hati… Maka kesabaran hamba untuk menahan diri dari perbuatan maksiat itu sangat tergantung dengan kekuatan imannya. Setiap kali imannya kokoh maka kesabarannya pun akan kuat… dan apabila imannya melemah maka sabarnya pun melemah… Dan barangsiapa yang menyangka bahwa dia akan sanggup meninggalkan berbagai macam penyimpangan dan perbuatan maksiat tanpa dibekali keimanan yang kokoh maka sungguh dia telah keliru.

Disarikan dari kitab : ‘Asyru Nashaa’ih libnil Qayyim li Shabri ‘anil Ma’shiyah

Mengukur Kualitas Shalat





Di dalam ajaran Islam shalat menempati kedudukan yang sangat agung. Ia merupakan salah satu daru Rukun Islam yang lima. Shalat juga meruupakan tiang agama. Bahkan perintah Shalat ini langsung diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa melalui perantara Malaikat Jibril yang terjadi ketika peristiwa Isra’ dan Mi’raj.
Dalam sebuah hadits dari Mu’adz bin Jabal bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda :
رأس اللأمر الإسلام وعموده الصلاة وذروة سنامه الجهاد في سبيل الله (رواه الترمذي)
Artinya : “Pangkal semua perkara adalah Islam, tiangnya adalah Shalat dan puncaknya adalah Jihad dijalan Allah”. (HR. At-Tirmidzi di shahihkan oleh Al-Bani dalam silsilah Ash-Shahihah).
Disamping itu, kita juga dapat mengetahui urgensi dan kedudukan shalat yang sangat besar yaitu dengan shalat dapat memlihara kita dari ancaman siksa yang sangat pedih di Neraka Saqar.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ (42) قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ (43)
Artinya : ‘Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Neraka Saqar? Mereka menjawab : “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat’ (Al-Mudattsir :42-43)
Karena shalat adalah amalan yang pertama dihisab di hari kiamat. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salambersabda :
إن أول ما يحاسب به العبد يوم القيامة من عمله صلاته ، فإن صلحت فقد أفلح وأنجح ، وإن فسدت فقد خاب وخسر
Artinya : “Amal yang pertama kali dihisab pada hari kiamat dari seorang hamba adalah shalatnya. Jika shalatnya baik maka telah sukses dan beruntunglah ia, sebaliknya jika rusak, sungguh telah gagal dan merugilah ia”. (HR. At-Tirmidzi).
Nah sekarang mari kita bersama-sama menakar  kualitas shalat kita masing-masing. Berada dalam golongan manakah shalat yang selama ini kita laksanakan.
Ibnu Qayyim dalam Al-Wabil As-Shayyib min Kalami Thayyib menyebutkan ada lima tingkatan orang melaksanakan shalat. Kelima tingkatan itu bagaikan anak tangga yang dimulai dari paling rendah sampai yang paling sempurna.
Tingkatan-tingkatan itu adalah sebagai berikut ini :
1.      Orang yang shalat di I’qab (di-adzab)
Tangga pertama ini adalah orang yang mendzalimi diri sendiri. Ia melakukan shalat dengan ala kadarnya sekedar untuk melepas kewajiban. Ia tidak menyempurnakan wudhunya, tidak memelihara waktu-waktunya, syarat-syaratnya dan rukun-rukunnya.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5)
Artinya : ‘Maka kecelakaanlah bagi orang-orang  yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. (Al-Ma’un : 4-5).
Orang-orang yang lalai adalah orang yang meremehkan shalat.

Sa’ad bin Abi Waqqash berkata : “Aku bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam tentang orang-orang yang lalai dari shalatnya. Beliau menjawab : Yaitu mengakhir-akhirkan waktunya.

Diriwayatkan oleh Qatadah bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda :

إِنَّ أَسْوَأَ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاتِهِ " ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاتِهِ ؟ قَالَ : " لا يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلا سُجُودَهَا
Artinya : “Manusia yang paling buruk perbuatan mancurinya  adalah orang yang mencuri shalatnya. “Seseorang bertanya : Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang itu mencuri shalatnya? Rasulullah menjawab : yaitu ia tidak , menyempurnakan rukuk dan sujudnya. (HR. Ahmad).

2.      Orang yang shalat di Hisab (di timbang)
Anak tangga kedua adalah orang yang menjaga waktu shalat, wudhu dan syarat-syaratnya serta rukun-rukunnya tetapi tak berdaya menghadapi bisikan (was-was) syetan dan pikiranya masih diluar shalat.
Orang yang berada pada tangga ini lebih baik dari yang petama karena ia sudah punya kesadaran tentang bagaimana tata cara shalat yang baik, berdasarkan tuntunan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, tetapi objek perhatiannya baru sebatas penampilan luar shalatnya belum bisa menghadirkan kekhusyukan dalam shalatnya.

