Tampilkan postingan dengan label KISAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH. Tampilkan semua postingan

Kisah Al habib Muhammad bin Ali Al habsyi Tentang Sholawat Jadad Sulaiman



Dulu Habib Ali AlHabsyi kwitang didalam akhir akhir umurnya di tahun 1968 mengalami pingsan selama kurang lebih 40 hari, beliau hanya berbaring di tempat tidurnya tanpa sadarkan diri, didalam keadaan pingsan Habib Ali senantiasa di suapi air jamjam oleh putranya disaat saat diperkirakan di butuhkannya minum sebagai pengganti makanan yang masuk kedalam badannya.

Sudah kurang lebih 40 hari pingsan pada akhirnya pada hari minggu Habib Ali sadarkan dirinya, disaat itu dipanggil sang putra “Ya Muhammad, antar abah ke hamam untuk bersih bersih diri”.

Mendengar seperti itu Habib Muhammad terasa senang gembira karena berpikiran Abahnya sudah sehat. Setelah rapi Habib Ali duduk di tempat tidurnya dan meminta kepada putranya Habib Muhammad untuk membaca Qasidah Jadat Sulaiman.

“Ya Muhammad aku lihat Rasulullah sudah hadir, bacalah qasidah jadat sulaiman. Lekaslah baca ayo Bismillah”

Mendengar perkataan sang Abah Habib Muhammad pun menangis dengan sambil membaca Qasidah tersebut dan pada waktu itu Habib Muhammad tak kuasa meneruskan pembacaan Qasidahnya, sampai pada akhirnya Habib Husein bin Toha AlHaddad di panggil kedalam kamar Habib Ali untuk meneruskan Qasidah tersebut.

Setelah selesai pembacaan qasidah tersebut kembali Habib Ali memanggil sang putra, “Ya Muhammad hari apakah ini?.

Dengan cepat Habib Muhammad menjawab “Hari Ahad ya Abah, itu jamaah sudah penuh hadir di Majelis”.

Lalu Habib Ali kembali berkata
“Ya Muhammad, kirimkan salamku pada seluruh jamaah Dan pintakan maaf atas diriku pada seluruh jamaah, Kalau kalau disetiap perkataan dan kelakuan ada yang terasa salah. Pintakan maaf untuk ku pada mereka, karena sesungguhnya diri ini tidak lama lag, karna sudah datang Rasulullah dan para Datuk datuk kita, bersegeralah ya Muhammad sampaikan salamku dengan bersegera kepada yang Hadir”.

Lalu Habib Muhammad dengan perasaan sedih yang mendalam akhirnya terpaksa menyampaikan apa yang diperintahkan abahnya tadi, hampir hampir tak kuasa Habib Muhammad untuk menyampaikan apa yang diperintahkan oleh sang abah.

Dan tidak lama setelah itu Habib Ali wafat dan sebelum wafatnya Habib Ali mengajak kepada yang ada disekitarnya untuk membaca Talqin zikir Laaillahailalloh ...

*) sebagaimana kembali di ceritakan oleh Almarhum Alhabib Muhammad bin Ali Alhabsyi.

Berikut adalah Teks Sholawat Jadad Sulaiman (Klik Disini)



Sumber : Thobiby Qolby

Kisah Zulbijadain Sabahat Rasulullah SAW


Diceritakan seorang sahabat Rasulullah SAW yang dikenal dengan nama Zulbijadain beliau berasal dari golongan orang-orang kafir yang menghalanginya untuk berhijrah. Akhirnya pada suatu hari dia mendapatkan kesempatan untuk melarikan diri dari golongannya, maka dia pun lari membawa bekalnya. Diperjalanan dia berjumpa atau dihadang oleh orang-orang dari Qabilahnya.

Mereka menghadang dan berkata:“kemana engkau akan pergi ? Segeralah pulang!”.

Maka beliau berkata kepada orang-orang tersebut, “Untuk apa kalian menghalangi aku? Kalian tidak akan mengambil manfaat apapun dariku”. Kemudian Beliau berkata, “Bolehkah aku menebus diriku untuk pergi kepada Rasulullah dengan semua hartaku aku berikan, tapi biarkan aku berjalan menuju Rasulullah”.

