Tampilkan postingan dengan label IMM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IMM. Tampilkan semua postingan

DPP IMM: Presiden Segera Reshuffle Para Pembantunya Untuk Selamatkan Negara dalam Situasi Sense Of Crisis

DPP IMM: Presiden Segera Reshuffle Para Pembantunya Untuk Selamatkan Negara dalam Situasi Sense Of Crisis

KULIAHALISLAM.COM - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Sekretaris Jendral IMMawan Zaki Nugraha mendesak Presiden Joko Widodo segera mereshuffle para menteri gaduh tak becus bekerja dalam situasi krisis. Menteng, (14/4/22).

Sekretaris Jendral (Sekjend) DPP IMM, IMMawan Zaki Nugraha, menerangkan situasi politik nasional beberapa waktu terakhir kerap menimbulkan banyak kegaduhan ditengah kehidupan masyarakat. 

Problem yang terjadi diantaranya, kenaikan harga bahan-bahan pokok, kenaikan harga bahan bakar, kenaikan pajak masyarakat dan lain sebagainya merupakan hilir dari adanya perbedaan narasi, kebijakan bahkan sikap politik para menteri kabinet Presiden Joko Widodo.

Situasi "Sense of crisis" tersebut yang menyebabkan bahan bakar melambung tinggi beberapa bulan terakhir, imbas dari pandemi Covid-19 yang telah berlangsung selama dua tahun serta adanya invasi Rusia terhadap Ukraina yang menyebabkan meroketnya harga bahan bakar minyak (BBM). 

Berdasarkan catatan TradingEconomics.com pada 7 April 2022, negara-negara di dunia tengah mengalami inflasi besar-besaran. Termasuk Indonesia yang berada pada angka 2.64 persen. Sedangkan paling tinggi yakni Turki dengan inflasi 61.14 persen.

Ditambah lagi, persoalan kelangkaan dan kenaikan harga minyak goreng serta bahan-bahan pokok lainnya, ditenggarai dari kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang diberlakukan pemerintah. 

Dikutip dari Kompas.com, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag), menyampaikan jika harga minyak goreng di pasaran sedang dalam proses stabilisasi. Adapun kebijakan yang diterapkan ialah Domestic Mandatory Obligation (DMO) dan Domestic Price Obligation (DPO). 

Melalui kebijakan tersebut, pemerintah berupaya untuk menurunkan ketergantungan Indonesia pada Crude Palm Oil (CPO) internasional. Harga CPO global cenderung tinggi dan naik. Parahnya, harga CPO global yang tinggi, mendorong banyak produsen untuk mengekspor daripada mengolahnya di dalam negeri. 

Kementerian Perdagangan mestinya lebih cepat tanggap mengatasi permasalahan ini. Jangan sampai Mendag terkesan kalah dengan mafia rente komoditas minyak. Jika masalah ini berlarut-larut, yang dirugikan tentu saja rakyat dengan ekonomi menengah ke bawah yang seharusnya kebutuhan pokoknya dijamin oleh negara, terang Zaki.

Tak hanya itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani pun turut menjadi biang kerok imbas dari kegaduhan politik nasional tersebut. Pasalnya, kebijakan kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nasional (PPN) dari 10 persen menjadi 11 persen serta utang negara tembus diangka Rp.7.014 Triliun. 

Hilir terjadinya kenaikan tersebut sudah dirancang sedemikian rupa oleh Sri Mulyani, sebab dirinya berhasil meloloskan usulan Rancangan Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (RUU HPP) yang disetujui oleh legislatif menjadi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021. 

Menteri Investasi dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM), Bahlil Lahadalia pada Januari 2022 lalu, secara gamblang mengusulkan penundaan penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) pada tahun 2024. 

Bahlil beralasan, jika penundaan pemilu perlu dilakukan Presiden sebab kondisi perekonomian masyarakat saat ini belum stabil akibat pandemi Covid-19 yang menerpa secara global. 

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto juga menyatakan usulan serupa akhir tahun 2021, walaupun dirinya mengusulkan gagasan tersebut sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Golongan Karya. Namun, jabatan Menteri Koordinator tidak luput dari dirinya. 

Tidak berhenti sampai disitu, lebih fenomenalnya lagi adalah narasi yang dilontarkan Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, yang mengutarakan adanya 110 Juta Big Data survei keinginan masyarakat Indonesia yang menginginkan penundaan pemilu hingga ditambahnya masa jabatan Presiden Joko Widodo menjadi tiga periode, ungkap Zaki.

Beberapa upaya yang dilontarkan para menteri kabinet Presiden Joko Widodo tersebut, lantas memunculkan kegaduhan publik yang menggerakan seluruh eksponen mahasiswa secara nasional bergerak melakukan aksi demonstrasi. 

Jika dihimpun dari desakan eksponen gerakan mahasiswa, terkhusus bagi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yakni mendesak Presiden menyatakan secara tegas sikap tidak terpengaruh terhadap keinginan usulan politik para menteri-menterinya yang menginginkan adanya penambahan masa jabatan Presiden menjadi tiga periode. 

DPP IMM, secara tegas menyatakan menolak adanya penambahan masa jabatan Presiden tersebut. Presiden sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, wajib patuh terhadap perintah konstitusi yang mengatur masa jabatan Presiden maksimal dua periode, imbuhnya. 

Faktor terjadinya banyak kegaduhan situasi politik nasional ini timbul dari mencuatnya beberapa upaya yang dilontarkan empat menteri diatas serta diperkuat melalui upaya kenaikan pajak negara oleh Sri Mulyani, sehingga menimbulkan reaksi keras Presiden Joko Widodo yang memerintahkan para menterinya untuk tidak berbicara perpanjangan masa jabatan Presiden (7/4/2022). 

Presiden meminta para menterinya fokus bekerja untuk mengatasi banyaknya persoalan masyarakat dari dampak pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai. Sayangnya, instruksi Presiden tersebut tidak diindahkan oleh beberapa menterinya, harapan terselesaikannya masalah pemerintahan saat ini justru malah menjadi kegaduhan yang menyangkut persoalan politik kekuasaan, tegas Zaki.

