Tampilkan postingan dengan label Sejarah Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Islam. Tampilkan semua postingan

Wafatnya Sayyidah Khadijah Binti Khuwailid Wanita Termulia di Muka Bumi

Wafatnya Sayyidah Khadijah Binti Khuwailid Wanita Termulia di Muka Bumi

Dalam melaksanakan perintah Ilahi yang berat dan penuh resiko itu Sayyidah Khadijah tidak hanya mendukung Nabi Muhammad SAW, tetapi ikut membantu, memperkuat dan mendorong suaminya supaya terus maju dan tabah menghadapi berbagai macam gangguan dan penghinaan kaum kafir Quraisy. 

Ketika kaum kafir Quraisy melancarkan embargo ekonomi dan sosial terhadap semua orang Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib serta mengusir mereka ke luar dari kota, Abu Thalib dan Sayyidah Khadijah tanpa ragu-ragu tetap mengikuti Rasulullah SAW.

Duka, derita, haus dan lapar Sayyidah Khadijah tetap menyertai Rasulullah SAW. Sayyidah Khadijah rela meninggalkan rumahnya, kerabatnya dan seluruh hartanya. 

Padahal ketika itu Sayyidah Khadijah telah berusia enam puluh tahun lebih, tetapi ia tetap gigih berjuang bersama Rasulullah mengahadapi serangan kaum kafir Quraisy. Sayyidah Khadijah, Abu Thalib dan Rasulullah terpaksa harus tinggal di syi’ib (daratan sempit di antara dua bukit).

Sayyidah Khadijah RA Wafat

Embargo ekonomi dan sosial yang dilancarkan kaum kafir Quraisy terhadap Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib khususnya terhadap Nabi akhirnya gagal. 

Sejarah mencatat bahwa iman yang teguh dan perjuangan gagah berani sanggup mengalahkan maksud jahat yang hendak mengubur kebenaran Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah bersama Sayyidah Khadijah kembali pulang kerumahnya dekat Ka’bah.

Semangat dan tekad Sayyidah Khadijah tetap segar memperkuat dakwah risalah tetapi kondisi fisiknya tidak memungkinkan menangung penderitaan berat, akibat kesengsaran hidupnya selama tiga tahun di dalam Syi’ib. 

Badannya sangat lemah dan kesehatannya terus menurun karena dalam hal makan dan minum ia lebih mengutamakan Rasulullah daripada dirinya sendiri.

Enam bulan sejak embargo kaum kafir gagal, Abu Thalib paman Nabi yang senantiasa melindungi Nabi pada akhirnya meninggal dunia karena sakit. Sayyidah Khadijah tidak sempat menyaksikan wafatnya Abu Thalib karena tidak dapat meninggalkan tempat tidur karena terbaring sakit. 

Sayyidah Khadijah wafat pada tanggal 11 Ramadan pada tahun ketiga sebelum Hijriahnya Nabi. Hingga saat ia pulang kehadapan Allah, Rasulullah SAW sendiri sebagai suaminya selalu menjaga, menghibur dan membesarkan hatinya pada saat-saat menjelang ajalnya. 

Betapa berat musibah yang menimpa Nabi saat itu yang hidup berpisah dengan Sayyidah Khadijah. Bagi Nabi Muhammad SAW, Sayyidah Khadijah adalah seorang teman hidup yang mententramkan, mengibur di waktu resah dan gelisah.

Dua orang putra Rasulullah SAW telah wafat sebelum bundanya Sayyidah Khadijah, dan putri Nabi yaitu Zainab telah lama pindah mengikuti suaminya yaitu Abul Ash bin Ar-Rabi’ serta dua putri Nabi yakni Ruqayyah dan Ummu Kaltsum telah menjanda karena dicerai suaminya yang merupakan putra Abu Lahab. 

Perceraian tersebut terjadi karena Abu Lahab dan putranya berubah menjadi musuh yang paling membenci Nabi Muhammad SAW. Fatimah Az Zahra saat itu masih kanak-kanak.

Dalam kurun dua tahun, Nabi kehilangan Abu Thalib dan Sayyidah Khadijah yang mendukung dakwah kebenaran. Malaikat Jibril AS hanya mengamati kemanan dan keselamatan Nabi atas perintah Allah. Satu hal yang menentramkan Nabi saat itu adalah kesetiaan para sahabatnya, walaupun jumlahnya sedikit tetapi tetap gigih berjuang bersama Nabi. 

Ketika Sayyidah Khadijah wafat, agama Islam telah menyebar sampai batas-batas kota Mekkah dan bahkan telah sampai di negeri-negeri Arab. Selain itu, dakwah Islam juga telah sampai di Habsyah (Ethopia) dengan hijrahnya kaum muslimin ke negari tersebut.

Tidak lama sepeninggal Sayyidah Khadijah, pada musim upacara peribadatan di sekitar Ka’bah, sejumlah orang dari Yastrib (Madinah) datang ke Mekkah untuk menanyakan sumpah setia kepada Nabi. Mereka pulang ke Yastrib kemudian meminta penduduk Yastrib untuk bertekad membela Rasulullah SAW.

Benarkah Sayyidah Khadijah Sudah Tiada ?

Benarkah Sayyidah Khadijah sudah tiada ? Tidak ! Ia tetap hidup di dalam hati Rasulullah SAW. Sayyidah Khadijah bagaikan pancaran sinar di tengah gelap gulita. Benar, sepeninggal Sayyidah Khadijah, Nabi Muhammad SAW menikah namun bayangan Sayyidah Khadijah tidak sirna. 

Sayyidah Khadijah adalah istri tunggal Nabi selama seperempat abad. Sayyidah ‘Aisyah, istri Nabi yang termuda juga menjadi saksi akan betapa tingginya kedudukan Sayyidah Khadijah dalam hati Nabi Muhammad SAW. 

Pada suatu hari Rasulullah SAW menyembelih sekor kambing dan menyuruh sahabatnya memberikannya kepada teman-teman Sayyidah Khadijah. Pada hari Fathu Makkah (Jatuhnya kota Mekkah ke tangan kaum Muslimin) yakni dua puluh tahun setelah Sayyidah Khadijah wafat.

Rasulullah membuat sebuah kubah dekat pusaran Sayyidah Khadijah dan dari kubah tersebut Nabi mengamati kota Mekkah. Setelah Sayyidah Khadijah memeluk Islam menyusul kemudian berjuta-juta wanita lain di berbagai penjuru dunia  menjadi Muslim.

Kritikan Orientalis Kepada Sayyidah Khadijah

Mergiliouth dan Muir dua orang Orientalis Barat sangat anti Islam telah menilai bahwa kecintaan Nabi Muhammad SAW kepada Sayyidah Khadijah hanya karena harta kekayaan dan kedudukan wanita itu di kalangan masyarakat Quraisy. 

Sir Wiliam Muir dalam bukunya “The Life of Mohamed and The History of Islam” menyatakan : Muhammad takut kalau Khadijah minta cerai. 

H.M.H Al-Hamid Al-Husini (pakar sejarah Islam dari Indonesia) menyatakan bahwa kalau apa yang dikatakan Orientalis itu tidak benar. Mengapa kecintan Rasulullah SAW kepada Sayyidah Khadijah tetap berlangsung terus meskipun Sayyidah Khadijah telah wafat ? 

Selagi masih hidup dan sesudah wafat Sayyidah Khadijah tetap bersemayam di hati Rasulullah SAW. Sayyidah ‘Aisyah sendiri menyatakan : “Seolah-olah di dunia ini tidak ada wanita lain selain Khadijah.”

Adakah wanita lain selain Sayyidah Khadijah yang rela meninggalkan semua kemewahan dan kenikmatan hidupnya serta semua harta kekayaannya hanya karena bertekad mendampingi Nabi dan Sayidah Khadijah turut pula ikut menghadapi berbagai cobaan berat ? 

Keimanannya akan kebenaran agama yang didakwakan oleh suaminya mendorong kesiapan tekad Sayyidah Khadijah turut menyingsingkan lengan baju membantu dan melindungi keselamatan Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi penindasan dan pengejaran kaum kafir Quraisy.

Sayyidah Khadijah adalah wanita satu-satunya yang dikaruniai Allah kesempatan mendampingi manusia pilihan-Nya yang hendak diangkat sebagai Nabi dan Rasul. Ia adalah wanita pertama yang mengawal keselamatan Nabi Muhammad SAW.

Pendapat dua Orientalis tersebut adalah semata-mata terdorong oleh kebencian pada kehidupan rumah tangga manusia yang agung itu. Nabi Muhammad SAW adalah manusia agung yang di masa kritis hidupnya didampingi oleh seorang wanita yang berperangai agung dan mulia. 

Oleh karena itu pernah Malaikat Jibril datang kepada Nabi untuk menyampaikan salam khusus kepada Khadijah dari Allah. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada Ummul Mu’min Sayyidah Khadijah atas keimanan, kebajikan dan jasanya kepada Nabi, kepada kebenaran agamanya dan kepada seluruh umat Islam di Dunia.

Sayyidah Khadijah termasuk empat orang wanita terbaik dan temulia sepanjang zaman. Mereka adalah Sayyidah Maryam binti Imran, Aisyah, Ummul Mukmin Khadijah binti Khuwailid dan Sayyidah Fatimah Az Zahra. Sayyidah merupakan istri satu-satunya yang dimakamkan di kota Mekkah.

Sumber : H.M.H Al-Hamid Al-Husaini dalam karyanya “Rumah Tangga Nabi Muhammad SAW” dan diterbitkan Pustaka Hidayah. Semoga Alllah memuliakannya dan menjauhkannya dari siksa kubur serta memberkahi keluarga penulisnya (H.M.H Al-Hamid Al-Husaini.

Mengenal Rabi’ah Al Adawiyah Wanita Pelopor Tasawuf

Mengenal Rabi’ah Al Adawiyah Wanita Pelopor Tasawuf

Rabi’ah Al Adawiyah lahir di Basra, 95 H/713 Masehi di Yerusalem dan wafat 185 H/801 M. Ia seorang wanita yang zuhud dan pelopor tasawuf yang mengemukakan konsep Mahabah dalam tasawufnya. 

Nama lengkapnya adalah Ra’biah Binti Isma’il Al Adawiyah Al Qisiyyah. Ia berasal dari keluarga miskin, ditinggal mati ayahnya selagi ia masih kanak-kanak dan dirundung keperihatinan hidup pada masa remajanya.

Fakhruddin Attar (513 H/119 M - 627 H/1230 M), penyair mistik Persia dalam melukiskan keperihatinan Rabi’ah menulis bahwa ia dilahirkan di rumah, di mana tidak ada satupun yang dapat dimakan dan yang dapat dijual. 

Malam gelap gulita karena minyak untuk penerangan juga telah habis. Pada suatu hari menjelang usia remajanya ketika keluar rumah, ia ditangkap oleh penjahat dan dijual dengan harga 6 dirham.

Orang yang membeli Rabi’ah menyuruhnya mengerjakan pekerjaan yang berat, memperlakukannya dengan bengis dan kasar. Namun demikian ia tabah menghadapi penderitaan, pada siang hari melayani tuannya dan pada malam hari beribadah kepada Allah, mendambakan ridha-Nya.

Pada suatu malam tuannya melihat Rabi’ah sedang sujud dan  berdoa : “Ya Allah, Engkau tahu bahwa hasrat hatiku untuk dapat mematuhi perintah-Mu, jika aku dapat mengubah nasibku ini, niscaya aku tidak akan beristirahat sebentar pun dari Mengabdi kepada-Mu.”

Menyaksikan peristiwa ini, tuannya merasa takut pada Rabi’ah karena Rabi’ah memiliki kedekatan dengan Tuhan, tuannya pun membebaskannya.

Setelah menikmati kebebasan, Rabi’ah menjalani kehidupan Sufistik, beribadah dan berkhalwat, lebih memilih kemiskinan daripada kegemerapan duniawai. 

Ia hidupi menyendiri, tidak menikah dan enggan menerima bantuan material dari orang lain. Dengan sikap dan kesalehannya itu, namanya sebagai orang suci dan pengkhotbah makin harum.