Mereka menjawab, “Baiklah kalau begitu seluruh hartamu yang ada di kampung halamanmu bawalah semua kemari dan termasuk harta yang kau bawa saat ini”.

Dia berkata, “ambil semuanya”.

Maka mereka mengambil seluruh hartanya termasuk yang dia bawa hingga tidak tersisa apapun melainkan dua pakaian lusuh untuk menutup di bawah pusarnya dan satu untuk menutup pundaknya. Beliaupun sampai ke kota Madinah beberapa hari sebulum perang khaibar dengan tidak punya apa-apa kecuali dua pakaian lusuh tersebut. Saat itu para sahabat menamakan orang ini sebagai Zulbijadain, artinya “pemilik dua kain yang lusuh”. Akan tetapi, dia dengan senang hati meninggalkan semua hartanya sebagai imbalan demi melihat wajah Nabi Muhammad SAW.

Beliau dikenal sebagai seorang yang banyak berzikir kepada Allah. Pada suatu Suatu hari Nabi Muhammad SAW lewat di bawah masjid dan mendengar suara Zulbijadain sedang berzikir kepada Allah dengan suara yang lantang. Melihat hal tersebut para sahabat mengatakan kepada Nabi Muhammad, “Ya Rasulullah aku khawatir orang ini melakukan ibadah karna riya’ ingin dilihat orang”. Mendengar hal tersebut Rasulullah berkata, “Tidak ! Akan tetapi orang ini selalu kembali kepada Allah”.

Beliau termasuk orang yang hadir pada perang Khaibar bersama Rasulullah. Dalam perjalanan pulang dari peperangan itu beliau sakit yang berhujung kepada kematian. kemudian Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat untuk mengurus jenazahnya. Diantara para sahabat yang menggali kuburannya adalah Sayyidina Abubakar dan Sayyidina Umar. Ketika para sahabat hampir selesai menggali dan tinggal sedikit, Nabi Muhammad SAW turun ke dalam kubur dan merapikan kubur tersebut untuk dimasukkan ke dalam liang lahat. Rasulullah SAW juga mensholatkan jenazah Zulbijadain dan langsung turun dan masuk ke dalam liang kuburnya. Rasulullah berkata di dalam lubang kuburnya, “serahkan orang tersebut ketanganku!”. Maka Rasulullah sendiri yang memasukkan Zulbijadain kedalam lubang lahatnya. Kemudian Nabi berdoa untuknya dengan doa yang indah, “Ya Allah ridhoilah dia, sebab pada malam ini aku ridho terhadap orang ini”.

   Inilah sekelumit cerita tentang sahabat yang bernama zulbijadain beliau mendapatkan kemuliaan ketika meninggalnya, yaitu kemuliaan saat jenazah beliau langsung ditangani oleh rasulullah saw.

Semoga kita dapat berkumpul dengan para sahabat dan Rasulullah kelak di akhirat nanti. Aamiin Ya Rabbal'alamiin.

Sumber : Al Habib Segaf Baharun S.HI,M.HI

Teks Qasidah Allahumma Sholli Wa Sallim dan Kisah Tsauban Pelayan Rasulullah SAW



Ketika mencintai seseorang, kita pasti ingin selalu bersamanya dan merasakan kesedihan mendalam kala berpisah dengannya. Mari kita lihat yang terjadi pada Tsauban.

Tsauban pelayan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Tsauban merupakan seorang penduduk Yaman yang menjadi tawanan ketika terjadi perang di zaman Jahiliyah. Rasulullah membelinya dan kemudian membebaskan. Tsauban tidak mau kembali ke Yaman, ia memilih untuk tinggal dan melayani Rasulullah. Iya, Rasulullah memang memiliki banyak budak, tapi di kemudian hari semuanya dibebaskan.

Saat itu Rasulullah shallallahu’alayhi wasallam keluar pagi-pagi dan tak pulang hingga larut malam. Ketika kembali, beliau mendapati Tsauban sedang menangis. Padahal pada saat itu Tsauban tidak sakit dan sedang bersama dengan majikannya, sumber kebahagiaannya. Rasulullah SAW lantas bertanya kepada Tsauban perihal mengapa dia bersedih.