Kami menilai, yang dilakukan lima pembantu Presiden tersebut bukan mendukung kinerja Presiden, justru melawan instruksi Presiden dari persoalan kompleks tersebut, tidak ada alasan lagi bagi Presiden untuk mempertahankan lima Menterinya tersebut. Maka, langkah bijak yang harus dilakukan Presiden Joko Widodo ialah mereshuffle para menteri tersebut, tutup Zaki mengakhiri statementnya.(RRK)

Refleksi Milad ke 58 Tahun IMM: Bagaimana Menguatkan Kemandirian Kader?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merayakan miladnya 14 maret ini. Sejak berdiri pada 14 Maret 1964, berarti ikatan ini telah memasuk usianya ke 58 tahun. Usia yang tidak lagi muda, sudah banyak hal yang ditorehkan dan diberikan tentunya dalam sumbangsih mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah dan ikut andil dalam menumbuhkan sumberdaya manusia bangsa Indonesia.
Dalam miladnya ke 58 tahun ini IMM mengusung tema "Menguatkan Kemandirian" sebuah tema yang sangat relevan dengan keadaan pergerakan mahasiswa hari ini. Keadaan yang dirasa sangat urgen untuk menjadi perhatian bersama, bahwa mahasiswa atau kader hari ini haruslah memperhatikan kemandirian dalam setiap aspek kehidupan. Jangan sampai kader berpangku tangan, malas, lemah dan dan berputus asa dalam setiap keterbatasan.

Bill Gates pernah berkata, “Kalau Anda lahir miskin, itu bukan salah Anda, tapi kalau Anda meninggal miskin, pasti itu karena salah Anda sendiri” (Bill Gates). Kata miskin dalam quote dari Bill Gates tersebut berlaku dalam semua aspek kehidupan kita. 

Bisa berarti miskin iman, miskin ilmu, miskin keterampilan, miskin ibadah, miskin amal saleh, miskin kesehatan, miskin wawasan, miskin kebahagiaan, miskin semangat melayani, miskin percaya diri, miskin sikap positif, miskin semangat/antusiasme, miskin kesabaran, miskin bersyukur, miskin kerendahan hati, miskin keikhlasan, miskin silaturahmi, miskin kemandirian dan sebagainya.
Padahal Baginda Nabi Muhammad SAW sudah berpesan kepada kita “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah” (HR. Muslim). Artinya Nabi Muhammad sendiri menganjurkan kita untuk menguatkan kemandirian. Dan Allah pun memerintahkan kita untuk mandiri “…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11) 

Kuntowijoyo berpendapat, bahwa Masalah pokok yang dihadapi bangsa adalah kemiskinan dan kesenjangan. Al-Quran menyebut kemiskinan dengan dhuafa (lemah) dan kesenjangan dengan mustadhafin (teraniaya). Maka tugas kita sebagai kader Muhammadiyah sekaligus kader bangsa adalah merubah keadaan tersebut. Berikhtiar semampu mungkin untuk meningkatkan perekonomian bangsa, minimalnya keadaan ekonomi keluarga.

Kita harus mengambil pelajaran dari pengajaran yang diberikan Allah kepada Siti Maryam. Bagaimana dekatnya Allah kepadanya (Maryam), tetap Allah memintanya untuk berikhtiar agar bisa mendapatkan rezeki. Allah SWT berfirman kepadanya, “Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam [19]: 25)

Dengan menguatkan kemandirian, harapannya kader dapat istiqamah untuk berjuang menjadi "Khoirul ummah", yang dia bermanfaat bagi semua manusia. Selain itu, dengan kemandirian pula seorang kader dapat memegang idealismenya dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. 

Ia tidak mudah terbeli dengan tawaran-tawaran remeh yang menjatuhkan harkat martabat dirinya. Karena bangsa ini membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki integritas. Selain mempuni dalam Religiusitas, Intelektualitas dan memiliki jiwa Humanitas, juga harus selesai dengan kemandirian dalam segala aspek kehidupan.

Kader IMM Tuntut Keadilan Wadas hingga Tolak Penundaan Pemilu

Massa IMM sedang berorasi (Adis Setiawan/kuliahalislam.com)

KULIAHALISLAM.COM, JAKARTA - Massa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), menggelar aksi di Patung Kuda, Jalan Medan Merdeka Barat, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (2/3/2022).

Massa melakukan long march dari Kantor PP Muhammadiyah Menteng Raya. Mereka sempat bernegosiasi dengan aparat Polres Metro Jakarta Pusat karena mau mengadakan unjuk rasa di depan Istana Negara.

Terpantau aparat gabungan Polri turut mengamankan aksi. Ada juga mobil Raisa atau pengurai massa. Selain itu terjadi saling dorong antara massa dan aparat di depan kantor PP Muhammadiyah. Massa terdengar berteriak karena tidak terima dihadang oleh pihak kepolisian.

Massa kemudian melanjutkan aksi long march dari kantor PP Muhammadiyah. Ada satu mobil komando yang dibawa massa untuk aksi.

Terdapat beberapa tuntutan yang hendak disuarakan oleh massa IMM, terhadap peristiwa di Wadas, penembakan peserta aksi di Sulawesi Tengah, konflik agraria di Riau, Permenaker JHT dan wacana penundaan pemilu 2024. (AA)

IMM Se-Indonesia Gelar Aksi di Depan Istana Negara Tolak Kebijakan Pemerintah yang Tidak Pro Rakyat Hingga Penundaan Pemilu 2024


KULIAHALISLAM.COM - Babakan baru tahun 2022 kondisi sosial politik Indonesia dibuka dengan dua peristiwa tragis. Dua peristiwa tersebut – insiden respresif Wadas dan penembakan di Sulawesi Tengah yang diduga dilakukan oleh aparat kepolisian merupakan hal yang memilukan. Bagaimana tidak, negara yang sudah keluar dari belenggu otoritarianisme era Orde Baru kini seolah kembali pada memori kelam masa itu. 

Transisi demokrasi 98 seakan tidak membuahkan hasil yang signifikan dalam merubah wajah politik negeri ini. Hal ini tentu sangat disayangkan dan menyayat hati para pejuang demokrasi, negara sekali lagi menambah daftar panjang tindakan represif terhadap rakyatnya.

Pada realitasnya, wajah represi ini memiliki satu frekuensi dengan praktik perampasan tanah dan tidak jarang menelan korban jiwa. Wajah kepolisian lambat laun terus tercoreng saat menghadapi potensi konflik di masyarakat yang selalu mengambil sikap arogan dan represif, seakan-akan lebih membela kepentingan para investor, sehingga humanis sebatas ilusi.

Bahkan, di masa pandemi sekalipun tidak menyurutkan alasan pemerintah untuk memperluas ekspansi bisnis dan pembangunan berbasis sumber-sumber agraria dengan dalih pemulihan ekonomi. Hasilnya, masyarakat di wilayah-wilayah konflik terus menghadapi ancaman berlapis, terancam virus pandemi, lalu terancam digusur negara yang semakin mesra dengan kelompok kepentingan.