Ia dihormati oleh orang-orang yang zuhud semasanya dan sering dikunjungi para Sufi, para Sufi yang sering berkunjung antara lain Malik bin Dinar, Sufyan Ats Sauri dan Syaqiq Al Balkhi. 

Rabi’ah memilih menempuh jalan hidup sendirian tanpa menikah, hanya mengabdi kepada Allah. Pengalaman kesufian ia peroleh bukan melalui guru, melainkan melalui pengalamannya sendiri. 

Ajarannnya dikenal melalui muridnya yang menuliskan ajaran Rabi’ah setelah Rabi’ah wafat. Terdapat beberapa keterangan mengenai tahun kematian Rabi’ah, ada yang menyebut 135 H/752 M, yang lain menyebut 185 H/801 M. 

Begitupun tempat pemakamannya, ada yang menyatakan ia dimakamkan di dekat Yerusalem dan yang lain menyatakan ia dimakamkan di Basra kota kelahirannya. Rabi’ah dipandang sebagai pelopor tasawuf mahabah (cinta mistik) yaitu penyerahan diri total kepada Allah. 

Hakikat tasawufnya adalah habbul-Ilah (mencintai Allah). Ibadah yang ia lakukan bukan terdorong oleh rasa takut akan siksa neraka atau rasa penuh harap akan pahala dan surga, melainkan semata-mata terdorong oleh rasa rindu pada Tuhan untuk menyelami keindahan-Nya yang azali (wujud abadi tanpa awal).

Mahabah sebagai martabat untuk mencapai tingkat makrifat (ilmu yang mendalam untuk mencari dan mencapai kebenaran dan hakikat) diperoleh Rabi’ah setelah melalui martabat-martabat kesufian dari tingkat ibadah dan zuhud ke tingkat rahmat dan ihsan (kebajikan) sehingga cintanya hanya kepada Allah. 

Cinta Rabi’ah kepada Allah telah memenuhi seluruh jiwa dan raganya. Ketika kepadanya ditanyakan mengenai cinta kepada Rasulullah SAW, ia menjawab: "Aku demi Allah sangat mencintai Rasul, akan tetapi cintaku kepada Al Khaliq (Maha Pencipta) telah memalingkan perhatianku dari sesama makhluk.”

Dan ketika ditanyakan kepadanya mengapa ia tidak mau menikah ? Rabi’ah menjawab: “Barangsiapa ingin memperistrikannya  maka hendaklah izin kepada Allah”. Bagi Rabi’ah dorongan mahabah kepada Allah berasal dari dirinya sendri dan juga karena hak Allah untuk dipuja dan dicintai. 

Mahabah disini bertujuann untuk melihat keindahan Allah. Puisi-puisi mahabah kepada Allah yang banyak diucapkan sufi terkenal sering dinisbatkan kepadanya, misalnya:

“Ya.. Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut kepada Neraka, bakarlah aku di dalam nerakamu dan jika aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga maka campakanlah dari dalam surga tetapi jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, janganlah engkau memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang abadi kepadaku.”

Mengenal Prof. Dr. Syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi

Mengenal Prof. Dr. Syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi

Prof. Dr Syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi lahir di Mesir tahun 1912. Ia merupakan Ulama internasional yang berasal dari Mesir. Ia menyelesaikan pendidikan menengah pada Perguruan Az Zagaziq.

Kemudian meneruskan ke Universitas Al Azhar, Mesir (Fakultas Adab, jurusan sastra Arab) di Kairo dan lulus dengan predikat sangat memuaskan. Meskipun ia lulus dari jurusan sastra Arab, ia sangat mendalami tasawuf.

Sejak muda ia dikenal sebagai orang yang berjiwa revolusioner. Ketika masih di Universitas Al Azhar, ia pernah memimpin protes terhadap rektornya yaitu Syekh Muhammad Ahmad Az Zawahir karena alumninya yang mengajar di Universitas tersebut digaji sangat rendah. 

Akibat protes itu, Syekh Muhammad Ahmad Az Zawahir dicopot dari jabatnnya dan digantikan oleh Syekh Muhammad Mustafa Al Maraghi.

Pada awal 1970 ia bermukim di Arab Saudi selama beberapa tahun. Ia kembali ke Mesir pada masa pemerintahan Presiden Anwar Sadat. Selanjutnya pada tahun 1976, ia diangkat menjadi Menteri Agama Mesir. Jabatannya ini dipegangnya sampai tahun 1978. 

Sejak di Arab Saudi, Syekh Mutawalli Asy Sya’rawi sudah dikenal lewat tulisan dan ceramahnya. Ia memiliki kemampuan istimewa dalam hal berbicara dan menulis.

Lewat ceramahnya, ia dapat menguraikan dan memecahkan persoalan-persoalan rumit dan penuh rahasia tentang keimanan, ibadah, hadis, hukum, akhlak dan muamalat. 

Karena itu ceramah yang disampaikannya senantiasa menarik hati pendengarnya yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat, tua, muda, kalangan tradisionalis maupun modernis.

Ia sering diundang ke berbagai perguruan tinggi di Eropa dan Amerika untuk berceramah tentang Islam dalam kaitannya dengan kehidupan modern. Ia mempunyai wawasan yang luas tentang kedokteran, astronomi, dan bidang eksakta lainnya. 

Karena ceramahnya yang menarik mengenai masalah perbankan Islam, ia kemudian diangkat sebagai ketua sebuah panitia konsultatif yang dibentuk oleh Gubernur Bank Sentral Mesir.

Tujuan utama panitia ini adalah menyelesaikan masalah yang terdapat di dalam Al Masraf Al Islami Ad Dauli (Badan Keuangan Negara), menengahi perselisihan di antara dewan direkturnya, dan mengawasi ciri-ciri Islam dalam tindakan badan keuangan tersebut. 

Pengalamannya sebagai konsultan masalah perbankan memberi inspirasi kepadanya untuk mendirikan sebuah Bank Islam di Austria pada tahun 1986.

Kemudian pada awal tahun 1987, ia mempelopori berdirinya Bank Islam Faisal di Mesir (Bank Faisal Al Islami Fi Misr). Syekh Mutawalli Asy Sya’rawi termasuk Ulama penulis yang produktif. 

Kemampuannya mengungkapkan pikiran dalam bentuk tulisan ternyata mengimbangi kemampuan retorikanya yang mengagumkan. Karyanya dalam bentuk buku juga sangat banyak. Yang paling populer adalah tafsir Alquran Mutawalli Asy Sya’rawi. 

Di Indonesia buku-bukunya telah banyak diterbitkan dalam bentuk terjemahan, diantaranya adalah: 
  1. Anda Bertanya Islam Menjawab (5 jilid)
  2. Bukti-Bukti Adanya Allah
  3. Menghadapi Hari Kiamat
  4. Islam di Antara Kapitalisme dan Komunisme
  5. Wanita Harapan Tuhan
  6. Keraguan Musuh-Musuh Islam
  7. Wanita dalam Alquran, dan banyak lainnya.
Pemikiran Syekh Asy Sya’rawi diuraikan dengan jelas dalam bukunya “Al Mukhtar Min Tafsir Alquran Al ‘Azhim” (Pilihan dari Tafsir Alquran).

Ia menjelaskan tujuan ibadah adalah takwa. Seorang yang bertakwa akan selalu mengikuti sifat-sifat Tuhan sehingga akan terhindar dari godaan duniawi. 

Allah mewajibkan manusia untuk beribadah setelah manusia diberi sarana berupa bumi untuk ditempati, akal untuk berpikir dan sejumlah sarana lainnya.

Ketika pemerintah Mesir menarik pajak dari rakyat untuk kepentingan pembangunan nasional, sebagian ulama menetapkan boleh membayar pajak dari uang zakat. 

Akan tetapi ia dengan gamblang menyatakan antara pajak dan zakat tidak ada kaitannya sama sekali. Menurutnya pajak adalah kewajiban setiap warga negara sedangkan zakat adalah pajak kemanusiaan.

Sasaran utama dari pemberian zakat adalah para fakir, miskin dan anak yatim. Pajak tidak dapat diambil dari uang zakat dengan dalih untuk kepentingan pembangunan. 

Selanjutnya, pandangannya dalam bidang teologi sangat dipengaruhi oleh paham Asy’ariyah. 

Ia menyatakan dalam upaya mewujudkan suatu perbuatan diperlukan minimal tujuh unsur sebagai syarat yaitu kekuatan, akal yang merencanakan, pengerahan tenaga, substansi perbuatan itu sendiri, dimensi waktu, dimensi ruang dan alat-alat.

Ternyata tidak ada satupun dari unsur tersebut yang merupakan ciptaan manusia, karena itu dapat disimpukan bahwa manusia tidak bebas dalam berbuat, ia hanya dapat menimbang atau memilih di antara dua alternatif yaitu  berbuat atau tidak berbuat.

Sumber: Ensiklopedia Islam Jilid 2 terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta.

Peristiwa Turunnya Wahyu Pertama Pada Nabi dalam Analisa Karen Armstrong

Peristiwa Turunnya Wahyu Pertama Pada Nabi dalam Analisa Karen Armstrong

Selama bulan Ramadan di sekitar tahun 610 Masehi, seorang pedagang Arab dari kota Mekkah, di Hijaz mengalami sesuatu yang akan mengubah sejarah dunia. 

Setiap tahun, Muhammad bin Abdullah bersama istri dan keluarganya menyepi di sebuah gua di gunung Hira’ di lembah Mekkah untuk melakukan semacam retreat (menyepi). 

Ini merupakan kebiasaan umum di jazirah Arab saat itu. Nabi Muhammad mengisi waktu sebulan dengan beribadah dan berdoa serta bersedekah pada kaum miskin yang mengunjunginya dalam penyucian itu.

Dari puncak gunung yang berliku, kota Mekkah yang sedang berkembang tampak jelas di daratan bawah. Seperti orang Mekkah lainya, Nabi Muhammad sangat bangga akan kotanya yang telah menjadi pusat keuangan dan hunian yang paling berpengaruh di Arab. 

Para pedagang di Mekkah menjadi lebih kaya daripada bangsa Arab lainnya di Hijaz. Orang Mekkah sangat bangga akan Ka’bah, tempat suci kuno berbentuk kubus yang terletak di pusat kota yang dipercayai banyak orang sebagai kuil Allah, Dewa tertinggi bangsa Arab.

Suku Quraisy, sukunya Nabi Muhammad bertanggung jawab atas sukses komersial Mekkah dan mereka tahu bahwa prestise mereka di antara suku-suku Arab sebagian besar dicapai karena mereka diuntungkan dengan menjadi penjaga kuil granit besar itu serta memastikan terpeliharanya kesucian tempat itu.

Seabagian orang Arab percaya bahwa Allah artinya Tuhan adalah dewa yang juga dipuja oleh orang Yahudi dan Kristen. Namun berbeda dengan penganut Injil, orang Arab sadar bahwa Tuhan tidak pernah mengirimi mereka wahyu ataupun kitab suci sendiri, meskipun mereka memiliki tempat suci-Nya di tengah-tengah mereka. 

Orang-orang Arab yang berhubungan dengan kaum Yahudi dan Kristen merasa sedikit rendah diri sepertinya Tuhan menyisihkan bangsa Arab dari rencana agung-Nya.

Namun ini berubah pada malam ke-17 Ramadan, ketika Muhammad terbangun dari tidurnya di gua Hira’ dan merasakan kehadiran sesuatu yang agung. Sosok Malaikat telah menyelubunginya dalam pelukan yang ketat sehingga terasa nafasnya seperti dipaksa keluar. 

Malaikat itu memberinya perintah tegas Iqra’! (bacalah). Muhammad memprotes karena ia tidak dapat membaca. Tetapi Malaikat itu terus memeluknya sampai dia merasa ketahannya hampir habis, kata-kata seperti wahyu keluar dari mulutnya.

Kata-kata (kalam) Tuhan terucap pertama kalinya di Arab dan Tuhan akhirnya mewahyukan Diri-Nya sendiri kepada bangsa Arab dalam bahasa mereka. Muhammad mendapati dirinya mengalami perubahan yang mendadak. 