Rasulullah bertanya, ''Apa yang menyebabkanmu menangis, Hai Tsauban?''
Tsauban menjawab, ''Engkau telah menggelisahkanku wahai Rasulullah.''
Rasulullah bertanya lagi, ''Itukah yang menyebabkanmu menangis,hai Tsauban?''
Tsauban menjawab, ''Tidak wahai Rasulullah, akan tetapi ketika engkau meninggalkanku sehari semalam dan engkau telah menggelisahkanku, aku lantas teringat bahwa di surga nanti aku akan berada di tempat paling rendah, sementara engkau berada di tempat paling tinggi.
Aku tak akan bersamamu lagi. Keterpisahanku denganmu di surga itulah yang menyebabkanku menangis, wahai Rasulullah.''

Rasulullah terharu dengan jawaban Tsauban tersebut. beliau juga menjadi kasihan dengan pelayannya itu. Namun tak lama setelah itu turun wahyu kepada Rasulullah, yaitu Al-Qur’an Surat (QS) Al-An’am ayat 69. Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa siapapun yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan bersama-sama dengan orang yang dianugerahi Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada’ dan para orang shaleh. Ayat tersebut seolah menjawab kesedihan Tsauban yang takut tidak bisa bertemu dengan Rasulullah, orang yang sangat dicintainya, di akhirat kelak.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam lalu bersabda : ''Hai Tsauban, tidakkah kamu tahu bahwa seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang paling dicintainya?''

Berikut adalah teks Qasidah Allahumma Sholli Wa Sallim, semoga kita semua kelak mendapat Syafaat dari Baginda Rasulullah SAW dan berkumpul bersama Rasulullah SAW. Aamiin  Ya Rabbal 'alamiin.

اللهم صل وسلم علی سيدی وحبيبی
Allâhumma sholli wa sallim ‘alâ Sayyidî wa habîbî
Sholawat dan salam semoga tercurahkan padamu duhai junjunganku, duhai kekasihku

وطبيبی قلبی وجسدی وروحی
Wa thobîbî qolbî wa jasadî wa rûhî
duhai penawar derita hatiku, duhai tubuh dan jiwa~ ku

سيدی رسول الله  محمد ابن عبدالله
Sayyidî Rosûlillâh Muhammad ibni ‘Abdillâh
duhai jujunganku Rosulullah Muhammad bin Abdullah

الصادق الأمين وعلی اله وصحبه أجمعين
Ash-shôdiqil amîn wa ‘alâ âlihî wa shohbihî ajma’în
yang benar dan terpercaya juga kepada keluarga dan para sahabatnya

5 Kisah Lucu dari Ibnul Jauzi


Mari tersenyum!!!
Ayah Hija berniat untuk pergi haji. Saat ayahnya hendak berangkat, Hija, yang saat itu sedang agak sentimen berkata, “Jangan lama-lama lho yah, cobalah kembali saat Id, jadi engkau bisa berkurban bersama kami.” 
Seorang pencuri mengambil pintu rumah Abu Salim. Kemudian ia mencuri pintu masjid. Ada orang yang memergoki lalu berkata, “Apa yang kau lakukan?” Dia menjawab, “Sssstt… Pemilik pintu ini udah tahu kalau yang mencuri pintu saya.”
Ada seorang Badui yang tinggal di dekat sungai. Pada suatu malam, ia bermimpi “buruk” di malam yang dingin. Ia berat untuk mandi karena udaranya sangat dingin. Untuk itu, ia mencari ember untuk mengambil air hangat. Setelah dicari ternyata tidak ketemu, ia pun mengambil pakaiannya dan berenang ke sisi lain dari sungai yang dingin itu untuk mengambil ember. Akhirnya ia dapatkan embernya lalu kembali lagi lewat sungai yang dingin itu dan mengambil air hangat kemudian mandi.
Seorang lelaki tua berdiri di samping pintu masjid. Untuk menghormatinya, si muadzin langsung menawarinya untuk menjadi imam shalat. Lelaki itu menolak, maka muadzin sendirilah yang menjadi imam. Setelah selesai shalat, ia berkata kepada lelaki tua itu, “Baba, jika Anda telah memimpin shalat kami akan memberi Anda sesuatu.” Orang tua itu pun menjawab, “Bagaimana bisa aku menjadi imam, aku belum wudhu.”
Seorang individu telah mendengar bahwa puasa Asyura setara dengan berpuasa sepanjang tahun. Ia pun berpuasa selama setengah hari dan ia percaya bahwa nilainya setara dengan puasa selama enam bulan.
Seorang lelaki culun diberitahu bahwa keledainya dicuri. Ia pun malah berkata, “Terima kasih ya Allah, saat itu aku tidak naik di atasnya.”