Meminjam data dari Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), mencatat terjadi kenaikan konflik agraria yang sangat signifikan di sektor pembangunan infrastruktur sebesar 73% dan sektor pertambangan sebesar 167%. Kenaikan signifikan situasi konflik agraria juga terjadi dari sisi korban terdampak dibandingkan tahun 2022 yaitu sebesar 135.337 KK menjadi 198.859 di tahun 2021. Situasi ini menandakan bahwa konflik agraria semakin menyasar area-area masyarakat telah menguasai, mengusahakan (menggarap) dan mengelola tanah.

Di Riau, lahan para petani di Singingi Hilir, Kuantan Singingi dicaplok oleh PT Warnasari Nusantara pada tahun 2021. Tidak berhenti disitu, PT tersebut membuat galian parit gajah untuk mengisolasi lahan masyarakat sehingga tidak dapat bertani dan mengambil hasil perkebunannya.

Diretan konflik dan perampasan ruang hidup dapat disaksikan dengan nyata. Salah satu yang terbaru ditunjukkan oleh aparat kepolisian dengan pengepungan warga Desa Wadas, Purworejo, Jawa Tengah pada 8 Februari 2022. Juga, peristiwa penembakan peserta unjuk rasa yang menolak aktivitas tambang oleh PT Trio Kencana di Paringi Moutung, Sulawesi Tengah pada 12 Februari 2022. Dua peristiwa tersebut menjadi perhatian Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM).

Melalui Bidang Hikmah, Politik dan Kebijakan Publik, DPP IMM menyerukan konsolidasi dan aksi solidaritas kepada seluruh level pimpinan IMM, mulai Pimpinan Komisariat (PK) hingga Dewan Pimpinan Daerah (DPD) se-Indonesia. Seruan tersebut tertuang dalam surat instruksi No: 001/A-4/2022 pada tanggal 16 Februari 2022.

Dua peristiwa di atas mengingatkan pada tindakan serupa yang pernah terjadi di tahun 2022 silam. IMMawan Randi dan IMMawan Yusuf menjadi korban saat menggelar aksi di depan kantor DPRD Sulawesi Tenggara (Sultra), Kendari, Mahasiswa Universitas Halu Uleo (UHO).

Dalam instruksi dan aksi yang di gelar IMM se-Indonesia pada Rabu 2 Maret 2022 ini, IMM tegas menyatakan jika tindakan yang dilakukan oleh aparat kepolisian merupakan bentuk represif kepada masyarakat. Hal tersebut tak lain ialah usaha untuk membungkam hak dalam menyuarakan aspirasi.

“Semestinya, pendekatan yang dilakukan ialah pendekatan humanis bukan sebaliknya,” terang Baikuni Al-Shafa, Ketua Bidang Hikmah, Politik dan Kebijakan Publik DPP IMM 2021-2023.

Babakan situasi ekonomi dan kebijakan politik pemerintahan Jokowi saat ini begitu nyata. Tentu, lambat laun akan mencekik rakyat. Hal tersebut dapat dilihat melalui arah kebijakan yang beberapa waktu lalu diputuskan. Salah satunya melalui Menteri Ketenagakerjaan yang mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) Nomor 2 tahun 2022 tentang Jaminan Hari Tua (JHT).

Peraturan tersebut sangat merugikan buruh. Serikat-serikat pekerja satu suara menyatakan sikap untuk menolak Permenaker terkait klaim Jaminan Hari Tua di usia 56 Tahun. Kecaman masif disuarakan serikat-serikat buruh untuk menahan langkah pemerintah memberlakukan Permenaker yang tentu merugikan pekerja. Sebelumnya, uang JHT dapat dicairkan dalam waktu yang relatif cepat tanpa menunggu usia 56 tahun.

Kebijakan Menteri Ketenagakerjaan dengan permen yang baru saja dikeluarkan jelas mempersulit para pekerja. Jika dibandingkan dengan peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 19 tahun 2015 tentang tata cara dan persyaratan pembayaran manfaat jaminan hari tua, pembayaran JHT jauh lebih cepat. 

Misalnya pada pekerja yang mengundurkan diri, pemberian manfaat JHT dapat dibayarkan secara tunai dan sekaligus setelah melewati masa tunggu 1 (satu) bulan terhitung sejak tanggal surat keterangan pengunduran diri dari perusahaan diterbitkan. Sedangkan pada Permenaker Nomor 2 Tahun 2022, peserta yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pembayarannya akan diberikan pada saat mencapai usia 56 tahun.

“Tidak ada alasan untuk menahan uang pekerja,” tegas Ketua Bidang Hikmah, Politik dan Kebijakan Publik DPP IMM yang akrab disapa Alsha. Karena JHT yang dikelola oleh BPJS Ketenagakerjaan itu, lanjutnya, adalah dana milik nasabah yang tak lain adalah pekerja, bukan milik pemerintah. “Banyak pekerja atau buruh yang membutuhkan dana JHT secepatnya untuk kebutuhan hidup atau memulai wirausaha pasca berhenti bekerja,” tambah Alsha lagi.

Belum surut perjuangan, Presiden Jokowi lagi-lagi menginstruksikan jika bukti kepesertaan BPJS Kesehatan menjadi syarat berbagai pelayanan publik. Contohnya, pendaftaran peralihan hak atas tanah karena jual beli, kepesertaan calon jemaah haji dan umrah, dan pengurusan perizinan usaha. Selain itu juga permohonan SIM, STNK, Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK), syarat untuk mendapatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan seluruh pelayanan terpadu satu pintu.

Berbagai keperluan tersebut tentu berhubungan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Demi mengurus berbagai persyaratan formal, pada akhirnya warga harus segera mendaftarkan diri menjadi peserta aktif BPJS Kesehatan.

Melihat Instruksi Presiden (INPRES) Nomor 1 Tahun 2022 tentang Optimalisasi Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional, begitu jelas berbagai persyaratan terkait jaminan kesehatan mempersulit masyarakat. “Seharusnya negara melalui pemerintah menjamin secara utuh dan penuh atas jaminan kesehatan oleh negara,” kata Alsha.

Belum selesai permasalahan-permasalahan yang terjadi akibat keputusan kontroversi pemerintah, hadir wacana perpanjangan masa jabatan Presiden dan penundaan pemilu 2024. Seperti yang diketahui, aspirasi perpanjangan masa jabatan Presiden Jokowi kembali mencuat setelah Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar memberi usul agar Pemilu 2024 ditunda 1 – 2 tahun. 