Saat ditengah perjalanan keluar dari Gunung, Muhammad mendengar suara dari langit : “Wahai Muhammad ! Kaulah Rasul Allah dan Aku Jibril”. Muhammad SAW langsung mengadahkan kepala ke arah langit dan ia melihat Jibril dalam bentuk manusia yang kakinya membentang di cakrawala.

Dalam Islam, Jibril adalah Roh kebenaran, melaluinya Tuhan mewahyukan Diri-Nya pada manusia. Ini merupakan pengalaman yang amat besar dan menajubkan tentang suatu kehadiran yang memenuhi seluruh cakrawala. 

Dalam Kristen, hal itu digambarkan sebagai mysterium terrible et fascinans (misteri yang menakutkan sekaligus menarik) dan dalam Judaisme hal itu disebut kaddosh (kesucian).

Khadijah segara meyakinkan Muhammad bahwa Tuhan tidak bertindak secara kasar. Untuk lebih meyakinkanya, Khadijah menyarankan agar mereka berkonsultasi pada sepupunya bernama Waraqah yang telah mempelajari berbagai kitab suci. 

Warqah berkata : “Suci, suci. Jika engkau telah berkata yang sebenarnya padaku, oh Khadijah maka telah datang dalam dirinya An-Namus terbesar yang pernah mendatangi Musa dan benar dialah (Muhammad) Nabi dari masyarakatnya.” 

Ketika suatu waktu, Waraqah berjumpa Muhammad SAW di Ka’bah, Waraqah orang Kristen itu berlari menghampiri Nabi baru dari Tuhan Esa itu dan mencium keningnya Muhammad SAW.

Muhammad telah bergulat dengan pengalaman yang begitu nyata dan menakutkan di Gunung Hira’, hampir seperti Yaqub (Jacob) bergulat dengan Malaikat. Kini dia harus menyampaikan pada rakyatnya, pesan yang diperolehnya dari Illahi

Ketika Muhammad mulai menyampaikan wahyu tersebut di Mekkah, seluruh Arab  dalam keadaan perpecahan kronis. Hampir tidak mungkin bagi bangsa-bangsa Arab untuk bersatu dan itu berarti mereka tidak dapat membangun peradaban dan pemerintahan yang memungkinkan mereka mendapatkan tempat di dunia. 

Hijaz seperti dikutuk sebagai tempat barbarianisme yang biadab dan jauh dari peradaban dan 23 tahun ketika Muhammad meninggal dunia pada tanggal 08 Juni 632 Masehi, Muhammad berhasil menyatukan hampir semua suku dalam komunitas Muslim yang baru.

Muhammad memiliki bakat berpolitik dengan tatanan yang sangat tinggi, ia telah mengubah hampir seluruh kondisi ummatnya, menyelamatkan mereka dari kekerasan dan disintegerasi yang tak berguna dan memberi mereka sebuah identitas baru yang membanggakan. 

Ajaran Nabi Muhammad SAW telah membuka kekuatan besar sehingga dalam 100 tahun, kerajaan Arab meluas dari Gibraltar (Jabal Thariq) ke Himalaya.

Imam Hasan Khalifah Rasyidin yang Terakhir

Imam Hasan Khalifah Rasyidin yang Terakhir 

Prof. Dr Ali Muhammad Ash-Shalabi menyebutkan bahwa Hasan bin Ali bin Abu Thalib merupakan cucu tercinta Nabi Muhammad SAW, bahkan Nabi memanggil Hasan dan Husein sebagai putranya Nabi Muhammad SAW. 

Imam Hasan lahir di bulan purnama beberapa hari setelah terjadinya Perang Badar. Nabi menyerukan azan ditelinganya bayi yang baru lahir tersebut. Pada hari ketujuh, Nabi mengadakan akikah dengan menyembalih seekor domba dan membagikannya sebagai tanda syukur atas lahirnya cucu  tercinta.

Awalnya Imam Ali memberikan namanya Harab namun Nabi menggantinya menjadi Hasan, sebuah nama yang belum pernah dikenal bangsa Arab waktu itu. Imam Hasan dan Imam Husein mewarisi kesempurnaan tubuh dari Imam Ali dan Nabi Muhammad SAW. 

Ketika Rasulullah wafat, Hasan baru berusia tujuh tahun dan tidak lama disusul wafatnya ibunda mereka yakni Sayyidah Fatimah Az-Zahra. Imam Hasan dan Imam Husein belajar Alquran, tafsir dan hadis dari Imam Ali. 

Sampai usia dewasa, Imam Hasan dikenal sebagai orang yang jujur, suka damai dan cenderung menghindari perselisihan. Ciri-ciri perawakan Imam Hasan dan Imam Husein hampir sama yaitu tinggi sedang, berwajah lebar, tampan, putih agak kemerahan, rambut kepala yang berombak, janggutnya lebat dengan dada dan bahu yang bidang.

Imam Hasan Dipilih Menjadi Khalifah Oleh Penduduk Irak dan Persia

Imam Hasan bin Ali bin Abu Thalib dipilih dan dilantik sebagai Khalifah pada bulan Ramadan 40 Hijriah, setelah Imam Ali bin Abu Thalib dibunuh Abdurrahman bin Muljam. 

Umat Islam memilihnya menjadi Khalifah karena bapaknya tidak menentukan penggantinya. Setelah Imam Ali bin Abu Thalib wafat, Imam Hasan mensalati dan memakamkan di Kufah (Irak).

Orang yang pertama membaiat Imam Hasan adalah Qais bin Sa’ad. Imam Hasan berkata : “Demi Allah, aku hanya mau kalian baiat kalau kalian menuruti perkataanku. Jika aku berdamai maka kalian mesti ikut berdamai dan jika aku berperang maka kalian harus ikut berperang.”

Dalam riwayat Ibnu Sa’ad  disebutkan “Hasan mau dibaiat penduduk Irak dengan dua syarat yaitu mengakuinya sebagai Khalifah dan yang kedua mematuhinya dalam semua keputusan yang diambilnya.”

Imam Hasan mengetahui benar watak orang-orang kufah (Irak) yang buruk dan tidak setia kepada pemimpin mereka. Amirul Mukminin Imam Hasan bin Ali bin Abu Thalib pasca dibaiat menjadi Khalifah wilayah Hijaz, Yaman dan Irak menjadi Khalifah kurang lebih selama tujuh bulan. 

Pendapat lain mengatakan sekitar delapan atau enam bulan. Masa kekhalifahan Imam Hasan adalah bagian dari kekhalifahan Khulafaurasyidin karena masa pemerintahannya adalah penyempurna masa pemerintahan Khulafaurasyidin yang berlangsung selama 30 tahun seperti disebutkan dalam sabda Nabi dan setelah itu menjadi kerajaan.

Rasulullah SAW bersabda : “Kekhalifahan pada umatku berlangsung selama 30 tahun, kemudian setelah itu menjadi Kerajaan, (H.R At-Tirmidzi dan hadis ini hasan)”. Ibnu Katsir mengometari hadis ini di atas dengan mengatakan “Masa 30 tahun itu disempurnakan oleh Khalifah Imam Hasan bin Ali, karena ia menyerahkan jabatannya kepada Muawiyah pada rabiul awal 41 Hijriah."

Kaum Sunni meyakini kekhalifahan Imam Hasan bin Ali adalah Kekhalifahan yang sah dan bagian yang menjadi penggenap masa Kekahalifahan Nabi yang diberitakan Rasulullah SAW sesuai hadis yang telah disebutkan di atas.

Pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Sayyidah Khadijah

Pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Sayyidah Khadijah 

Sayyidah Khadijah adalah seorang wanita yang sudah mengalami manis pahitnya berumah tangga. Ia pernah menikah dua kali dengan dua orang pria terpandang dalam masyarakat yaitu ‘Atiq bin ‘Aid bin ‘Abdullah Al-Makhzumiy dan Abu’ Halah Hindun bin Zararah At-Tamimiy. 

Dalam kegiatan mengemudikan perniagaan ia banyak memperkerjakan laki-laki. Akan tetapi di antara mereka semua dalam pandangan Khadijah tidak ada seseorang pun yang memiliki sifat-sifat dan perangai mulia seperti Muhammad SAW.

Dalam waktu yang cukup lama Sayyidah Khadijah tercekam pikiran dan perasaanya oleh harapan untuk dapat hidup berdampingan dengan seorang pemuda yang anggun dan berbudi, seorang pemuda Bani Hasyim yang menjadi buah bibir masyarakat. 

Hati Khadijah RA terbenam dalam asmara, ia sadar telah jatuh cinta kepada Nabi Muhammad SAW tetapi apakah cinta yang meronta di dalam dadanya itu akan mendapat sambutan?

Jika cintanya mendapat sambutan, bagaimanakah pandangan masyarakat terhadap dirinya? Bukankah ia sudah dikenal sebagai seorang janda yang tidak berniat membangun rumah tangga lagi karena kepahitan pernikahan masa lalu? 

Beberapa kali sudah Khadijah RA menolak lamaran sejumlah pria tepandang dari kalangan masyarakatnya, apa yang akan dikatakan para tokoh yang pernah melamarnya?

Sayyidah Khadijah kadang-kadang merasa malu kepada dirinya sendiri, karena ia menyadari usianya sebanding dengan usia Sayyidah Aminah binti Wahab (bibi Muhammad SAW). Ia membayangkan seandainya Aminah masih hidup tentunya sebaya dengan dirinya. 

Lebih-lebih lagi ia telah memiliki dua orang anak dari suaminya terdahulu. Kadang-kadang Khadijah RA merasa putus asa lalu berkata dalam hati “Apa gunanya pohon asmara yang tidak dapat diharapkan buahnya?”

Dalam suasana keresahan dan kebingungan melanda pikiran Sayyidah Khadijah, datanglah sahabat wanitanya bernama Nafisah binti Munayyah. Nafisah bukan sekedar teman biasa namun sudah dianggap Khadijah sebagai saudarinya sendiri. 

Karena itu tidak ada soal pribadi yang harus dirahasiakan Khadijah RA kepadanya. Kini tahulah sudah Nafisah apa yang bergejolak di dalam hati Khadijah RA, Nafisah rela menjembatani hubungan yang hendak dibangun Khadijah RA dengan Muhammad SAW.

Nafisah menemui Muhammad SAW, Nafsisah bertanya pada beliau mengapa beliau lebih suka menyendiri, bukankah lebih baik dan lebih tentram kalau beliau berumah tangga, hidup didampingi seorang istri yang akan menghilangkan rasa kesepiannya ? 

Nabi Muhammad SAW berkata: “Dengan siapa aku dapat beristri?”. Belum selesai beliau mengucapkan kata-katanya, Nafisah cepat-cepat melanjutkan pertanyaan: “Jika anda dikendaki oleh seorang wanita rupawan, hartawan dan bangsawan, apakah anda bersedia menerimanya ?”.

Mendengar pertanyaan itu, Nabi Muhammad SAW mengerti siapa yang dimaksud Nafisah. Tanpa memperpanjang percakapan lagi, Nafisah segera meminta diri meninggalkan tempat dan meninggalkan Nabi Muhammad SAW seorang diri dengan segala gejolak pikiran dan perasaannya. 

Beliau sudah sering mendengar berita bahwa Khadijah RA sudah sering menolak lamaran tokoh-tokoh terkemuka dan kaya. Pada mulanya beliau agak terpengaruh pikirannya oleh apa yang dikatakan Nafisah, tetapi pada akhirnya beliau sanggup mengendalikannya dan terserah pada kenyataan nanti. 

Beliau segera menuju Ka’bah dan berthawaf sebagaimana yang sudah biasa dilakukan. Di tengah jalan beliau disapa oleh seorang perempuan tua yang oleh masyarakat Makkah dikenal sebagai tokoh peramal. 

Perempuan tua itu berkata pada Muhammad SAW: “Hai Muhammad, Anda tampaknya baru saja melamar Khadijah?. Beliau menjawab: “Tidak”. Perempuan tua itu segera melanjutkan kata-katanya: “Mengapa ? Demi Allah, di kalangan Quraisy tidak ada perempuan sepadan (sekufu’) denganmu walau Khadijah sekalipun.”