3.      Orang yang shalat mendapat maghfirrah (ampunan)
Anak tangga ketiga adalah orang yang menjaga syarat-syaratnya, rukun-rukunnya tetapi ia sibuk melawan bisikan syetan dan pikiran dalam shalatnya. Ada dua pekerjaan dilakukan sekaligus satu waktu yaitu shalat dan berjuang melawan syetan.
Anak tangga ketiga ini tentu lebih baik disbanding tingkat kedua. Karena ia mulai memiliki kesadaran tentang hakikat shalat. Akan tetapi yang namanya syetan juga berusaha keras untuk melalaikan shalatnya.

Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman :
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ (6)
Artinya : Sesungguhnya syetan itu adalh musuh bagimu. Maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syetan-syetan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS. Fathir : 6)
Ibnu Katsir  menjelaskan berkenaan ayat ini “ “Syetan adalah musuh yang menantang kalian dengan mengumumkan permusuhan. Oleh karena itu janganlah kalian turuti bujuk rayunya”.

4.      Orang yang shalat mendapat jaza’ minallah (pahala dari Allah)
Anak tangga keempat adalah orang yang menyempurnakan syarat da rukunnya. Dia sadar bahwa kewajibannya adalah menyempurnakan semua itu. Ketika shalat hatinya hadir bersama jasadnya menghadapi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada saat itu merasa sedang diawasi atau dilihat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Orang ini mulai bias merasa lega dalam shalatnya. Usaha yang terus dilakukannya untuk mengusir syetan mulai berhasil. Syetan tidak lagi punya kemampuan menggodanya. Syetan mulai sadar dengan komitmennya orang yang shalat itu ia tidak mampu menggoda hamba Allah yang ikhlas.

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَاُغۡوِيَنَّهُمۡ اَجۡمَعِيۡنَۙ‏ (82) اِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ الۡمُخۡلَصِيۡنَ (83)

Artinya : ‘Iblis menjawab : “Demi kekuasaan Engkau Aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka’. (QS. Shad : 82-83)

Yang dimaksud dengan mukhlis ialah orang-orang yang telah diberi taufiq untuk mentaati segala petunjuk dan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

5.      Orang yang dengan shalatnya sudah dapat menjadi Qurrata’ain (Penyakit pandangan mata)
Anak tangga kelima adalah orang yang menegakkan shalat dengan sempurna dan hatinya hadir menghadap Allah. Ia sadar sedang berhadapan dengan Allah. Dia seolah-olah melihat Allah. Shalat baginya bukan sebuah beban, tetapi sudah menjadi hiburan yang menghilangkan duka lara.
Inilah pucak Ihsan seorang manusia dalam shalatnya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda dalam hadits Jibril :

. . . . . ما الإحسان ؟ قال أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاك (رواه البخاري)

Artinya : Jibril bertanya ; Apakah yang dimaksud Ihsan? Nabi menjawab : “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau dapat melihatnya, Jika engkau tidak melihatnya. Sesungguhnya Allah melihat engkau. (HR. Al-Bukhari).

Dan gambaran nyata dari tipe shalat ini adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam. Sebagaimana sabdanya :
وَجعلت قُرَّة عَيْني فِي الصَّلَاة
Artinya : “Allah menjadikan kesenangan ada dalam shalat” (HR. An-Nasai, Ahmad, dishahihkan oleh Al-Bani dalam silsilah ash-shahihah).

Dan juga hadits ketika Rasulullah memerintahkan Bilal untuk adzan untuk memanggil shalat, dengan shalat merupakan hiburan buat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam.

Dari penjelasan shalat di atas sekarang marilah kita melihat kita berada dalam posisi dimana? Kalau kita sudah berada posisi 4-5 berusahalah untuk istiqamah akan tetapi kalau kita masih pada posisi 3,2 bahkan 1 maka segeralah untuk memperbaiki shalat kita.

Ramadhan membakar dosa?








Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Seorang penatar kader muballigh di Satu Masjid terkemuka di Jakarta belum lama ini bertanya kepada hadirin: Kalian pernah dengar ceramah bahwa Ramadhan artinya membakar?
 Pernah, jawab para kader muballigh.

Lalu apakah penceramah menjelaskan bahwa maksudnya membakar dosa?
Ya, jawab para kader da’i itu lagi.

Tahukah kalian, itu dasarnya dari mana ?
Para kader da’i tampak diam saja. Tidak ada yang menjawab.

Lalu penatar menjawabnya sendiri, ya memang itu tidak ada dasarnya. Tetapi pemaknaan seperti itu justru telah tersiar ke mana-mana. Padahal itu hanya otak atik gatuk (mengait-ngaitkan seolah nyambung), jelas penatar.
Kenapa ? tanya penatar.