Hal senada juga diungkapkan Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto. Ia mengaku menyerap aspirasi dari petani di Sawit di Kabupaten Siak, Riau, saat kunjungan kerja. Senada dengan keduanya, Zulkifli Hasan, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) juga satu suara menerima usulan penundaan Pemilu 2024. “Jika ditunda, berarti tidak ada transisi kepemimpinan yang akhirnya bermuara pada perpanjangan masa jabatan Presiden Jokowi,” ungkap Alsha.

Menurut Alsha, jangan sampai kepercayaan rakyat melalui pemilu, baik untuk eksekutif ataupun legislatif dikhianati. Apabila kewenangan tersebut tidak dilaksanakan sesuai ketentuan UUD 1945 dan aturan lain, mandat itu gugur dan kembali ke rakyat. Maka rakyatlah yang akan menentukan arahnya. Karena jabatan Presiden, MPR, DPR, DPD, DPRD dalam sumpah jabatannya harus setia terhadap Pancasila dan UUD 1945. Wacana penundaan pemilu sama saja mengkhianati konstitusi UUD 1945.

Berdasarkan analisis dan kajian DPP IMM terhadap peristiwa di Wadas, penembakan peserta aksi di Sulawesi Tengah, konflik agraria di Riau, Permenaker JHT dan wacana penundaan pemlu 2024 tersebut, DPP IMM menyerukan kepada DPD, Pimpinan Cabang dan Pimpinan Komisariat untuk terus menyikapi hal tersebut dengan beragam gerakan, dengan tuntutan beberapa poin berikut:

  1. Menyerukan kepada seluruh kader IMM se-Indonesia untuk terus melakukan aksi di setiap level pimpinan.
  2. Menolak tegas segala bentuk perampasan tanah yang di belahan Indonesia seperti di Singingi Hilir, Riau oleh PT Warnasari Nusantara
  3. Mengecam keras represifitas aparat di Desa Wadas Purworejo Jawa Tengah dan peristiwa penembakan di Sulawesi Tengah, serta menolak tegas segala bentuk represif aparat kepolisian dalam memberangus gerakan rakyat
  4. Menolak Permen Nomor 2 Tahun 2022 Tentang Jaminan Hari Tua (JHT).
  5. Menolak BPJS sebagai syarat izin berbagai pengurusan administrasi dan jual beli
  6. Menolak wacana penundaan pemilu 2024 dan hapus Presidential Threshold menjadi 0%.

Demikian tuntutan tersebut agar pemerintah segera mengambil dan memenuhi tuntutan kami serta menjadi arahan bagi kader-kader IMM se-Indonesia agar menjadi telaah kritis dan terus menyuarakan kebenaran hingga perjuangan IMM menuai kemenangan! (AA)

Bupati Sumedang Terima Audiensi Pemuda Muhammadiyah, Ini yang Dibahas

Bupati Sumedang Terima Audiensi Pemuda Muhammadiyah, Ini yang Dibahas
Sumedang - Untuk mempererat tali silaturahmi dan menjalin sinergitas dengan Pemerintah Kabupaten Sumedang, Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Sumedang bersilaturahmi dengan Bupati Sumedang, Dr. H. Doni Ahmad Munir, S.T., M.M. Audiensi ini digelar di Ruang Gedung Negara Kabupaten Sumedang. Kamis (24/02/2022).

Audiensi ini juga dihadiri oleh Ketua Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Sumedang Dodi Partawijaya, Sekretaris Andri Wildani, bendahara Riki Kuswandi, Komandan Kokam Sumedang Yayat Hidayat dan beberapa anggota dari Pemuda Muhammadiyah.

Audiensi ini di dampingi juga oleh Dr. H. Dudi Supardi, S.T., M.M sebagai Majlis Hikmah (PDM) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sumedang. Audiensi membicarakan tentang program kerja yang akan direncanakan oleh Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Sumedang baik program-program jangka pendek maupun jangka panjang yang sinergi dengan program Pemkab Sumedang dengan tagline Sumedang Simpati dalam mewujudkan Sumedang Melesat dan Berkemajuan.

Sekaligus memperkenalkan kepengurusan yang akan melaksanakan Rapimda PD Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Sumedang. Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Sumedang berharap kepengurusan ini kedepannya dapat menjalankan organisasi ini dengan amanah sehingga kader-kader Pemuda Muhammadiyah dapat lebih mandiri kedepannya untuk menunjang kesejahteraan umat.

“Harapan kami kader-kader Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Sumedang kedepannya dapat berkontribusi karena ada banyak program-program di Kabupaten Sumedang yang mungkin dapat menjadi sasaran kerja dari Pemuda Muhammadiyah, diantaranya seperti mapping pengembangan pariwisata yang dapat menciptakan value baru di Kabupaten Sumedang, dan tentunya mengenalkan produk unggulan UMKM Pemuda Muhammadiyah Sumedang diantaranya kopi olahan mandiri merk Tropis Coffe Manglayang di Sukasari dan Konveksi NAM Adventure di PC Pemuda Muhammadiyah Ujungjaya." kata Dodi Partawijaya.

Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Sumedang berharap Bupati dapat hadir dalam acara Rapimda PD Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Sumedang yang akan di laksanakan bulan maret mendatang tepatnya yang akan dilaksanakan pada tanggal 6 Maret 2022 di Gedung KH Ahmad Dahlan Kampus SMK Muhammadiyah 1 Sumedang.

Menanggapi audiensi tersebut Bupati Doni Ahmad Munir mengatakan selaku Pemerintah Kabupaten Sumedang akan siap mendukung program kerja yang akan dilaksanakan oleh Pemuda Muhammadiyah. Bupati Sumedang mengapresiasi jajaran PD Pemuda Muhammadiyah Sumedang yang telah mencurahkan pikiran, tenaga, bahkan materi untuk mendukung dan berpartisipasi dalam mewujudkan Sumedang Simpati.

"Saya merasakan bagaimana support dari pemuda Muhammadiyah terhadap berbagai kebijakan yang telah kami lakukan," ucapnya. 

Bupati juga menyambut baik kegiatan Rapimda yang akan dilaksanakan oleh pemuda Muhammadiyah. Ia berharap dengan diselenggarakannya Rapimda bisa merumuskan dan menetapkan berbagai program dan kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan dalam (Musyda) Musyawarah Daerah sebelumnya. 

"Karena (Rapimda) Rapat Pimpinan Daerah merupakan sebuah keharusan konstitusi, sehingga di Rapimda ini betul-betul menghasilkan rencana kerja tahun ini dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya sehingga berdaya guna, berhasil guna, dan terukur target kinerjanya. Dan apa yang diputuskan di Rapimda harus sesuai pada pencapaian tujuan organisasi," ujarnya.

Bupati juga menghimbau kepada jajaran pemuda Muhammadiyah untuk mengaktualisasikan potensi-potensi yang ada di dalamnya. 