Muhammad SAW tidak menghiraukan apa yang dikatakan perempuan tua itu. Beliau hanya tersenyum lalu tersenyum lalu terus berjalan menuju Ka’bah. Beberapa minggu setelah bertemu dengan Nafisah, beliau menerima undangan dari Khadijah untuk datang kerumahnya bersama dua orang pamannya yaitu Abu Thalib semoga Allah meridainya dan Hamzah semoga Allah meridainya.

Di rumah Khadijah RA sudah menunggu beberapa orang dari kaum kerabatnya. Segala sesuatu tampak dipersiapkan rupa untuk menerima kedatangan tamu penting. 

Abu Thalib berkata “Muhammad adalah seorang pemuda yang tidak ada tolak bandingnya di kalangan kaum Quraisy. Ia melebihi semua pemuda dalam hal kehormatan, kemuliaan, keutamaan dan kecerdasan. 

Meskipun ia bukan orang kaya namun kekayaan itu dapat lenyap, karena setiap titipan pasti akan diminta kembali. Ia mempunyai keinginan terhadap Khadijah binti Khuwailid, begitu pula sebaliknya”.

Paman Khadijah RA yang bernama ‘Amr bin Asad bin ‘Abdul-‘Uzza bin Qushaiy yang dalam pertemuan itu bertindak selaku wali menyahut setelah membenarkan apa yang dikatakan oleh Abu Thalib dan memuji-muji Muhammad SAW, ia berkata “Kunikahkan Khadijah dengan Muhammad atas dasar maskawin bernilai dua puluh barkah”. 

Menurut riwayat Ibnu Ishaq dan Az-Zuhriy yang menikahkan Khadijah ketika itu adalah ayahnya sendiri. Usai Ijab kabul, pernikahan diselenggarakan walimah (pesta pernikahan) dengan menyembelih beberapa ekor unta dan kambing, dihadiri oleh sahabat dan kerabat kedua pengantin. 

Di antara mereka ternyata hadir Sayyidah Halimah As-Sa’diyyah dari daerah permukiman Bani Sa’ad yang cukup jauh dari Makkah. Sayyidah Halimah datang untuk menyaksikan pernikahan Muhammad SAW sebagai anak susuannya waktu masih bayi. 

Ketika pulang ke daerah asalnya, Sayyidah Halimah dibekali sejumlah bekal makanan dan empat puluh kepala kambing oleh Khadijah RA sebagai tanda terimakasih atas jasa-jasanya mengasuh suami tercinta di masa kanak-kanak.

Lima belas tahun sudah sejak pernikahan Khadijah RA dengan Muhammad SAW. Selama itu kehidupan dua orang suami istri sangat harmonis, tidak pernah terjadi soal-soal yang menggangu pikiran dan perasaan kedua belah pihak. 

Hubungan yang dijalin dengan cinta dan kasih sayang itu bukan hanya menjadi teladan bagi semua rumah tangga di Mekkah, melainkan juga dibicarakan oleh sejarah sepanjang zaman. 

Nikmat kebahagian yang dikaruniakan Allah itu dimahkotai dengan kelahiran dua orang putra dan empat orang putri, mereka adalah Al-Qasim, ‘Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah az-zahra semoga Allah senantiasa meridai mereka semua. 

Suratan takdir yang telah dikehendaki Allah tak terelakan, betapa pedih dua orang suami-istri yang bahagia itu karena dua orang putranya wafat dalam usia kanak-kanak.

Sayyidah Khadijah Binti Khuwailid Cinta Pertama Nabi Muhammad SAW

Sayyidah Khadijah Binti Khuwailid Cinta Pertama Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW bersabda: Allah tidak memberi kepadaku istri yang lebih baik dari Khadijah. Ia beriman kepadaku di kala semua orang mengingkari kenabianku. Ia membenarkan kenabianku di kala semua orang mendustakan diriku. 

Ia menyantuni diriku dengan hartanya dikala semua orang tidak mau menolongku. Melalui dia, Allah menganugerahi anak kepadaku, tidak dari istri yang lain. (Diketengahkan oleh Ibnu ‘Abdu Birr di dalam Al Isti’ab).

Sebagaimana termaktub di dalam buku-buku sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW, beliau ditinggal wafat ayahandanya sewaktu masih berada di dalam kandungan bundanya. Kemalangan demi kemalangan menimpa nasib beliau sebagai anak yatim. Dalam perjalanan pulang ke Mekkah bundanya wafat di pedusunan bernama Abwa.

Oleh pembantu ibunya yang bernama Ummu Aiman, Muhammad SAW yang masih kecil diserahkan kepada datuknya yang lanjut usia bernama Abdul Muthalib. Seusai Abdul Muthalib wafat, Nabi yang masih kecil diasuh pamannya bernama Abu Thalib. 

Meskipun Abu Thalib bagi masyarakat Quraisy merupakan seorang pemimpin yang dihormati, tetapi Abu Thalib tidak termasuk jajaran tokoh Quraisy yang kaya. Di tengah suasana hidup serba kekurangan itulah Muhammad SAW dibesarkan.

Setelah selama 17 tahun hidup di bawah naungan pamannya, beliau berpikir hendak membantu meringankan penghidupan Abu Thalib, setidak-tidaknya hidup mandiri tanpa menjadi beban yang memberatkan pamannya. 

Muhammad SAW sering duduk sendiri merenungi kemalangan hidup yang menimpa dirinya sejak masih dalam buaian. Abu Thalib berkata padanya: 

“Anaku, aku ini seorang yang tidak berharta, bertahun-tahun kita hidup menderita. Kita tidak mempunyai barang dagangan apapun yang dapat dijual dan tidak mempunyai uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sekarang kafilah Quraisy siap berangkat ke negeri Syam membawa barang-barang dagangan Khadijah.”

Seanjutnya, Abu Thalib berkata: Seumpama engkau mau datang kepadanya untuk keperluan itu tentu ia akan lebih mengutamakan dirimu daripada orang lain, karena sudah banyak mendengar kabar tentang kejujuran dan kesucian hatimu. 

Sebenarnya aku tidak suka engkau berpergian ke Syam, karena saya mengkhawatirkan keselamatanmu di tengah-tengah orang Yahudi. 

Saya mendengar bahwa Khadijah sudah menunjuk seseorang tenaga tambahan, saya tidak rela kalau ia memberi bagian keuntungan kepadamu seperti yang diberikan kepada orang itu ! Setujukah engkau kalau persoalan itu kusampaikan kepada Khadijah ? 

Muhammad SAW pun menyetujuinya.
Pergilah Abu Thalib menemui Khadijah, ternyata apa yang dikatakan olehnya dapat disetujui, bahkan diterima oleh Khadijah dengan segala senang hati. 

Kemudian berangkatlah Muhammad SAW bersama kafilah ke negeri Syam. Dalam waktu tidak beberapa lama semua barang dagangan yang dibawa oleh kafilah habis terjual. Setiap anggota kafilah (rombongan) menghitung-hitung laba. 

Nabi Muhammad SAW terlambat pulang bersama kafilah karena beliau singgah ke perkampungan Abwa untuk menziarahi ibunda beliau Sayyidah Aminah. Dalam perjalanan tersebut, Khadijah menyuruh Maisarah membantu Nabi Muhammad SAW selama perjalanan. 

Sebelum berangkat Khadijah telah berjanji akan memberi bagian keuntungan kepada Muhammad SAW lebih banyak daripada yang diterima orang lain, yaitu dua kali lipat.

Setelah beberapa saat menatapkan pandangan matanya ke arah pusaran bundanya, beliau bergerak dengan untanya. Beliau teringat akan peristiwa sedih dalam perjalanan beliau yang pertama ke Yastrib (Madinah) bersama bundanya berziarah ke makam ayahandanya, kemudian di dalam perjalanan pulang ke Makkah bundanya wafat di Abwa.

Tibalah kafilah Quraisy di Makkah dengan selamat. Keluarga dari masing-masing anggota kafilah menyambut berbondong-bondong mengerumuni unta-unta yang masih tampak letih. Mereka bergembira menyambut kedatangan keluarganya masing-masing. 

Itulah mereka, tetapi Nabi Muhammad saw siapakah yang menyambut kedatangan Muhammad SAW ? Beliau langsung menuju ke rumah Khadijah setelah beberapa kali berthawaf di Ka’bah. Maisarah yang datang lebih dahulu langsung menemui Khadijah. 

Maisarah menceritakan perilaku Nabi Muhammad SAW selama berniaga ke Syam. Cerita Maisarah itu menarik perhatian Khadijah. Ketika Muhammad SAW menuju ke arah rumahnya Khadijah, Khadijah yang tak sabar menanti Muahmmad SAW cepat turun menyambut kedatangan beliau. 

Dengan ramah dan suara lembut Khadijah mengucapkan selamat datang seraya berada di depan pintu. Sejenak Muhammad SAW mengangkat kepala dan dua mata saling beradu pandang. Nabi Muhammad SAW malu tersipu-sipu dan segera membuang pandangannya ke arah lain.

Beliau mengangguk tanda pernyataan terima kasih atas kesempatan berniaga yang diberikan oleh Khadijah. Khadijah saat itu diam terpaku. Lidahnya terasa sulit bergerak untuk mengucapkan kata-kata. 

Khadijah Terpesona menyaksikan kejujuran seorang pria yang dipercayainya berniaga menjualkan barang daganganya. Khadijah menyerahkan bagian keuntungan yang telah dijanjikan sebelumnya.

Hingga beliau beranjak meninggalkan tempat, Khadijah masih termangu-mangu. Dengan suara lirih dan irama sejuk Khadijah mengucapkan “selamat jalan”. Beliau tampak makin jauh meninggalkan rumah Khadijah, tetapi janda rupawan dan hartawan yang berusia empat puluh tahun itu tetap mengarahkan pandangan matanya ke arah beliau yang makin lama makin menjauh.

Beliau pulang ke rumah pamannya, Abu Thalib dengan perasaan lega dan gembira, pertama karena beliau tiba kembali ke Makkah, selamat dari gangguan orang-orang Yahudi di Syam dan kedua karena beliau dapat meringankan beban penghidupan pamannya sekeluarga. (saksikan kelanjutannya).

Sumber : H.M.H Al-Hamid Al-Husaini dalam Rumah Tangga Nabi Muhammad SAW diterbitkan Pustaka Hidayah, 2007.

Keunggulan Sayyidah ‘Aisyah dalam Kesusastraan

Sumber gambar: Iqra.id

Keunggulan Sayyidah ‘Aisyah dalam Kesusastraan

Setiap ucapan yang meluncur dari lisan Sayyidah ‘Aisyah senantiasa dapat menjadikan para pendengarnya terkagum-kagum dan terpesona, hal ini disebabkan kefasihan lidah beliau dalam melafazkan susunan kata dan kalimatnya selalu disertai nada keseimbangan dalam nilai syairnya.

Apapun yang dikatakannya seakan-akan sedang membaca puisi yang indah, laksana beliau sedang bersyair. Itulah yang membuat para pendengar bagaikan terpukau, kagum dan takjub serta menaruh hormat yang setinggi-tingginya. 

Muawiyah bin Abu Sufyan berkata: “Demi Allah, aku belum pernah mendengar sama sekali ada orang yang lebih luas ilmunya dan lebih fasih lidanya daripada Sayyidah Aisyah, kecuali Rasulullah SAW.”

Al Ahnaf bin Qais berkata : “Aku pernah mendengar khotbah yang disampaikan oleh Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib bahwa mereka berkata tiada satu kalimatpun atas suatu percakapan yang aku dengar dapat memadai dengan apa yang meluncur dari lisan makhluk yang lebih baik daripada yang meluncur dari lisan Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu.

Tidak pelak lagi pengetahuan kesusastraannya yang amat luas dan tinggi serta mendalam dan senantiasa tercurah dari rongga dadanya merupakan karunia Allah semata-mata. Akan tetapi disamping itu Sayyidah Aisyah merupakan putri Abu Bakar Ash Siddiq yang merupakan tokoh yang terpandang dan cerdas dan menguasai seluk beluk sejarah bangsa Arab di Mekkah. 