Para kader muballigh masih diam saja, dan hanya siap mendengarkan jawaban berikutnya.
Lalu penatar itu menjawabnya sendiri pula. Ya, itu hanya dikait-kaitkan. Kita lihat saja sejarahnya, kapan puasa Ramadhan mulai diwajibkan. Ternyata puasa Ramadhan diwajibkan sejak tahun 2 Hijriyah. Sedang sebelum diwajibkannya puasa, nama bulan Ramadhan itu sudah ada.
Buktinya?
Ayat Al-Qur’an,

 {شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ} [البقرة: 185]

185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari lain. Allah menghendaki kemudahan  bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS Al-Baqarah: 185).

 Dalam ayat itu disebutkan, bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran; itu dapat difahami secara sejarah bahwa Al-Qur’an mulai diturunkan di Bulan Ramadhan, yakni 13 tahun sebelum hijrahnya Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam. Sedang mulai diwajibkannya puasa Ramadhan baru pada tahun kedua setelah hijrahnya Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam. Dengan demikian, nama bulan Ramadhan itu 15 tahun sebelum diwajibkannya puasa pun sudah bernama Ramadhan. Maka walau Ramadhan punya arti membakar, namun tidak ada kaitannya dengan membakar dosa. Dan kalau mau dikaitkan dengan arti membakar, harusnya dikaitkan dengan awal penamaan bulan Ramadhan, kenapa dinamakan Ramadhan. Bukan dikaitkan dengan puasa yang tidak jadi penyebab dinamakannya bulan itu.

Ada contoh untuk menjelaskan ini. Orang Jawa menyebut bulan Rabi’ul Awwal dengan Bulan Mulud (Maulud, waktu lahir). (Tidak percaya, lihat saja di kalender yang ada penanggalan Jawa-nya). 
Karena dikenal pada bulan itulah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan. Yang seperti ini baru bisa dikaitkan antara nama bulan dengan makna harfiyah lalu dikaitkan dengan peristiwa penyebab penamaan bulan itu. Lha kalau Bulan Ramadhan, dari mana pengaitan makna dengan membakar dosa?

Apabila mau menjelaskan tentang diampuninya dosa pada bulan Ramadhan, sudah ada dalil-dalil yang dapat dirujuk. Tidak perlu mengembalikan kepada nama bulan, lalu dikutak katik.
Di antara dalilnya:

Allah menjadikan puasa dan shalat  yang dilakukan dengan keimanan dan mengharapkan (pahala) sebagai sebab diampuninya dosa. Sebagaimana telah terdapta riwayat shahih dalam dua kitab shahih; Shahih Bukhori, no. 2014, dan shahih Muslim, no. 760, dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ’anhu, sesungguhnya Nabi sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

« مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa (di Bulan) Ramadhan (dalam kondisi) keimanan dan mengharapkan (pahala), maka dia akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu”. (Shahih Bukhori, no. 2014, dan shahih Muslim, no. 760).

Juga dalam riwayat Bukhari, no. 2008, dan Muslim, no. 174, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ».

”Barangsiapa yang berdiri (menunaikan shalat) di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni”. (Hadits riwayat Bukhari, no. 2008, dan Muslim, no. 174).

Umat Islam telah sepakat (ijma’) akan sunnahnya menunaikan qiyam waktu malam-malam Ramadhan. Imam Nawawi telah menyebutkan bahwa maksud dari qiyam di bulan Ramadhan adalah shalat Taraweh, Artinya dia mendapat nilai qiyam dengan menunaikan shalat Taraweh.
Dengan sudah adanya dalil tentang diampuninya dosa berkaitan dengan amaliyah di bulan Ramadhan seperti tersebut, sebenarnya tidak perlu menyeret-nyeret nama Ramadhan lalu diartikan harfiyahnya (membakar) kemudian ditempeli lafal dosa, jadilah membakar dosa.
Kenapa tidak perlu?

Karena Islam tidak memerlukan cara-cara kutak katik akal-akalan seperti itu.
Itulah salah satu contoh cara (kutak-katik gatuk, mengait-ngaitkan, akal-akalan) untuk memahami Islam yang tidak sesuai dengan cara yang benar menurut Islam, namun justru banyak ditempuh orang, hingga banyak hal yang masyhur di umat Islam, kelihatannya benar padahal tidak. Bahkan yang seperti itu kemungkinan disiarkan secara merata dan turun temurun tak pernah dikoreksi. Bila dibiarkan terus, maka kemungkinan akan banyak hal-hal yang tidak sesuai dengan Islam namun merata di Umat Islam dan dianggap benar. Padahal yang semodel itu sudah banyak. Semoga saja Umat Islam menyadarinya dan kembali kepada rujukan yang shahih.

(nahimunkar.com/arroudoh.com)