"Saya meyakini pemuda Muhammadiyah bisa menjadi wahana yang solutif dan aplikatif untuk menyelesaikan persoalan-persoalan di masyarakat. Selain itu pemuda Muhammadiyah bisa menjadi wahana yang memformulasikan dan merumuskan solusi-solusi atas persoalan umat."

Mengakhiri audiensi ini, Bupati berharap kepada pemuda Muhammadiyah untuk dapat berpartisipasi memberikan kontribusinya dan ikut bergerak mengembangkan bidang kepemudaan dan keagamaan di Kabupaten Sumedang." Pungkasnya.

Kepengurusan PC IMM Bogor Periode 2022-2023 Resmi Dilantik

Pelantikan Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Bogor 

KULIAHALISLAM.COM, Bogor – Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Bogor Raya menyelenggarakan pelantikan kepengurusan periode 2022-2023 di gedung DPRD Kabupaten Bogor, Rabu (23/2/22).

Ketua Umum PC IMM Bogor, Hendi mengatakan bahwa PC IMM Bogor kedepan akan lebih fokus dalam pengaderan. Dan selama kaderisasi itu berjalan akan banyak melibatkan elemen masyarakat dan stakeholder, yang mana hal itu mengharuskan kader untuk kolaboratif.

"Jadi memang saya akan fokus dalam program jangka panjang yakni pengaderan. Nah proses pengaderan itu juga harus kolaboratif, baik disetiap bidangnya secara internal, maupun perawatan kadernya dalam melihat kedepan." Ujarnya.

Hendi menambahkan, "Semua hal itu bertujuan agar IMM Bogor lebih maju lagi. Serta bisa melahirkan kader-kader yang berintegritas. Sehingga pergerakan kita kedepannya tidak hanya sebatas gerak saja. Melainkan dapat membawa gagasan yang bisa menjadi barometer gerakan IMM."

"Selain dari pada itu saya juga akan fokus kepada pengaderan non-formal, ada program-program pendukung lain yang bisa diciptakan dan di munculkan untuk keberlangsungan organisasi." Pungkasnya.

(Naufal Abdul Afif)

Pelantikan IMM UMP, Ketum Koorkom UMP Ajak Berprestasi Akademik Maupun Non Akademik

Pelantikan IMM UMP, Ketum Koorkom UMP Ajak Berprestasi Akademik Maupun Non Akademik


KULIAHALISLAM.COM - Koordinator Komisariat (Koorkom) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) telah melaksanakan pelantikan struktural pengurus periode 2021/2022. 

Dengan bertajuk 'Harmonisasi Perkaderan: Kultural, Intelektual dan Gerakan IMM UMP Untuk Mewujudkan Perkaderan yang Progresif'. Kegiatan ini diselenggarakan di Auditorium Ukhuwah Islamiyah UMP, Sabtu, (19/2/ 2022).

Acara Pelantikan dihadiri oleh Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan, Alumni, AIK, Demisioner IMM UMP, Ketua Umum PC IMM Banyumas, Demisioner Koorkom IMM UMP periode 2022/2021, Ketua Umum Pimpinan Komisariat se-Banyumas raya, Tapak Suci UMP, Hizbul Wathan UMP, KOKAM UMP dan Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa se-UMP.

Dalam pelaksanaan pelantikan ini juga terdapat sarasehan alumni IMM UMP dengan keynote speaker Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan UMP Ahmad Darmawan, Pembicara satu Rizal Rifai, pembicara dua yaitu Indriyani Whiji Lestari, dan pembicara tiga yaitu Wartono.

Wakil Rektor tiga Ahmad Darmawan menyampaikan, Koorkom IMM UMP harus bisa mencetak kader yang siap menjalankan Amar Ma’ruf Nahi Munkar dimanapun dan kapanpun. 

"Kader IMM UMP harus menjadi produk unggul yang berprestasi, dan bermanfaat bagi umat," ungkapnya. 

Sedangkan demisioner Ketum Koorkom Iqbal Amin Ma'ruf menyampaikan Koorkom memiliki peran penting, harus mengharmoniskan sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh menjadikan satu pergerakan IMM UMP kedepannya lebih baik lagi.

"Koorkom kedepannya bisa meneruskan estafet kepemimpinan sehingga kita semua bisa bersama-sama belajar di laboratorium perkaderan IMM UMP," ungkapnya

Ketua Umum koordinator komisariat terpilih Nikiyan dalam sambutannya menyampaikan, dua hal pondasi utama yang mendasar dan fundamental dalam berIMM yaitu sebuah kalimat ungkapan yang sering dikenal dengan jargon IMM yaitu : Fastabiqul Khoirot dan Anggun Dalam Moral Unggul Dalam Intelektual. 

Sepanjang historis yang ada saat ini IMM mencetak generasi per generasi dalam perkaderan IMM (DAD) tak luput dari itu prestasi-prestasi yang tertoreh di UMP adalah buah hasil dari Kader IMM. Baik prestasi akademik maupun non akademik.

Dalam akademik kader-kader IMM banyak yang menorehkan prestasi baik di Mawapres, PKM, PHP2D dan pertukaran pelajar ke mesir yang saat ini terjadi dari fakultas farmasi yaitu IMMawati Intan. 

Untuk non akademik sama halnya dengan tujuan IMM yang menciptakan kader militan yang mampu mempimpin IMM disini sering kali menjadi ujung tombak dalam mewarnai hidupnya dikelembagaan dan kegiatan kemahasiswaan.

"Mulai dari kakanda Heri dari farmasi presma 2013, kakanda Bayu Pryoga dari teknik 2015 dan 2021 presma kita ada dari IMMawan Ilyas Firdausi beserta temen-temen lembaga universitas lainnya yang selama vakum yang kini teman- teman IMM berusaha menghidupkannya lagi, IMMawan Niko DPM IMMawan Hikam MKM," pungkasnya. (Fathan Faris Saputro)

Instruksi DPP IMM Kepada PK, PC, dan DPD IMM Se-Indonesia

Instruksi DPP IMM Kepada PK, PC, dan DPD IMM Se-Indonesia

Assalamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Ba’da salam semoga berkat, rahmat dan ridho Ilahi melimpahi perjuangan kita dalam mengemban amanah ikatan, persyarikatan, umat, bangsa dan negara. Aamiin.

Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) menyikapi tindakan pengepungan aparat Kepolisian Daerah Jawa Tengah (Polda Jateng) terhadap masyarakat Desa Wadas Purworejo Jawa Tengah. DPP IMM menyatakan tindakan aparat Polda Jateng tersebut sebagai salah satu bentuk represifitas aparat dalam membungkam hak masyarakat menyuarakan aspirasi penolakan wilayah tambang batu Andesit di desa mereka dijadikan salah satu proyek strategis nasional.