Sayyidah Aisyah memperoleh ilmu yang berlimpah ruah tentang hal-hal yang tersangkut dengan segi-segi kehidupan bangsa Arab dalam berbagai aspeknya, serta sejarah bangsa Arab.

Sayyidah Aisyah mampu membawakan syair hingga sebanyak enam puluh bait secara berturut-turut (atau sekaligus) bukan syair sembarang syair akan tetapi syair yang sarat mengandung nilai-nilai falsafah yang mengumandangkan makna serta pengertian yang luas dan mendalam. 

Urwah semoga Allah senantiasa meridai-Nya berkata pada Sayyidah Aisyah : “Wahai ibu, kudapati anda memahami benar tentang sejarah bangsa Arab dan hal ihwal serta asal usul keturunan mereka dan juga tentang syair-syairnya”. 

Selain itu, yang membuat kita kagum adalah karunia kecerdasan yang dilimpahkan oleh Allah kepada beliau dan kecakapan perasaan serta ingatan yang tajam yang mampu merekam segala sesuatu yang disaksikannya dan disimaknya.

Kejernihan akal, daya ingat dan kemampuannya dalam menyerap segala sesuatu, tidak saja mampu, tetapi juga sanggup membuat pertimbangan. Hingga tiadalah yang mustahil apabila dengan kemampuan beliau yang demikian hebat itu beliau menjadi orang yang memiliki kefasihan lidah.

Sayyidah Aisyah Radhiyallahu ‘Anha benar-benar mengerti bahwa Al-Qur’an mempunyai pengaruh yang amat besar dalam upaya peningkatan kemampuan bagi mereka yang memiliki bakat dalam ilmu sastra bahasa Arab. 

Sayyidah Aisyah mengharapkan dan senantiasa menganjurkan kepada para murid asuhnya agar mendalami dan menghayati isi kandungan Al-Qur’an, sehingga mereka menjadi sastrawan-sastrawan yang mahir dalam menyusun kalimat serta memahami cara penggunaan kata demi kata.

Sayyidah Aisyah adalah orang yang datang ke meja makan di mana Al-Qur’an disajikan, yang bagi para Ulama tidak pernah merasa kebyang serta tidak akan pernah menghilangkan rasa dahaga bagi mereka para sastrawan. 

Sayyidah Aisyah dengan kecermatan pengertian dan penguasannya dalam ilmu Al-Qur’an berani menentang siapa saja yang berbicara dalam pembicarannya yang tidak menggunakan lafaz-lafaz Al-Qur’an secara benar.

Qairawan atau Kairouan Pusat Peradaban Ilmu Pengetahuan Islam

Masjid Agung Qairawan/Kairouan

Qairawan atau Kairouan Pusat Peradaban Ilmu Pengetahuan Islam 

Qairawan atau Kairouan merupakan sebuah kota di Afrika Utara yang dibangun pertama kali tahun 670 oleh Uqbah bin Nafi (wafat Agustus 685 M), Gubernur dari Dinasti Umayyah di Afrika Utara. 

Dari abad ke-7 sampai abad ke-9, kota ini menjadi ibukota Maghrib (Afrika Utara) yang memerintah lima negara yaitu Tripolitania, Tunisia, Maghrib al-Aqsa (Maroko) dan Andalusia (Spanyol).

Arti penting Qairawan atau Kairouan dalam sejarah Islam tercatat dalam tiga hal yaitu sebagai kota benteng dan kota perjuangan umat Islam, sebagai pusat futuhat (ekspansi) Islam dan Islamisasi di Afrika dan sebagai salah satu pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan di Dunia Islam.

Qairawan atau Kairouan Kota Benteng dan Perjuangan

Ketika pasukan umat Islam di bawah pimpinan Uqbah bin Nafi berhasil menguasai Afrika Utara pada tahun 666 M, Uqbah memutuskan untuk menjadikan Qairawan sebagai tempat pemusatan kekuatan pasukan Muslim Arab. 

Selanjutnya kota ini menjadi ibukota pemerintahan Islam di Afrika Utara dan menjadi kota internasional, sebab disitu berdiam bangsa Arab, Barbar, Persia, Romawi dan lainnya.

Kota ini dimaksudkan untuk menghindarkan gangguan dari Armada Romawi. Qairawan menjadi kota perjuangan setelah menjadi pusat kaum Muslimin Afrika. 

Pada tahun 683 M, kota ini direbut Kuseille penguasa Bizantium Roma, tetapi pada tahun 688 M, kota Qairawan berhasil direbut umat Islam di bawah pimpinan Zuhair bin Qais. 

Sekitar tahun 800-an, kota ini dikuasai Dinasti Aglabiyah dan tahun 909 M, kota Qairawan dikuasai Dinasti Fatimiyah, dan tahun 1214-165, Qairawan dikuasai Daulah Al Marina.

Qairawan/Kairouan Pusat Futuhat (Ekspansi) dan Islamisasi

Dalam pengembangan Islam. Kota Qairawan mempunyai sumbangan yang amat penting sebagai pusat dan titik tolak Islamisasi Afrika. Dari kota inilah dilancarkan usaha-usaha untuk menyebarkan Islam di kalangan bangsa Barbar. 

Jalan futuhat (ekspansi) umat Islam itu antara lain dapat dilihat ketika Abdul Mujahir yang pernah menggantikan Uqbah bin Nafi, merebut Pulau Elba dari tangan Bizantium.

Ketika Uqbah berkuasa untuk kedua kalinya, ia telah merebut daerah Grid di tenggara Tunis, selanjutnya Maroko Tengah, Sousjauh (Barat Laut Aljazair), tempat pemukiman suku Asafa. 

Bahkan umat Islam di bawah pimpinan Musa bin Nusair berhasil membawa Islam ke Andalusia (Spanyol) pada tahun 707 M.

Menyusul futuhat tersebut, khususnya di Afrika pada tahun 718 M, Khalifah menempatkan suatu misi di sana yang terkenal dengan nama “Misi Sepuluh Ulama.” 

Misi ini berhasil mengajak orang Barbar untuk menerima Islam. Bahkan orang Barbar kemudian turut berperan dalam membawa Islam ke daerah Andalusia.

Pusat Kebuadayaan dan Ilmu Pengetahuan

Kota Qairawan atau Kairouan dibangun dengan gaya arsitektur Islam dilengkapi dengan berbagai gedung, Masjid, rekreasi, puasat perdagangan, industri, militer dan sebagainya. 

Masjid Qairawan berdiri sangat megah, Masjid Qairawan dibangun tahun 675 M. Pada tahun 718 M, Masjid Qairawan diperbaiki dan diperluas lagi oleh Gubernur Afrika Utara yatu Yazid bin Haitam. 
Gambar bagian dalam masjid Qairawan

Setelah mengalami perbaikan beberapa kali, akhirnya Masjid itu menjadi kebanggan muslim Afrika Utara, terutama  dengan kubahnya yang terkenal dengan nama “Qutabul Bahwi”.

Perguruan Tinggi Qairawan berada di kota Fez (Maroko) yang dikenal dalam literatur Barat dengan ejaan “Karaouine”. 

Perguruan Tinggi ini dibangun pada tahun 245 H/859 M oleh putri seorang saudagar kaya bernama Fatimah al-Fihri di kota Fez yang berasal dari kota Qairawan pada waktu Daulah Idrisiyah (789-924 M) masih menguasai wilayah Afrika Barat sampai ke Senegal dan Guinea.

Pada tahun 305 H/918 M, Perguruan Tinggi ini diserahkan kepada pemerintah dan sejak itu Perguruan Tinggi Qairawan menjadi Perguruan Tinggi Negeri dan di bawah dan pembiayaan negara. 

Menurut sebuah sumber, puncak kejayaan Perguruan Tinggi Qairawan dimulai abad ke-12 hingga abad ke-15 M, pada waktu Afrika Utara di bawah kekuasaan Daulah Al Muwahhidun (1120-1231 M) dan Daulah Al Marina (1214-1465 M).

Kedua Dinasti itu pelindung itu pelindung ilmu pengetahuan dan pembangunan monumen-monumen arsitektur yang amat indah di Fez. Pada masa itu, Perguruan Tinggi Qairawan bukan hanya menarik Mahasiswa dari Afrika serta Dunia Islam lain, tetapi juga Eropa. 

Menurut sumber tersebut, diantara Maha guru dan Mahasiswanya tercatat adalah Ibnu Khaldun, Ibnu Khatib, al-Bitruji, Ibnu Hazm, Ibnu Bajjah, dan Al-Farabi, Ibnu Rusyd, Ibnu Tufail, Ibnu Hazm.

Gerbert of Aurillac (930-1003 M) yang kemudian menjadi Paus Sylvester II dan menemukan angka Arab dan memperkenalkannya ke Eropa untuk menggantikan angka Romawi juga termasuk tokoh yang pernah belajar di Perguruan Tinggi Qairawan. 

Selain itu, Ibnu Maymun (Maimonides, ahli pikir Yahudi terkenal) juga belajar di Perguruan Tinggi Qairawan di bawah asuhan Abdul Arabi bin Muwashab. 

Di antara sekian banyak alumni Perguruan Tinggi Qairawan, ada pejuang Muslim terkenal bernama Allal Al Fassi dan Mahdi Ben Barka yang berhasil memperjuangkan kemerdekaan Maroko dari penjajahan Prancis sehabis Perang Dunia II, lalu menjabat Perdana Menteri Maroko di bawah Sultan Muhammad V.
Gambar Perguruan Tinggi Qairawan 

Sampai saat ini Perguruan Tinggi Qairawan masih hidup dan merupakan Perguruan Tinggi tertua di dunia disusul Universitas Al Azhar di Mesir dan Perguruan Tinggi Qairawan lebih tua dari Universitas Oxford (didirikan 1163 M), Universitas Cambridge (didirikan 1209 M), Universitas Sarbone di Prancis (didirikan 1253 M).

Sumber : Ensiklopedia Islam terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta.

Pembebasan Armenia di Masa Khalifah Utsman bin Affan

Pembebasan Armenia di Masa Khalifah Utsman bin Affan

Pada masa Umar bin Khattab, kedaulatan Islam sudah membentang jauh dari ujung Persia Timur sampai di perbatasan Sirenaika dan Tripoli di Barat, dari Laut Kaspia di Utara sampai ke Nubia di Selatan. 

Negeri-negeri yang sudah dibebaskan  oleh pihak kaum Muslimin dalam kedaulatan itu percaya bahwa mereka takan dapat terkalahkan. Daerah Azerbaijan dan sekitarnya dari arah Barat, ialah yang terakhir ditaklukan oleh pihak kaum Muslimin di kawasan Persia pada masa Umar bin Khattab.

Letak Azerbaijan ke arah Barat daya dari Laut Kaspia tanah pegunungan yang ketinggiannya dari permukaan Laut sekitar 1500 Meter dengan puncak-puncak Gunung yang ada mencapai 4000 Meter. Ketika dimasuki pasukan Muslimin di tempat ini terdapat banyak sekali tempat penyembahan api. 

Kawasan ini ditaklukan oleh Utbah bin Farqad yang kemudian mengadakan persetujuan pihak Azerbaijan dengan izin Huzaifah bin Yaman. Untuk mereka dibuatkan jaminan tertulis mengenai keamanan daratan, di pegunungan, mengenai upacara-upacara keagamaan mereka serta masyarakatnya, mengenai jiwa dan harta benda mereka, segala keyakinan mereka dengan syarat mereka membayar jizyah (pajak) sesuai dengan kemampuan.

Dari Azerbaijan ini penaklukan meluas ke Bab dan Mauqan. Sesudah kedua kota itu ditaklukan oleh pihak kaum Muslimin, Abdurrahman bin Ra’biah pindah, untuk kemudian menyerang Turki yang bertetangga. Tetapi mereka berlindung ke pegunungan dan ketika dia bersiap-siap meneruskan perjalanan ke tempat mereka berlindung itu, tiba-tiba datang berita tentang kematian Umar bin Khattab. 