sumber:kiblat.net

Alhamdulillah, Orang Syiah Masuk Islam




Alhamdulillah Orang Syiah Masuk Islam…..

Seru dan berhikmah…. Baca nih

           Dr. Khalid Asy Syayi’[1]berkisah, “Seorang syiah yang yang sangat benci dengan kelompok sunni berubah menjadi penganut sunni (Islam) saat menyaksikan Tanya jawab dengan nara sumber Syaikh Bin Baz Rahimahullah.

           Syaikh ditanya, “Bagaimana hukumnya saya sebagai pejabat menghadapi 2 orang yang mengikuti tes masuk kepagawaian, yang berasal dari kelompok non sunni (Syiah) nilainya lebih bagus dari yang berasal dari kelompok sunni, apakah saya boleh mendahulukan yang sunni?”

Syaikh Menjawab, “Tidak boleh engkau lakukan, Allah berfirman;

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

           Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa” (Al Maidah:8)

           Melihat keadilan yang terbias dalam fatwa Syaikh tersebut, seorang syiah yang semula benci terhadap orang Islam meninggalkan ajarannya dan berpindah ke Islam yang murni, mengikuti Al Qur’an dan hadits.”

           Syiah tersebut tercengang dengan keadilan ahlus sunnah, sebab ajaran syiahnya selalu mendoktrin agar senantiasa benci dengan ahlus sunnah. Ketika melihat keadilan tersebut, ia mulai menyadari bahwa inilah ajaran sunnah yang benar.

(Lihat: Harta Haram Muamalat Kontemporer, DR. Erwandi Tarmizi, hal.13)




[1] Beliau memiliki pengalaman hidup yang cukup unik. Dulunya beliau adalah seorang Syaikh yang dulunya adalah seorang pemain bola, kemudian memfokuskan diri menuntut ilmu syar’i. lalu beliau banyak belajar dari Syaikh Bin Baz, hingga menjadi salah seorang murid terdekat beliau. Dan beliaupun meraih gelar Doktor dalam bidang syariah.

"Akbar - Kerana Allah Aku Tinggalkan Dunia Hiburan"



Akbar bin Azmi hafizhahullah adalah seorang vokalis, yang pernah malang melintang di dunia musik, mulai dari Rapper hingga menjadi vokalis nasyid bernama Brothers yg cukup hits nasyidnya di telinga pada "aktifis" dakwah...
Kini, beliau telah meninggalkan itu semua karena Allah...
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah 'Azza wa Jalla, kecuali Allah akan menggantikannya bagimu dengan yang lebih baik bagimu" (HR. Ahmad no 23074 dan an-Nasa-i)
Simak video berikut ini, di akhir video beliau menjadi imam sholat, dahulu suara indahnya digunakan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat dan sia-sia, kini beliau memakainya untuk melantunkan ayat-ayat Allah dengan indahnya saat menjadi imam sholat...

Kisah Berhikmah: Ya Allah, Aku Bertawakkal Kepada-Mu


Kisah Berhikmah: Ya Allah, Aku Bertawakkal Kepada-Mu

Hatim Al Asham adalah seorang laki-laki ahli ibadah dan zuhud, suatu hari ia pernah berkata kepada anak-anaknya, “Saya hendak pergi haji.” Mereka pun menangis dan berkata, “Kepada siapa kamu akan akan meninggalkan kami?”