Seterusnya, Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) juga menyikapi kejadian baru-baru ini dimana kejadian berdarah kembali terulang kepada peserta unjuk rasa yang meninggal dunia akibat terkena tembakan. Diketahui, korban saat unjuk rasa menolak aktivitas tambang oleh PT. Trio Kencana yang berlokasi di Paringi Moutung, Sulawesi Tengah.

Hal serupa mengingatkan IMM pada tragedi 25 September 2022 silam. Dimana IMMawan Randi dan IMMawan Yusuf menjadi Korban saat menggelar aksi di depan kantor DPRD Sulawesi Tenggara (Sultra), Kendari, Mahasiswa Universitas Halu Uleo (UHO) itu meninggal setelah tertembak di bagian dada sebelah kanan.

Bahwa berdasarkan hasil analisis, kajian terhadap dua kasus di atas maka Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah memberikan instruksi kepada Dewan Pimpinan Daerah (DPD), Pimpinan Cabang (PC) & Pimpinan Komisariat (PK) se-Indonesia sebagai berikut:

  1. Menyerukan kepada seluruh kader IMM se-Indonesia untuk melakukan konsolidasi dan aksi solidaritas disetiap level pimpinan atas dua peristiwa tersebut.
  2. Menginstruksikan kepada Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah se-Indonesia untuk mem-back up dan memperjuangkan hak-hak rakyat Indonesia dan korban;
  3. Mengecam keras represifitas aparat di Desa Wadas Purworejo Jawa Tengah dan peristiwa penembakan di Sulawesi Tengah;
  4. Menginstruksikan kepada Dewan Pimpinan Daerah dan level di bawahnya agar mendesak Kepolisian Republik Indonesia untuk menggunakan pendekatan humanis dalam pengamanan unjuk rasa.

Demikian instruksi ini kami buat untuk segera ditindaklanjuti kader IMM se-Indonesia. Atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.

Billahi Fii Sabilil Haq Fastabiqul Khairat
Wassalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bidang Hikmah, Politik dan Kebijakan Publik DPP IMM 2021-2023

PK IMM STAI Muhammadiyah Paciran Menggelar Pelatihan Jurnalistik

PK IMM STAI Muhammadiyah Paciran Menggelar Pelatihan Jurnalistik

KULIAHALISLAM.COM - Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) STAI Muhammadiyah Paciran dalam rangkaian kegiatan Darul Arqam Dasar (DAD) berbagi menggelar silaturahmi dan pelatihan jurnalistik untuk siswa MTs Muhammadiyah 13 (MUGALAS) Solokuro, Solokuro (12/2/2022).

Dengan tema 'Pengenalan Teori Dasar Jurnalistik dalam Konteks Keterbukaan Informasi Publik' acara itu di sampaikan Fathan Faris Saputro di sela-sela menjadi instruktur pengaderan DAD itu.

"Semoga kehadiran materi ini memberikan manfaat untuk adik-adik sekalian, utamanya untuk mengenal dan memahami teori dasar tentang jurnalistik," kata Fathan yang juga alumni MUGALAS ini.

Usai sesi berkenalan, sesuai jadwal pemateri menyampaikan paparan dengan selingan yang menghidupkan suasana. Sesi tanya jawab pun menciptakan keceriahan peserta. Mereka terlihat antusias menyimak penyampaian 'ilmu baru' yang didengar.

Fathan Faris Saputro mengawali dengan menyampaikan teori dasar jurnalistik. Fathan menyambung dengan menyajikan pemahaman dan teknik dasar, memahami rumus 5W 1H, menyusun perencanaan liputan, teknik wawancara, kemudian menuangkan dalam penulisan berita.

Fathan juga memberikan kaidah dasar bahasa Indonesia dan bahasa jurnalistik, yang menjadi bekal dalam mengawali menulis.

"Kalian harus memahami bahasa, artinya bahasa yang kalian tuangkan dalam penulisan sebuah berita harus memenuhi unsur yang kita sampaikan dalam teori tadi. Bahasa baku, lugas, tegas dan tidak bertele-tele," ujar Fathan yang juga redaksi pelaksana kuliahalislam.com itu. 

Selain teknik penulisan dan tata bahasa, teknik pengambilan foto juga tersaji di paparkan oleh pemateri, sebagai bekal awal pengambilan gambar atau foto.

Sesi berikutnya, setelah di bagi contoh tulisan berita, diteruskan dengan praktik penulisan berita.

Diharapkan dari hasil pelatihan ini akan lahir penulis-penulis muda. Minimal bisa menulis kegiatan di sekitar lembaga. Peserta pelatihan mengaku gembira dan bersyukur.

Materi jurnalistik menjadi ilmu baru yang kini dimiliki. Kedepan, dengan bekal pemahaman yang didapat tersebut, bisa dituangkan dalam beragam tulisan, termasuk di Media Dinding (Mading) Sekolah di MUGALAS ini.

Di akhir acara, ucapan saling berterimakasih disampaikan, dari pihak lembaga juga siswa peserta pelatihan.

"Terimakasih kepada kakak-kakak IMM yang telah membagikan ilmu buat kami, semoga yang dilakukan, berbagi ilmu kepada kami tentang jurnalis mendapat barokah, Amin," kata Safa, berbicara mewakili teman-temannya.

"Saya sangat berterimakasih sekali atas terselenggaranya acara ini. Semoga kedepan MUGALAS terus melaksanakan acara seperti ini, mengenalkan teori dasar jurnalistik di sekolah-sekolah," ucap Fathan.

Aku Titipkan Muhammadiyah Kepadamu

Aku Titipkan Muhammadiyah Kepadamu

KULIAHALISLAM.COM - Baru-baru ini begitu tren lagu Tri Suaka yang kurang lebih liriknya seperti ini, "Aku titipkan dia, lanjutkan perjuanganku tuknya, bahagiakan dia, kau sayangi dia, seperti ku menyayanginya," lagu ini begitu sering dinyanyikan oleh para vokalis lebih-lebih anak muda di tempat-tempat umum. 

Bagi sebagian anak muda, lagu ini mungkin sangat menyentuh dan dirasa mewakili rasa hatinya, sehingga begitu gemar menyanyikan lagu tersebut. Namun jika kita belajar sejarah Indonesia, ada ungkapan yang lebih menyentuh melebihi lirik lagu tersebut.