Penaklukan Turki ditinggalkan, ia tetap tinggal di tempat semula sambil menunggu perintah Utsman bin Affan lebih lanjut. Adakah Utsman bin Affan mengeluarkan perintah untuk meneruskan penyerangan ? Tidak ada sumber yang menyatakan Utsman bin Affan memerintahkan penaklukan.

Di masa Utsman bin Affan, negeri Azerbaijan menolak membayar jizyah (pajak) sebesar 8.000 dirham yang sudah disetujui dengan Huzaifah dan bahwa ketika Walid bin Uqabah berangkat ke sana, persetujuan dengan Huzaifah diberlakukan kembali.

Keberangkatan Walid bin Uqabah terjadi tahun 24 Hijriah yakni beberapa bulan sesudah Utsman bin Affan menjadi Khalifah. Utsman bin Affan tanpa ragu mengirim Walid bin Uqabah untuk menyerang mereka agar mereka kembali membayar jizyah (pajak). 

Di samping itu, Walid mengirim Abdullah bin Syabil bin Auf Al Ahmasi ke Mauqan, Bir dan Tailasan, semua ini terletak di dekat Azerbaijan untuk menyerang mereka. Sekarang mereka percaya lagi bahwa pihak kaum Muslimin kuat dan kekuasaan mereka besar.

Penaklukan Armenia 

Letak Armenia berdekatan sekali dengan negeri-negeri yang sudah dibebaskan oleh Walid bin Uqabah yang berangkat bersama para Komandan dan pasukan yang berada di bawah pimpiannya. 

Pada kurun waktu tertentu sebelum kekhalifahan Umar bin Khattab, Armenia merupakan negeri merdeka kemudian Armenia dibagi-bagi antara Persia dan Romawi. Waktu itu Armenia lebih luas daripada yang kita kenal sekarang. 

Al Balazuri menyebutkan bahwa waktu itu Armenia terbagai menjadi Armenia pertama dan Armenia kedua, Armenia ketiga dan Armenia keempat dengan menyebutkan nama-nama kota yang terletak di tiap-tiap daerah itu.

Armenia yang terbentang dari Syamsyat di sebelah Barat sampai ke Taglib dan Laut Kaspia di sebelah Timur. Tatkala dalam Kekhalifahan Umar pihak Muslimin berhasil mengusir Heraklius dari Syam kemudian menaklukan Antakiah, Hims dan seluruh Syam bagian Utara, Khalid bin Walid berangkat ke Armenia dan menyerang Mar’asy, Syamsyat dan kota-kota didekatnya yang masih berada di bawah kekuasan Romawi.

Setelah itu ia kembali ke Syam dengan membawa hasil rampasan perang dan jarahan tanpa membuat perjanjian keamanan atau jizyah (pajak) dengan mereka. Menyusul kemabalinya itu, Umar bin Khattab menempatkannya di Kinnasrin. 

Sesudah kemudian pihak Romawi mengirimkan pasukan dengan kapal-kapal ke Antakiah lalu memberontak, dan kota-kota Himis, Halab (Aleppo) dan daerah-daerah di Utara Syam juga begolak, Muslimin mengerahkan pasukan berkuda dan pasukan pejalan kaki di kawasan itu.

Mereka mengepung pasukan Romawi dan berhasil mengusirnya. Kemudian Iyad bin Ganam menyeberanginya sementara Khalid bin Walid dan anak buahnya menuju Armenia dan meneruskan perjalanan sampai ke Amid dan Ruha. Baik Khalid bin Walid dan Iyad bin Ganam tidak membuat persetujuan keamanan dan jizyah (pajak) dengan pihak Armenia. Armenia tetap lepas dan tidak berada di bawah pihak kaum Muslimin.

Persia dan Romawi di Belakang Pemberontakan Azerbaijan dan Armenia

Balazuri dalam kitabnya “Futuhul Buldan” menyebutkan bahwa sesudah Utsman bin Affan menjadi Khalifah, ia menulis surat kepada Mu’awiyah bin Abu Sufyan dengan perintah supaya ia mengirim Habib bin Maslamah Al Fahri ke Armenia, sumber lain menyebutkan bahwa Utsman bin Affan sendiri yang menulis kepada Habib untuk menyerang Armenia.

Mereka menyerbu Qaliqala, kemudian mengajak damai dan membayar jizyah (pajak). Beberapa bulan kemudian, Armenia meminta bantuan Romawi untuk mengarahkan pasukan besar-besaran untuk menyerang kaum Muslimin. Habib meminta bantuan kepada Utsman bin Affan dan Muawiyah. Muawiyah mengirim pasukan tambahan  berjumlah 2000 personel.

Salaman bin Rabi’ah al-Bahili atas perintah Walid bin Uqabah berangkat ke Armenia yang dikuasai Persia dan Habib bin Maslamah al-Fahri berangkat ke Armenia yang dikuasai Romawi. Imam Ath-Tabari menyebutkan bahwa ketika Walid bin Uqabah memasuki Mosul, ia menerima surat dari Utsman bin Affan yang menyatakan:

“Amma ba’du. Mu’awiyyah bin Abu Sufyan menulis kepada saya mengabarkan bahwa Romawi telah siap menyerang Muslimin dengan pasukan dalam jumlah besar. Saya berpendapat mereka di Kufah (Irak) perlu mendapat bala bantuan. Begitu anda menerima surat saya ini kirimkan sebanyak 8000, 9000 atau 10.000 personel dari tempat Anda menerima utusan saya ini yang dari segi keberanian, kemampuan dan Keislamannya sudah Anda setujui.”

Tak sampai tiga hari kemudian dari Kufah (Irak) telah berangkat 8000 orang di bawah pimpinan Salman bin Rabi’ah. Bersama-sama dengan pasukan Syam mereka memasuki kawasan Romawi. 

Pasukan kaum Muslimin dapat menghalau dan memaksa Romawi mundur dari Armenia. Semua ini terjadi pada masa permulaan Kekhalifahan Utsman bin Affan. Terbunuhnya Umar bin Khattab dan digantikan Utsman bin Affan tidaklah mengurangi kewibawaan dan pengaruh Muslim.

Syekh Aaq Syamsuddin Guru Sultan Muhammad Al Fatih Pembebas Konstantinopel

Syekh Aaq Syamsuddin Guru Sultan Muhammad Al Fatih Pembebas Konstantinopel

KULIAHALISLAM.COM - Nama lengkapnya adalah Syekh Muhammad bin Hamzah Al Dimasyqi Ar Rumi. Ia melakukan perjalanan bersama ayahnya ke negeri Romawi. 

Ia belajar beragam disiplin ilmu dan menguasainya dengan baik, sehingga membuatnya menjadi seorang tokoh peradaban Islam di zaman pemerintahan Dinasti Khilafah Utsmani. Syekh Aaq Syamsuddin adalah guru dan pengajar Sultan Muhammad Al Fatih.

Syekh Aaq Syamsuddin merupakan keturunan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ia lahir di kota Damaskus (Suriah) pada tahun 792 H/1389 M. Ia mampu menghafal Al-Qur’an pada saat usia baru tujuh tahun. 

Kemudian ia belajar di Amasia, lalu ke Allepo akhirnya sampai ke Ankara. Syekh Aaq Syamsuddin telah memberikan pelajaran kepada Sultan Muhammad Al Fatih berupa ilmu Al-Qur’an, Sunnah, fikih, ilmu-ilmu Keislaman, serta mempelajari bahasa Arab, Persia dan Turki.

Syaikh Aaq Syamsuddin juga mengajarkan ilmu-ilmu lain seperti matematika, astronomi (falak), sejarah dan seni berperang. Dialah salah seorang Ulama yang membimbing Sultan Muhammad Al Fatih, tatkala berkuasa di Magnesia untuk belajar tata cara pemerintahan dan pokok-pokok ilmu pemerintahan.

Syekh Aaq Syamsuddin Meyakinkan Sultan Muhammad Al Fatih

Syekh Aaq Syamsuddin mampu meyakinkan Sultan Muhammad Al Fatih kecil, bahwa yang dimaksud dengan hadis Rasulullah SAW yang berbunyi: “Konstantinopel akan bisa ditaklukan di tangan seorang laki-laki. Maka orang yang memerintah disana adalah sebaik-baik penguasa dan tentara-tentaranya adalah dirinya.” 

Tatkala Muhammad Al Fatih memangku kesultanan Dinasti Turki Utsmani, saat itu usianya masih sangat muda. Syekh Aaq Syamsuddin menasihatinya agar dia segera bergerak untuk merealisasikan hadis Rasulullah di atas. Atas nasihatnya, pasukan Dinasti Turki Utsmani segera mengepung Kota Konstantinopel dari darat dan laut, sehingga berkecamuklah perang sangat sengit selama 54 hari. 

Tatkala orang-orang Byzantium berhasil memenangkan peperangan sementara dan mereka bangga dengan masuknya bantuan 4 kapal perang yang dikirimkan oleh Paus, maka para Panglima dan Menteri Dinasti Turki Utsmani segera berkumpul menemui Sultan Muhammad Al Fatih dengan mengatakan: 

“Sesungguhnya engkau telah menjerumuskan pasukan dalam jumlah yang sangat besar ke dalam pengepungan ini, karena engkau menuruti perkataan salah seorang Syekh—maksudnya Syekh Aaq Syamsuddin, lihatlah banyak tentara yang meninggal dan persenjataan banyak yang rusak dan kini pasukan dari Eropa kini bersiap menyerang.”

Mendengar demikian, Sultan Muhamad Al Fatih segera mengutus seorang menterinya yang bernama Waliyuddin Ahmad Pasya untuk menemui Syekh Aaq Syamsuddin dikemahnya untuk menanyakan solusi terbaiknya. Syekh Aaq Syamsuddin menyatakan: “Pasti Allah akan memberikan kemenangan.”

Sultan tidak puas dengan jawaban sang guru, Sultan kemudian mengirimkan kembali untuk meminta kejelasan Syekh Aaq Syamsuddin. Syekh Aaq Syamsuddin mengirim surat kepada Sutan Muhammad Al Fatih yang berbunyi:  

Sesungguhnya Allah-lah Dzat Yang Maha Pemberi Kemuliaan dan Pemberi Kemenangan. Sesungguhnya peristiwa kapal perang itu telah menimbulkan rasa ngeri dan ketakutan di dalam hati, dan menimbulkan rasa gembira dan bangga di kalangan musuh (orang kafir). 

Sesungguhnya masalah yang pasti adalah adalah bahwasanya seorang hamba itu sekedar merancang sedangkan yang menentukan adalah Allah dan ketentuan semuanya ada di tangan Allah. Kita telah berserah diri kepada Allah dan kita telah membaca Al-Qur’an. 

Itu semua tidak lebih dari rasa kantuk di dalam tidur setelah ini. Sesungguhnya telah terjadi kelembutan kekuasaan Allah, dan munculah kabar-kabar gembira tentang kemenangan itu, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Isi surat ini memunculkan perasaan ringan dan tenang di hati para tentara dan komandan perang. Setelah itu para penasihat perang segara memutuskan agar peperangan menaklukan Konstantinopel dilanjutkan. 

Kemudian Sultan Muhammad Al Fatih segera pergi menuju kemah Syekh Aaq Syamsuddin. Sultan mencium tangan gurunya tersebut dan berkata: “Wahai guru, ajari saya sebuah doa yang dengannya saya berdoa kepada Allah untuk memberikan taufik pada saya.” Maka Syekh pun mengajarkan sebuah doa.

Setelah itu Sultan keluar dari kemah gurunya untuk memerintahkan serangan besar-besaran. Sultan menginginkan sang guru tetap berada disampingnya saat serangan dilancarkan. Sultan segera mengutus seseorang menjemput gurunya. 

Namun, Syekh Aaq Syamsuddin telah berpesan pada muridnya agar melarang siapapun masuk kekemahnya. Mendengar demikian, Sultan Muhammad Al Fatih marah besar dan segara pergi menemui gurunya.

Namun penjaga kemah melarang Sultan masuk ke kemah gurunya. Sultan Muhammad Al Fatih mengambil pedangnya dan merobek kemah Syekh Aaq Syamsuddin. Sultan melihat gurunya sedang bersujud kepada Allah dengan sujud yang panjang. Sorban sang guru terlepas dari kepalanya hingga membuat rambut kepalanya yang memutih menyentuh bumi. 