          Dia memiliki anak putri yang diberkahi. Allah telah memberinya nikmat tawakkal dan yakin. Anak putrinya berkata, “Biarkan ayah pergi karena bukan dia yang memberikan rizki.”

          Hatim pun pergi, sedang keluarganya bermalam dalam keadaan lapar, karena perut yang kosong. Kemudian mereka pun mencela anak perempuan itu. Si anak berdoa, “Ya Allah! Janganlah Engkau permalukan aku di tengah-tengah mereka.”

          Seketika, gubernur negeri itu lewat. Dia berkata kepada kepada salah seorang pengawalnya, “Carikan air untukku!” Keluarga Hatim memberinya air dingin dalam kendi baru, lalu sang gubernur meminumnya. Gubernur bertanya, “Rumah siapa ini?” “Rumah Hatim Al Asham.” Jawab pengawalnya.

          Gubernur itu lalu mengeluarkan satu kantong emas dan berkata, “Barang siapa yang mencintaiku maka hendaklah ia melakukan seperti yang aku lakukan.” Semua pasukan lalu melemparkan harta yang mereka bawa ke dalam bejana itu. Anak perempuan itu menangis. Ibunya bertanya, “Apa yang membuatmu menangis padahal Allah telah memberikan kelapangan untuk kita?” “Lantaran seorang makhluk melihat kita sehingga kita menjadi kaya, lalu bagaimana jika Sang Pencipta yang melihat kita.” Jawab anak itu.[1] 





[1]Lihat: Hiduplah Bersama Orang-Orang Jujur, hal. 208

Kisah Islami Berhikmah: Pencuri Kok Malah Dicuri



Kisah Berhikmah: Pencuri Kok Malah Dicuri

Malik bin Dinar adalah seorang ahli ibadah yang terkenal kezuhudannya. Dia tak hanya zuhud dalam hal makanan, kediamannya pun sangat sederhana. Di rumahnya tidak ada apa pun kecuali mushaf dan pakaiannya. Tentang rumahnya ini, ia berkata, “Siapa yang masuk ke rumahku lalu mengambil sesuatu, maka itu halal baginya. Saya tak butuh tembok atau kunci.”

          Suatu ketika seorang pencuri masuk ke rumahnya. Namun ia tidak menemukan sesuatu pun. Malik bertanya, “Hai pencuri, engkau tidak menemukan apa-apa dari harta dunia. Apakah engkau ingin bagian dari akhirat?”

          “Ya,” jawab pencuri.

          “Berwudhulah dan shalat dua raka’at.”

          Pencuri itu pun melaksanakannya. Kemudian dia pergi menuju masjid bersama Malik bin Dinar. Ketika Malik ditanya tentang siapa yang bersamanya, ia lantas menjawab, “Dia datang untuk mencuri. Maka dia yang kita curi.”


Disadur dari: 101 Kisah Tabi’in, hal.370

Kisah Berhikmah: Siapa Yang Membebaskan Hutang?

                                                               http://www.globalmuslim.web.id/2014/04/hakikat-ukhuwah-islamiyah.html


Siapa Yang Membebaskan Hutang?

Dari Muhammad bin Isa, ia berkata, “Dulu Abdullah bin Mubarak sering hilir mudik ke Tharsus. Di sana ia tinggal di Raqqah, tepatnya di sebuah kedai. Ketika diam di daerah tersebut, beliau sering didatangi oleh seorang pemuda yang berulang kali datang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Beliau juga dengan setia mendengarkan keluhan pemuda tersebut. 

Suatu saat Abdullah datang kembali ke Raqqah, sedang beliau tidak lagi melihat pemuda yang dulu sering mendatanginya. Hanya saja waktu itu beliau tergesa-gesa untuk segera bergabung dengan pasukan perang.

Seusai perang beliau datang ke Raqqah dan menanyakan perihal pemuda itu. Lalu orang-orang pun menjawab, “Sekarang ia dipenjara lantaran hutang yang tidak mampu ia lunasi.” Abdullah bertanya, “Berapakah jumlah hutangnya?” Mereka menjawab, “Sepuluh ribu dirham.” Kemudian beliau mencari tahu orang yang dihutangi oleh pemuda itu.