Kurang lebih 100 tahun yang lalu, kala itu negara kita masih bernama Hindia-Belanda. Ada seorang anak muda bernama Ahmad Dahlan, yang prihatin akan keadaan bangsanya. Kebodohan, kesengsaraan, kemiskinan begitu sangat mendarah daging dalam benak masyarakat. 

Penjajahan yang telah bercokol lebih dari 300 tahun kiranya sangat sulit untuk di usir begitu saja. Namun Ahmad Dahlan muda melihat masih ada sinar harapan masa depan cerah untuk bangsanya.

Ahmad Dahlan muda belajar dengan sangat gigih, banyak Kiai Jawa yang ia datangi untuk menimba ilmu darinya. Hingga pada puncaknya dapat pergi ke Makkah dan memperdalam ilmu agama. Beliau banyak menimba ilmu kepada para Syekh. 

Diantaranya adalah Syekh Bakri Syatha, Syekh Muhammad Khatib, Syekh Ali Mishri, Syekh Mahfudz Termas, Syekh Nawawi Al Bantani, Muhammad Abduh, Jamaluddin Al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyah.

Sepulangnya dari Makkah, Ahmad Dahlan memperlebar pergaulannya. Pada tahun 1909, ketika gerakan kebangkitan nasional telah berkembang, Ahmad Dahlan ikut masuk perkumpulan Budi Utomo. 

Perkumpulan ini didirikan di Jakarta pada 20 Mei 1908 oleh Dr Wahidin Soedirohoesodo dan beberapa siswa sekolah kedokteran (STOVIA). Ahmad Dahlan bertemu pertama kali dengan Dr Wahidin melalui perantara Mas Djoyosoemarto. Beliau sangat welcome dengan siapapun yang mempunyai tujuan memajukan bangsa Indonesia.

Berkat bergabungnya dengan Budi Utomo beliau diminta memberikan tausiyah serta pengetahuannya tentang Islam kepada para pengurus Budi Utomo. selain itu Ahmad Dahlan juga diminta mengajar agama Islam kepada para siswa kweekschool di Jetis Yogyakarta.

Kweekschool adalah sekolah umum untuk anak-anak kalangan menengah pribumi dan Belanda, tidak ada kaum santri disitu, tetapi Ahmad Dahlan dapat menyampaikan ilmu agama kepada para siswa.

Dari pengalaman itu Ahmad Dahlan berpikir untuk mendirikan semacam  kweekschool tetapi ia modifikasi, pelajaran Agama dan pelajaran umum. Sekolahnya diberi nama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah. Waktu itu anak-anak Kauman masih asing dengan cara belajar model sekolah. 

Sekolah sederhana itu menempati ruang tamunya, ukuran sekitar 6x2,5 meter berisi 3 meja dan 3 dingklik (kursi panjang) serta papan tulis. Muridnya ada 9 anak. Dalam kurun setengah tahun muridnya sudah mencapai 20 anak pada bulan ke-7 sekolah itu dapat bantuan guru umum dari Budi Utomo.

Kiai Haji Ahmad Dahlan juga mendirikan Pondok asrama untuk murid-murid yang datang dari jauh yaitu Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo, dan Semarang. Selain dari daerah-daerah itu murid-muridnya juga datang dari tempat yang lebih dekat seperti Bantul, Srandakan, Brosot dan Kulonprogo.

Setelah banyaknya pengalaman dan interaksinya dengan berbagai kalangan di luar kaum santri Kauman, akhirnya pada tahun 1912 Ahmad Dahlan mendeklarasikan berdirinya Muhammadiyah. Wadah organisasi itu dimaksudkan untuk melaksanakan cita-cita pembaharuan Islam di bumi Nusantara. 

KH Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal menurut pemahaman yang benar tentang agama Islam. Iya ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan Al-Qur'an dan Al hadis.

Muhammadiyah berdiri pada 18 November 1912 Masehi bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1330 Hijriah di Yogyakarta. Pendirian Muhammadiyah ini awalnya mendapatkan penolakan, baik dari masyarakat sekitar ataupun dari luar Yogyakarta. Berbagai fitnah tuduhan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya. 

KH Ahmad Dahlan dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya sebagai Kiai palsu karena sudah mengikuti orang Belanda yang Kristen dan macam-macam tuduhan yang lain. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun rintangan demi rintangan itu-itu dapat dihadapinya dengan sabar.

Sejak saat itu, Kiai Haji Ahmad Dahlan bersama para murid dan sahabatnya sangat gigih memperjuangkan dan melakukan reformasi agama di lingkungan umat Islam. Khususnya bangsa Indonesia pada saat itu sedang terbelenggu oleh kejumudan berfikir. 

Kehidupan umat Islam yang terbungkus dalam sikap taklidisme dan feodalisme, serta sulitnya mengakses pendidikan menjadi sebab keterbelakangan dan ketertinggalan umat Islam Indonesia.

Selain itu KHAhmad Dahlan juga memikirkan betapa mahalnya pengobatan di rumah sakit kala itu. Para wong cilik (masyarakat miskin) tidak mungkin mampu berobat ke rumah sakit yang dimiliki oleh Belanda.

Akhirnya KH Ahmad Dahlan dan HM Sudjak mendirikan Rumah Sakit yang diberi nama Penolong Kesengsaraan Oemat (PKO) pada tanggal 15 Februari 1923 di Notoprajan  Yogyakarta.

Ada pula kisah populer yang menggambarkan betapa gigihnya KH Ahmad Dahlan untuk menebar manfaat melayani umat. Ketika KH Ahmad Dahlan terus-menerus mengajarkan surat Al-Maun kepada murid-muridnya sehingga mereka bosan.

"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin, maka celakalah orang yang salat (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya yang berbuat ria dan enggan (memberikan) bantuan."

Mereka pun bertanya kepada gurunya mengapa tidak beranjak mengajarkan surat-surat yang lain. KH Ahmad Dahlan kemudian bertanya kepada murid-muridnya apakah kalian sudah mengamalkan surat Al-Maun atau belum. Para murid menjawab, mereka sudah mengamalkan, bahkan sudah menjadikan Al-Maun sebagai bacaan pada setiap salat.

“Kalian sudah hafal surat Al-Maun, tapi bukan itu yang saya maksud. Amalkan! Diamalkan, artinya dipraktikkan, dikerjakan! Rupanya, saudara-saudara belum mengamalkannya," ucap Ahmad Dahlan seperti dikutip Junus Salam dalam K.H. Ahmad Dahlan: Amal dan Perjuangannya (2009).