Kemudian Sultan melihat sang guru bangkit dari sujudnya sedangkan jenggotnya yang putih memantul laksana cahaya dan dengan mata yang bergelinangan air mata. Syekh Aaq Syamsuddin telah bermunajat kepada Allah dan memohon kepada Allah agar kemenangan dikaruniakan dengan ia meminta penaklukan kota Konstantinopel dalam waktu dekat.

Setelah itu, Sultan Muhammad Al Fatih kembali ke pos komandonya. Sultan melihat benteng Konstantinopel berhasil dihancurkan dan pasukan Sultan berhasil menyerbu Konstantinopnel. Sultan Muhammad Al Fatih berkata: 

“Kegembiraan saya bukan karena penaklukan kota ini. Namun kegembiraan saya karena adanya Syekh Aaq Syamsuddin di zaman saya.”

Imam As Syaukani dalam bukunya “Al-Badru Al-Thali” menyatakan: “ Syekh Syamsuddin tampak barokahnya dan muncul fadhilahnya, di mana ia telah memberitahukan kepada Sultan Muhammad Al Fatih kapan kota Konstantinopel akan segara ditaklukan di bawah tangannya.”

Pada saat pasukan Sultan berhasil menguasai Konstantinopel, Syekh Aaq Syamsuddin datang menemui Sultan untuk memberi peringatan padanya tentang hukum-hukum syariat Allah dalam peperangan, serta hak-hak kaum yang ditaklukan sebagaimana diatur dalam syariat Islam. 

Setelah Sultan Muhammad Al Fatih memberi penghormatan pada pasukannya dengan memberikan banyak hadiah, Sultan berbicara dihadapan semua orang, ia berkata: “Pemimpin bangsa adalah pelayan rakyat.”

Selanjutnya, Syekh Aaq Syamsuddin berkata: Wahai tentara Islam, ketahuilah dan ingatlah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: Konstantinopel akan bisa ditaklukan di tangan seorang laki-laki. Maka orang yang memerintah disana adalah sebaik-baiknya penguasa dan tentaranya adalah sebaik-baiknya tentara. 

Kita memohon kepada Allah yang Maha Suci dan Maha Tinggi, semoga Dia memberi kita taufik dan mengampuni kita semua. Ketahuilah, janganlah kalian berlaku berlebih-lebihan dari apa yang kalian dapat dari harta rampasan perang dan jangan kalian berlaku boros. Infakanlah harta di jalan yang baik untuk penduduk kota ini, dengarkanlah apa yang dikatakan Sultan kalian dan taatilah dia dan cintailah dia.

Kemudian Syekh Aaq Syamsuddin menoleh kepada sultan dan berkata: Wahai Sultanku kau telah menjadi tanda mata bagi Bani Utsmani. Maka jadilah engkau sebagai mujahid di jalan Allah selamanya. Lalu ia berteriak dengan mengucapkan takbir dengan suara yang menggelegar. 

Setelah penaklukan kota Konstantinopel, Syekh Aaq Syamsuddin menemukan kuburan seorang Sahabat Nabi Muhammad SAW yang mulia yaitu Abu Ayub Al Anshari di sebuah tempat yang dekat dengan benteng Konstantinopel. 

Syekh Aaq Syamsuddin adalah orang yang pertama yang menyampaikan khutbah di Masjid Aya Sofia. Ia wafat pada tahun 1459 M, semoga Allah merahmatinya dan kaum muslimin seluruhnya.

Sumber:  Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniah karya Prof. Dr Ali Muhammad Ash Shallabi, terbitan Pustaka Al Kautsar dan dari sumber lainnya.

Umar Bin Khattab Tokoh Kelima Puluh Satu Paling Berpengaruh di Dunia Versi Michael Hart

KULIAHALISLAM.COM - Michael H. Hart merupakan Guru Besar astronomi dan fisika di Universitas Maryland, Amerika Serikat. Michael Hart adalah sarjana fisika, astronomi, hukum, dan bekerja untuk lembaga antariksa Amerika (NASA). Ia lahir tanggal 28 April 1932 di Amerika. 

Prof. Michael H. Hart menggemparkan dunia karena ia menulis sebuah buku berjudul: "100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia."

Dalam bukunya “100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia”, Michael Hart menyusun urutan manusia paling berpengaruh di dunia dari sejak Nabi Adam hingga pada era modern ini. 

Dalam penyusunan daftar ini, ia tidak semata-mata memilih tokoh paling kenamaan dan kemilau dalam sejarah namun ia hanya memilih yang memiliki pengaruh besar sepanjang sejarah manusia. 

Prof. Michael H. Hart menetapkan manusia paling berpengaruh di dunia nomor 1 adalah: 
  1. Nabi Muhammad,
  2. Isaac Newton, 
  3. Nabi Isa, 
  4. Budha, 
  5. Kong Hu Cu, 
  6. St. Paul, 
  7. Ts’ai Lun, 
  8. Johann Gutenberg, 
  9. Christoper Colombus, 
  10. Albert Einstein, 
  11. Karl Marx, 
  12. Louis Pasteur, 
  13. Galileo Galilea, 
  14. Aristoteles, Lenin, 
  15. Nabi Musa, 
  16. Charles Darwin, 
  17. Shing Huang Ti, 
  18. Agustus Caesar, 
  19. Mao Tse Tung, 
  20. Jenis Khan.
Sementara Umar bin Khattab ditempatkan nomor 51 dan nomor urut 100 adalah Nils Bohr. Dalam karyanya tersebut, Michael Hart memaparkan bahwa Umar bin Khattab adalah Khalifah kedua dan mungkin terbesar dari semua Khalifah Islam. Dia sezaman namun lebih berusia muda ketimbang Nabi Muhammad SAW. 

Dan seperti Nabi Muhammad SAW, Umar bin Khattab kelahiran Mekkah. Tahun kelahirannya tidak diketahui, tapi menurut taksiran tahun 586 M. Asal-muasalnya, Umar bin Khattab merupakan musuh yang paling ganas dan beringas menentang Nabi Muhammad SAW dan agama Islam habis-habisan.

Tetapi mendadak, ia memeluk agama baru itu dan bebalik menjadi pendukung yang gigih (ini adalah persamaannya yang menarik dengan ihwal St. Paul terhadap Kristen). Umar bin Khattab selanjutnya menjadi penasihat terdekat Nabi dan begitulah dilakukannya sepanjang umur Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammad SAW wafat tahun 632 M tanpa menunjuk penggantinya, Umar dengan cepat mendukung Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai pengganti, seorang sahabat dekat Nabi dan juga mertua Nabi. 

Langkah ini mencegah ada kekuatan dan memungkinkan Abu Bakar Ash-Shiddiq secara umum diakui sebagai Khalifah pertama, semacam pengganti Nabi Muhammad SAW. Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan pemimpin yang berhasil tetapi beliau wafat sesudah jadi Khalifah hanya selama dua tahun.

Tapi Abu Bakar Ash-Shiddiq menunjuk Umar menjadi Khalifah tahun 634 M dan memegang kekuasaan hingga tahun 644 M,  Umar bin Khattab terbunuh di Madinah oleh perbuatan seorang budak Persia. 

Di atas tempat tidur menjelang wafat, Umar menunjuk sebuah panitia terdiri dari enam orang untuk memilih penggantinya. Dengan demikian lagi-lagi kesempatan adu kekuatan untuk kekuasaan terjadi. Panitia enam orang itu menunjuk Utsman bin Affan selaku Khalifah ketiga.

Dalam masa kepemimpinan sepuluh tahun Umar, itulah penaklukan-penaklukan penting dilakukan orang Arab. Tidak lama setelah Umar memegang tampuk kekuasaan sebagai Khalifah, pasukan Arab menduduki Suriah dan Palestina yang kala itu menjadi bagian Kekaisaran Byzantium. Dalam pertempuran Yarmuk (636 M), pasukan Arab berhasil memukul habis kekuatan Byzantium.

Kota Damaskus jatuh ke tangan umat Islam pada tahun itu juga dan Darussalam (sekarang Yerusalem) menyerah dua tahun kemudian. Menjelang tahun 641 M, pasukan Arab menyerbu Mesir yang juga saat itu di bawah kekuasaan Byzantium. Dalam tempo tiga tahun, penaklukan Mesir diselesaikan dengan sempurna.

Penyerangan Arab terhadap Irak yang saat itu di bawah kekuasaan Persia telah mulai bahkan sebelum Umar naik jadi Khalifah. Kunci kemenangan Arab terletak pada pertempuran Qadisiyah tahun 637 M, terjadi di masa Kekhalifahan Umar. 

Menjelang tahun 641 M, seantero Irak sudah berada di bawah pengawasan Arab. Dan bukan cuman hanya itu, pasukan Arab bahkan menyerbu langsung Persia dan pertempuran Nehawand (642 M) mereka secara menentukan mengalahkan sisa terakhir kekuatan Persia.

Menjelang wafatnya Umar bin Khattab di tahun 644 M, sebagaian besar deretan barat Iran sudah terkuasai sepenuhnya. Gerakan ini tidak berhenti tatkala Umar wafat. Di bagian Timur, mereka dengan cepat menaklukan Persia dan bagian Barat mereka mendesak terus dengan pasukan penyebrang Afrika Utara. 

Sama pentingnya dengan makna penaklukan-penaklukan yang dilakukan Umar bin Khattab adalah kepermanenan dan kemantapan pemerintahannya. Iran kendati penduduknya masuk Islam, berbarengan dengan itu mereka memperoleh kemerdekaanya dari pemerintahan Arab. Tapi Suriah, Irak dan Mesir tidak pernah memperoleh hal serupa. Negeri-negeri itu seluruhnya di Arabkan hingga kini.

Umar bin Khattab perang tentu punya rencana apa yang harus dilakukannya terhadap daerah-daerah yang sudah ditaklukan oleh pasukan Arab. Dia memutuskan, orang-orang Arab punya hak-hak istimewa dalam segi militer di daerah-daerah taklukan, mereka harus berdiam dikota-kota tertentu yang ditentukan untuk itu, terpisah dari penduduk setempat. 

Penduduk setempat harus bayar pajak kepada penakluk Muslim, tapi mereka dibiarkan hidup dengan aman dan tentram. Khususnya mereka tidak dipaksa memeluk agama Islam. Dari hal itu sudah jelas bahwa penaklukan oleh orang Arab lebih bersifat penaklukan perang nasionalis daripada suatu perang suci meskipun agama bukannya tidak memainkan peranan.

Keberhasilan Umar bin Khattab benar-benar mengesankan. Sesudah Nabi Muhammad SAW, Umar merupakan tokoh utama dalam hal penyerbuan oleh Muslim. Tanpa penaklukan-penaklukannya yang secepat kilat, diragukan apakah Islam bisa tersebar luas sebagaimana yang disaksikan sekarang ini. Lebih-lebih, kebanyakan daerah yang ditaklukan di bawah pemerintahannya tetapi menjadi Arab hingga kini.

Jelas, tentu saja, Nabi Muhammad SAW penggerak utamanya jika ia harus menerima penghargaan atas perkembangan ini. Tetapi akan merupakan kekeliruan berat apabila kita mengucilkan peranan Umar bin Khattab. Penaklukan-penaklukan yang dilakukannya bukanlah akibat otomatis dari inspirasi yang diberikan Nabi Muhammad SAW. 

Perluasan mungkin saja bisa terjadi, tetapi tidaklah akan sampai sebesar itu kalau saja tanpa kepemimpinan Umar yang brilian.
Memang akan menjadi kejutan buat orang Barat yang tidak mengenal Umar bin Khattab. 

Prof. Michael Hart menempatkan Umar bin Khattab lebih tinggi posisinya daripada orang-orang kenamaan seperti Charemagne atau Julius Caesar, Asoka, Cyrus yang Agung dalam karyanya 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia. 

Soalnya, penaklukan oleh bangsa Arab di bawah kepemimpinan Umar lebih luas daerahnya dan lebih tahan lama dan lebih bermakna ketimbang apa yang diperbuat oleh Charlemagne, Julius Caesar, Asoka dan Cyrus yang agung.