Pada malam harinya beliau mendatangi orang yang menghutangi dan melunasinya dengan membayar sepuluh ribu dirham. Lalu beliau meminta orang itu agar tidak memberi tahukannya kepada siapa pun selama beliau hidup. Abdullah berkata kepadanya, “Esok hari tolong engkau bebaskan pemuda itu dari penjara!”

Keesokan harinya pemuda itu bebas dari penjara. Lantas dikatakan kepada pemuda itu, “Abdullah bin Mubarak sekarang ada di sini, dan beliau masih mengingatmu.”

Tatkala pemuda itu bebas dari penjara, Abdullah membuntutinya dari belakang hingga cukup jauh dari daerah Raqqah. Kemudian Abdullah menyapanya, “Wahai pemuda, kemana saja engkau selama ini? Mengapa aku tidak melihatmu lagi?”

Pemuda tersebut menjawab, “Wahai Abu Abdirrahman, aku dipenjarakan lantaran hutang.”

Lantas Abdullah menimpali, “Lalu bagaimana caramu terbebas dari hukuman itu?”

Dia menjawab, “Ada seorang yang datang melunasi hutangku. Hingga sekarang aku tidak tahu siapa orang itu.”

Abdullah berkata, “Wahai pemuda, bersyukurlah kepada Allah karena Dia telah memberikan taufik kepadamu sehingga hutang-hutangmu bisa lunas!”

Setelah itu tidak ada seorang pun yang memberi tahukan kepada pemuda itu tentang siapa yang membebaskan hutangnya, kecuali setelah Abdullah meninggal dunia.[1]




[1] Shifatush Shafwah (IV/141-142), Lihat: Dimana Posisi Kita Pada Kalangan Salaf? Hal.31-32

Kisah Berhikmah: Antara Anak Jujur dan Preman Tobat

                                                                 http://www.buyahaerudin.com/2013/03/kejujuran-itu-harga-mati.html



Kisah Berhikmah: Antara Anak Jujur dan Preman Tobat


Syaikh Abdul Qadir Al Kilani Rahimahullahberkata, “Aku membangun urusanku di atas kejujuran sejak diriku mulai tumbuh dewasa. Yaitu ketika aku pergi dari Makkah menuju Baghdad untuk menuntut ilmu, ibuku memberiku 40 dinar untuk nafkah dan berpesan agar aku selalu jujur.

Ketika sampai di daerah Hamadan, kami dihadang oleh sekelompok perampok. Mereka pun merampas kafilah. Salah seorang mereka lalu melewatiku seraya bertanya, ‘Apa yang kamu bawa?’ ’40 dinar.’ Jawabku. Dia mengira aku mencandainya sehingga dia meninggalkanku.

Yang lain melihatku dan berkata, ‘Apa yang kamu bawa?’ Aku pun menyebutkan apa yang aku bawa. Orang itu lalu membawaku menghadap pimpinan mereka. Pemimpin perampok itu menanyaiku, lalu aku sebutkan apa yang aku bawa. ‘Apa yang mendorongmu untuk jujur?’ tanyanya padaku. Aku menjawab, ‘Ibuku berpesan kepadaku agar selalu jujur. Aku takut megkhianati pesannya.’

Tiba-tiba ketakutan merasuki pimpinan perampok. Dia berteriak dan merobek-robek pakaiannya. Dia berkata, ‘Kamu takut mengkhianati pesan ibumu, tapi aku tidak takut mengkhianati janji Allah.’

Dia kemudian memerintahkan anak buahnya untuk mengembalikan semua barang yang mereka rampas dari kafilah. Pemimpin itu berkata, ‘Aku bertaubat kepada Allah melalui dirimu.’ Kemudian semua anggotanya berkata, ‘Engkau adalah pemimpin kami dalam merampok, dan hari ini engkau adalah pemimpin kami dalam bertaubat.’ Mereka semua akhirnya bertaubat karena berkah kejujuran.”