Ketekunan Imam Ahmad bin Hanbal Mempelajari Ilmu Demi Ibunda Tercinta

KULIAHALISLAM.COM - Imam Ahmad kecil lahir pada bulan Rabi’ul Awwal, 164 Hijriah. Kedua orangtuanya pindah dari Marw (Saat ini dikenal dengan nama Mary, sebuah kota di negara Turkmenistan) menuju kota Baghdad (Irak) saat ibundanya tengah mengandungnya. 

Pada saat Imam Ahmad masih bayi, sang ibunda kemudian menindik kedua telinganya lalu memasangkan dua buah mutiara.

Nasab Imam Ahmad bin Hanbal dan nasab Nabi Muhammad SAW bertemu pada nazar. Nazar memiliki dua anak yaitu Mudhar dan Rabi’ah. Mudhar merupakan kakek buyut Nabi Muhammad SAW sedangkan Rabi’ah adalah kakek buyut Imam Ahmad bin Hanbal.

Ibundanya bernama Shafiyah binti Maimunah binti Abdul Malik Asy-Syaibani dari Bani Amir. Kakeknya bernama Hanbal merupakan Gubernur Sarkhas di bawah kekuasaan Daulah Umayyah dan termasuk seorang ulama.

Ayahnya bernama Muhammad bekerja sebagai prajurit Khalifah. Ayahanda Imam Ahmad wafat, tiga tahun setelah kelahiran Imam Ahmad. Sang ibunda merawat Ahmad bin Hanbal kecil seorang diri (single parent). Ayahnya mewariskan sebuah rumah yang menjadi sandaran hidup bagi Shafiyah dan Ahmad kecil.

Saat Imam Ahamd kecil semakin dewasa dan kebutuhan-kebutuhannya kian meningkat, sang ibunda mulai terhimpit kebutuhan hidup untuk anak dan dirinya. 

Tekanan dan himpitan yang ia rasakan tidak membuatnya putus asa, bahkan ia menolak untuk menikah lagi, ia lebih memilih untuk mencurahkan seluruh waktunya untuk merawat puteranya. 

Imam Ahmad bin Hanbal saat sejak kecil sudah terlihat memiliki tanda-tanda kecerdasan, hal itu terbukti ketika Imam Ahmad kecil mampu menghafal Al-Qur’an.

Ketekunannya Demi Ibunda Tercinta

Sejak kecil Imam Ahmad bin Hanbal tahu bahwa ibunya rela hidup dalam penderitaan hanya untuk memenuhi segala kebutuhannya. Oleh sebab itu, Imam Ahmad berusaha membalas jasa ibunya dengan mencurahkan segenap tenaga untuk belajar hingga mendapatkan banyak sekali ilmu di usianya yang masih belia. 

Tetangga Imam Ahmad menuturkan “Saya mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk membiayai pendidikan anak-anak saya. Saya mendatangkan guru untuk mengajari dan mendidik mereka. Namun saya tidak melihat diri mereka sukses. 

Sementara itu Imam Ahmad bin Hanbal hanya anak yatim, tetapi ia memiliki ilmu, adab dan akhlak yang baik’. Imam Ahmad bin Hanbal berusaha sekuat tenaga membalas jasa ibunda atas kesabaran dan pengorbananya dengan keunggulan ilmu yang ia peroleh. 

Keluasan ilmu Imam Ahmad membuat kagum para Ulama. Mereka berkata “Jika anak muda ini panjang umur, kelak akan menjadi hujjah bagi orang-orang dimasanya”. Saat Imam Ahmad bin Hanbal melihat dirinya menjadi beban bagi ibunya, ia meminta ibunya untuk menjual dua permata miliknya. Kedua permata itu dijual dengan harga tiga puluh dirham untuk biaya pendidikannya.

Imam Ahmad bin Hanbal muda memulai pertualangan mencari ilmunya dari Ulama-Ulama di kota Baghdad (Irak). Ia bertekad untuk tidak lagi membebani sang ibunda setelah itu. 

Ia memutuskan untuk menyerahkan sepenuhnya hasil sewa rumah peninggalan sang ayah untuk ibunya. Rumah warisan ayahnya itu cukup besar dan terdiri dari beberapa ruko. Hasil sewa bualannya mencapai tujuh belas dirham setiap bulan.

Meski terbilang masih sangat belia, Imam Ahmad sering mendatangi majelis Al Qadhi Abu Yusuf, murid Imam Abu Hanifah. Al Qadhi Abu Yusuf menjabat sebagai Hakim di Baghdad pada masa Amirul Mukmimin Harun Ar Rasyid. Imam Ahmad bin Hanbal sangat kagum terhadap keberanian Abu Yusuf dalam menyampaikan kebenaran. 

Saat pertama kali belajar, Imam Ahmad bin Hanbal berguru pada Hadis kepada Abu Yusuf. Meskipun Imam Ahmad bin Hanbal mengaggumi Abu Yusuf, tapi Imam Ahmad tidak mendapatkan semua hadis yang ia cari. Imam Ahmad hendak menghafal semua atsar yang diriwayatkan para perawi tsiqah setelah ia berhasil menghafal Qur’an. Sementara Abu Yusuf termasuk Ulama Ahli Ra’yi (mengedepankan Qiyas).

Imam Ahmad mempelajari hadis secara lengkap dari Hasyim bin Basyir Abu Mu’awiyah Al Wasithi pada tahun 187 H. Saat itu umur Imam Ahmad bin Hanbal menginjak usia 16 tahun. Imam Ahmad bin Hanbal terus menimba ilmu menimba hadis dari para gurunya di Baghdad selama 7 tahun, setelah itu ia berkelana menuntut hadis dari guru-guru di Basrah. 

Khalaf Al Wasithi menuturkan “Ahmad bin Hanbal mendatangiku untuk mendengarkan hadis Abu Awanah, lalu aku berijtihad, tetapi ia mengabaikannya”. Imam Ahmad bin Hanbal sangat berbakti pada ibunya. Sejak kecil sang ibunda selalu menuturkan berbagai kisah, peristiwa dan aksi-aksi heroik yang ia hafal, hingga nilai-nilai Islam yang luhur tertanam ikut dalam memori Imam Ahmad sejak kecil. 

Ibunda Imam Ahmad senantiasa mengingatkan kebanggaan kaumnya, kisah-kisah bangsa Arab, keutamaan-keutamaan Rasulullah SAW sang pemilik akhlak mulia dan para sahabat. Semua kisah yang ia ingat diceritakannya pada Imam Ahmad sewaktu kecil.

Ibundanya juga yang memilihkan tempat belajar Al-Qur’an. Sang ibunda selalu mengkhawatirkan udara dingin yang menimpa buah hatinya tatkala pergi belajar sebelum azan Subuh, maklum saja Imam Ahmad saat itu masih kecil. 

Imam Ahmad menuturkan “Saat hendak pergi belajar hadis lebih awal, ibuku meraih bajuku dan berkata: Jangan pergi dulu hingga muadzin mengumandangkan adzan atau hingga orang-orang keluar.”

Imam Ahmad bin Hanbal menempuh banyak sekali perjalanan jauh dalam menuntut ilmu. Beliau sering mengalami kejadian-kejadian mengerikan. Sebagian besar perjalanannya ditempuh dengan berjalan kaki jika ia tidak memiliki uang untuk menaiki kendaraan. 

Ia juga bekerja sebagai tukang panggul (kuli) untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Kadang ia juga bekerja sebagai penyalin kitab karena tulisannya terbilang bagus. Melalui pengalaman-pengalaman ini, Imam Ahmad mendapatkan ketajaman pikiran. 

Sementara beban berat yang ia pikul menuntutnya untuk menguasai kaidah-kaidah fikih dan hukum-hukum fatwa. Saat mencari hadis, Imam Ahmad menempuh jarak jauh dengan berjalan kaki. Dalam perjalanan ia memikul seluruh barang bawaan dan kitab-kitabnya di atas panggung. 

Imam Ahmad tidak pernah berhenti untuk menapaki berbagai penjuru hingga mengumpulkan ribuan hadis sampai bandannya kurus. Ia pernah ditegur temannya: "Kadang engkau ke Kufah (Irak), Basra, Hijaz dan kadang ke Yaman. Sampai kapan ?”. 

Imam Ahmad berkata: "Bersama pena sampai ke liang kubur." Imam Ahmad tiada pernah berhenti mencari hadis meski beban dan rintangan yang ia hadapi teramat berat. Imam Ahmad tidak pernah berhenti mencari hadis meskipun beban dan rintangan yang ia hadapi teramat besar. Beliau baru menikah setelah ibunya wafat. Imam Ahmad dikaruniai dua orang anak bernama Abdullah dan Shalih.

Sumber : Abdul Aziz Asy Syinawi dalam karyanya Al-Aimah Al-Arba’ah, Hayatuhum, Mawaqifuhum, Arauhum Al Imam Ahmad bin Hanbal (edisi terjemahan: Biografi Imam Ahmad bin Hanbal: Kehidupan, Sikap dan Pendapat), diterbitkan oleh Aqwam.

Tentang Walisongo dan Ajaran Yang Dibawanya



TENTANG WALISONGO DAN AJARAN YANG DIBAWANYA

Al-Habib Ali Al-Jufri:

Dakwah Walisongo dibawa dari cahaya ke cahaya yang bersumber dari sumbernya cahaya, yakni Rasulullah Saw. Inti dari dakwah mereka adalah kesucian.

Kesucian lahir dan batin. Misal menjaga kesucian mata, bukan sekadar menjaga dari pandangan-pandangan yang diharamkan seperti melihat gambar-gambar haram. Tapi juga menjaga pandangan dari memandang manusia dengan pandangan yang rendah dan memandang dunia dengan pandangan mengagungkan.

Juga menjaga telinga dari pendengaran-pendengaran ghibah, adu domba dan perkataan-perkataan yang keji. Menjaga lisan dan seluruh anggota tubuh dari hal-hal yang mengotorinya. Dan ini adalah dasar kita untuk mencapai kesucian hati dan batin.

Yang dimaksud ‘kesucian hati’ adalah terhindar dari kesombongan, kebencian, iri, dengki dan semua hal yang dapat mengotorinya.

Maka Allah akan membersihkan hati kita dan bertajalliy dengan nama-Nya ‘al-Wadud’, sehingga terpancarlah dari kita sifat kasih sayang.

Tidaklah yang dipancarkan oleh para ulama salih terkecuali apa yang disifatkan Allah kepada Nabi-Nya Saw.

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat (kasih sayang) bagi semesta alam”. (QS. al-Anbiya ayat 107),

Sangat banyak para ulama yang datang ke Indonesia sedangkan penduduk setempat tidak dapat memahami bahasa mereka. Akan tetapi karena dibawa dari wajah dan tutur kata yang penuh kasih sayang, sehingga Islam masuk dengan mudah di berbagai penjuru negeri ini. Dan prinsip dakwah mereka adalah seperti yang dipegang dalam Thariqah Alawiyah, ada lima pondasi; ilmu, amal, ikhlas, khasy-yah (takut kepada Allah), dan wara’.

Ilmu yang menjadikan kita paham terhadap praktik ibadah dan muamalah. Manhaj mereka adalah Ahlussunnah wal Jama’ah. Bermadzhab Asyairah (Asy’ariyah) dan Maturidiyah dalam aqidah. Di dalam fiqih mereka mengikuti madzhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali), di Indonesia mayoritas bermadzhab Syafi’iyah. Dan sisi penting lainnya yang secara serius mereka lakukan adalah tazkiyyatunnufus, mensucikan hati.

Mereka memiliki prinsip dalam bermadzhab tapi bukan didasari fanatik yang mudah menyalahkan pihak lain. Melainkan prinsip bermadzhab yang (membuat pemeluknya) tidak bisa dibenturkan dengan pihak manapun dan tidak bisa dipermainkan oleh kepentingan politik manapun.

Sumber: www.jatman.or.id

Wallahu'alam

Allahumma Sholli a'la Sayyidina Muhammad wa ala alihi washobihi wasalim