Disadur dari: 
Hiduplah Bersama Orang-Orang Jujur, Mahmud Al-Mishri, cet.I, Pustaka Arafah, th. 2008 hal. 103





Telinga dan Hidung Putus di Jalan Allah



Telinga dan Hidung Putus di Jalan Allah

Ath Thabrani meriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu,

          “Bahwasanya, Abdullah bin Jahsy Radhiyallahu anhu pernah berkata dalam perang Uhud, ‘Mengapa anda tidak berdoa kepada Allah?’

 Maka Sa’ad pergi ke suatu pojok lalu berdoa, ‘Ya Rabbi, apabila aku bertemu dengan musuh, maka pertemukanlah aku dengan musuh yang kuat, pemberani dan penuh emosi, aku akan memerangi dia sebagaimana dia memerangiku, kemudian berilah aku kemenangan dengan mampu membunuhnya lalu aku mengambil perlengkapannya.”

          Abdullah bin Jahsy mengamini doa Sa’ad, lalu dia pun memanjatkan doa, ‘Ya  Allah, pertemukanlah aku dengan musuh yang kuat dan pemberani sehingga aku akan membunuhnya di jalan-Mu dan dia juga memberikan perlawanan kepadaku, kemudian ia berhasil menguasaiku dengan menebas hidung dan telingaku.

Sehingga kelak, ketika aku datang menghadap-Mu, Engkau akan bertanya kepadaku, ‘Siapa yang menebas hidung dan telingamu ini?’ Maka ketika itu aku menjawab, ‘Semua ini aku lakukan di jalan-Mu dan karena membela Rasul-Mu Shallallahu alaihi wa Sallam semata, lalu Engkau akan berfirman, ‘Engkau benar (wahai hamba-Ku)’.”

          Sa’ad berkata (kepada putranya), “Wahai anakku, doa Abdullah bin Jahsy lebih baik dari pada doaku. Dan sungguh pada siang hari pada peperangan itu, aku benar-benar melihatnya sementara hidung dan telinganya tergantung pada seutas benang.”[1]




[1] Al Haitsami berkata, 9/303, “Perawinya adalah perawi yang shahih.” Lihat: 99 Kisah Orang Shalih hal.97

Kisah Berhikmah Wanita Penghasut & Kebutaan



Kisah
Wanita Penghasut & Kebutaan


Diriwayatkan dari Atha’, dia berkata,

          “Apabila Abu Muslim Al Khaulani pulang ke rumahnya dari masjid, dia bertakbir di depan pintu rumahnya, lalu istrinya pun bertakbir. Jika dia berada di halaman rumahnya ia bertakbir pula, maka istrinya pun menjawab takbirnya.”

          Pada suatu malam dia berpergian, kemudian setibanya di rumah ia bertakbir, namun tidak seorang pun yang menjawab. Biasanya apabila ia masuk ke rumah, istrinya segera mengambilkan sorban dan sandal kemudian menghidangkan makanan untuknya.

          Setelah ia masuk rumah, ternyata ruangan gelap, tidak ada lampu di dalamnya. Sementara ia duduk termenung di dalam rumah, menundukkan kepala sambil memainkan sebatang kayu, lalu Abu Muslim bertanya, ‘Ada apa denganmu?’

          Istrinya menjawab, ‘Engkau memiliki kedudukan di sisi Mu’awiyah dan kita tidak memiliki pembantu, kalau saja engkau mau minta pembantu kepadanya, tentu beliau akan membantu kita dan pasti memberi.’

          Abu Muslim menimpali, ‘Ya Allah, siapa saja yang telah merusak istriku, maka butakanlah matanya.’

          Sebelum itu, ada seorang wanita mendatangi Abu Muslim, ia sempat berkata, ‘Suamimu mempunyai posisi menguntungkan di mata Mu’awiyah, alangkah bahagianya kamu sekiranya kamu berbicara kepada suamimu agar dia meminta seorang pembantu kepada Mu’awiyah, pasti ia akan memenuhi permintaanmu.’

          Ketika wanita penghasut tadi sedang duduk di rumahnya, tiba-tiba ia tidak bisa melihat. Ia bertanya, ‘mengapa lampu kalian padam?’ Orang-orang menjawab, ‘Tidak!’ Maka sadarlah ia akan dosanya.

          Kemudian ia menemui Abu Muslim sambil menangis, ia mohon agar Abu Muslim berkenan untuk berdoa kepada Allah demi kesembuhan matanya. Abu Muslim pun mereasa kasihan kepadanya, lalu beliau mendoakan untuk kesembuhannya dan Allah mengembalikan penglihatannya.” [1]

          Bilal bin Ka’ab berkata, “Beberapa anak kecil berkata kepada Abu Muslim Al Khaulani, ‘Berdoalah kepada Allah agar Dia menahan burung itu untuk kami.’ Lalu dia berdoa kepada Allah Azza wa Jalla. Kemudian Allah menahannya dan anak-anak kecil tersebut mengambil burung itu.”[2]

Semoga Allah melindungi kita dari akhlak yang buruk. Amin.



Disajikan oleh: Muizzudien Abu Turob حفظه الله




[1] Al Hilyah, 2/130. Lihat: 99 Kisah Orang Shalih hal.116
[2] Popularitas di Mata Orang-Orang Bertakwa, hal. 285

Busur Panah Menakjubkan


Dalam Maghazi al-Umawi disebutkan bahwa saat kaum musyrikin naik ke puncak bukit pada perperangan Uhud, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam berkata kepada Sa’ad, “Singkirkan mereka! Pukul mundur mereka!”

 Sa’ad berkata, “Bagaimana mungkin aku menyingkirkan mereka seorang diri?” Beliau mengulangi perintah itu hingga tiga kali dan Sa’ad langsung mengambil anak panah dari tempatnya dan seorang musuh hingga terbunuh. Sa’ad bercerita, “Selanjutnya, aku mengambil anak panahku. Aku lihat lawan dan aku bidik hingga mati. Aku lalu lalu mengambil anak panah lagi, aku lihat lawan dan aku bidik hingga mati, hingga mereka semua itu turun dari tempat itu. Aku katakan, “Anak panah ini penuh keberkahan.” 

Selanjutnya ia meletakkannya ke tempatnya lagi dan anak panah itu tetap berada pada Sa’ad hingga ia meninggal, bahkan sampai diwarisi anaknya.[1]

Syaikh DR. Munir Muhammad Ghadban berkata, “Dengan mata kepala sendiri saya telah melihat busur dan anak panah Sa’ad disebuah tempat terlindung dengan kaca di sebuah rumah tua di Madinah Munawwarah tahun 1393 H. Barangkali rumah itu sudah digusur, lokasinya dekat dengan masjid Nabawi.”[2]

Dia dikenal dengan orang mustajab doanya, sedang doanya ditakuti dan diharap-harapkan. Sebab Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam telah mendoakannya,
اللَّهُمَّ سَدِّدْ سَهْمَهُ وَأَجِبْ دَعْوَتَهُ
“Ya Allah tepatkanlah panahnya, dan ijabahilah doanya.”
Di samping itu dia adalah salah satu penunggang kuda pemberani yang menjaga Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam di dalam peperangan-peperangan beliau.[3]
Muhammad bin Umar bercerita, “Ummu Aiman Radhiyallahu anha hadir dalam perang Uhud. Ia memberi minum dan mengobati yang terluka.” 


Dalam Al Kamil yang ditulis Ibnul Atsir diceritakan bahwa Ummu Aiman sedang mengobati seorang shahabat yang terluka. Tiba-tiba ia dipanah oleh Hibban bin al-Ariqah hingga terjatuh dan terbuka sedikit auratnya, dan musuh Allah itu tertawa terbahak-bahak. 

Sebuah anak panah yang tidak tajam (tumpul) diberikan kepada Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam berkata, “Bidiklah ia!” Ia pun membidiknya dan mengenai leher Hibban yang musyrik itu hingga jatuh terlentang dan terbuka auratnya. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tertawa hingga terlihat gigi-gigi geraham beliau, lalu beliau bersabda, “Sa’ad memohon untuk itu dan Allah mengabulkannya.”[4]




[1] Zadul Ma’ad, 2/95
[2] Lihat Manhaj Haroki 1/602
[3] Al Isti’ab 1/182
[4] Lihat Manhaj Haroki, 1/554