Selanjutnya KH Ahmad Dahlan menyuruh murid-muridnya untuk berkeliling mencari orang miskin dan membawanya pulang, lalu dimandikan dengan sabun, diberi pakaian yang bersih, diberi makan dan minum, serta disediakan tempat tidur yang layak. Dan dari situlah cikal bakal berdirinya Panti Asuhan Yatim (PAY) Muhammadiyah diberbagai daerah se-Indonesia.

Setelah melalui perjuangan berat, penuh halangan dan rintangan untuk menggerakkan dan memajukan persyarikatan Muhammadiyah, selama kurang lebih 11 tahun memimpin secara langsung sebagai presiden Muhammadiyah. 

Akhirnya pada tanggal 7 Rajab 1340 H bertepatan 23 Februari 1923, beliau Kiai Haji Ahmad Dahlan dipanggil pulang ke Rahmatullah dengan tenang. Terhitung dari tahun kelahirannya, usia beliau saat itu sekitar 55 tahun. Sakit berat menghinggapi beliau di saat saat sebelum wafatnya.

"Ketahuilah, aku harus bekerja keras dalam meletakkan batu pertama daripada amal yang besar ini. kalau sekiranya aku terlambat atau aku hentikan sementara karena sakitku ini, maka tidak seorangpun akan sanggup membina batu pertama itu. Aku merasa hayatku tidak akan lama lagi. 

Maka jika aku terus kerjakan amal ini, mudah-mudahan orang di belakangku nanti tidak akan mendapat kesukaran untuk menyempurnakannya", kata KHA. Dahlan suatu ketika dalam masa sakitnya.
"Aku titipkan Muhammadiyah kepadamu", begitu ujar Kiai Dahlan sebelum wafatnya.

Pernyataan Sikap DPP IMM Terhadap Pengepungan Aparat Kepolisian Terhadap Masyarakat Desa Wadas Purworejo Jawa Tengah



KULIAHALISLAM.COM - Jakarta, Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) menyayangkan tindakan pengepungan aparat Kepolisian Daerah Jawa Tengah (Polda Jateng) terhadap masyarakat Desa Wadas Purworejo Jawa Tengah (8/2/22). DPP IMM menyatakan tindakan aparat Polda Jateng tersebut sebagai salah satu bentuk represifitas aparat dalam membungkam hak masyarakat menyuarakan aspirasi penolakan wilayah batu Andesit di desa mereka dijadikan salah satu proyek strategis nasional. 

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengatur dijaminnya kebebasan menyampaikan pendapat dimuka umum sebagai bagian dari instrumen Hak Asasi Manusia. Pengaturan tersebut merupakan bentuk pengejawantahan diadopsinya jaminan kebebasan berpendapat dalam Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia Tahun 1948, bahkan negara pun telah mengatur jaminan kebebasan berpendapat bagi masyarakat dalam ketentuan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kebebasan Berpendapat. Maka, dalam kasus tersebut seharusnya aparat Polda Jateng memfasilitasi elemen masyarakat yang menolak wilayah batu Andesit di desa tersebut untuk bertemu, berdialog dan merumuskan bersama penyelesaian masalah dari konflik proyek strategis nasional Bendungan Bener kepada Gubernur Jawa Tengah. Terlebih, dalam menanggulangi aksi massa, Polri berpedoman kepada Peraturan Kapolri Nomor 16 Tahun 2006 tentang Penanggulangan Aksi Massa dimana salah satu pengaturan dalam Peraturan tersebut ialah pihak keamanan wajib memfasilitasi perwakilan massa untuk melakukan negosiasi atau dialog terhadap pihak yang berkepentingan/pemerintah. 

Menanggapi dugaan represifitas aparat Polda Jawa Tengah dalam kasus pengepungan masyarakat di Desa Wadas Purworejo Jawa Tengah, DPP IMM menyatakan sikap sebagai berikut : 

1. Mendesak Polda Jawa Tengah membebaskan puluhan orang yang ditahan dalam kasus tersebut; 

2. Mendukung tindakan PP Muhammadiyah dan lembaga/organisasi kemasyarakatan lainnya dalam mengusut tuntas dugaan tindakan represifitas aparat Polda Jawa Tengah terhadap masyarakat Desa Wadas Purworejo Jawa Tengah; 

3. Meminta Polri memfasilitasi masyarakat Desa Wadas Purworejo Jawa Tengah untuk berdialog kepada Gubernur Jawa Tengah atau Presiden Republik Indonesia guna menyelesaikan konflik proyek strategis nasional Bendungan Bener di desa tersebut; 

4. Menginstruksikan DPD IMM Jawa Tengah untuk dapat membantu kerja-kerja advokasi dan pendampingan hukum baik yang dilakukan oleh PP Muhammadiyah, PW Muhammadiyah Jawa Tengah ataupun lembaga atau organisasi kemsayarakatan lainnya terhadap kasus tersebut; 

5. Menginstrusikan kepada seluruh jajaran IMM di Indonesia untuk dapat membuat flyer dengan Hastag #IMMPeduliWadas di media sosial untuk membantu menyuarakan aspirasi masyarakat Desa Wadas Purworejo Jawa Tengah sebagai bentuk solidaritas IMM bersama masyarakat Desa Wadas Purworejo Jawa Tengah. 

Jakarta, 9 Februari 2022 
Dengan Hormat,
Ketua Umum 
Abdul Musawir Yahya
NBM : 1.080.89

Ciri Khas Orang Muhammadiyah

KULIAHALISLAM.COM - Pertanyaan mengenai ciri khas orang Muhammadiyah muncul saat saya sedang kuliah. Berbeda dengan masa studi di SD sampai Aliyah yang mempunyai lingkungan homogen, di perguruan tinggi saya menemukan lingkungan yang lebih heterogen. Kawan-kawan saya berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Dalam konteks ormas Islam, kawan-kawan saya juga berasal dari beragam latar belakang ormas. 

Karena saat Tsanawiyah dan Aliyah saya aktif di IRM/IPM, maka pada saat kuliah saya mencari IMM. Bertemulah saya dengan kader-kader IMM di IPB. Saya mulai mengikuti kajian di sana. Lalu secara berjenjang mengikuti perkaderan demi perkaderan IMM. Keikutsertaan saya di IMM IPB membuat karir organisasi otonom saya terus berlanjut. 

Yang menarik adalah di IPB pada waktu itu ada 3 gerakan yang cukup menarik perhatian saya. Pertama, Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU). Kedua, gerakan tarbiyah yang bernaung dalam LDK Al Hurriyah. Ketiga, gerakan Hizbut Tahrir yang bernaung dalam UKM Badan Kerohanian Islam Mahasiswa (BKIM). (Sebenarnya ada satu lagi, yakni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Tapi tidak saya sebut karena coraknya sudah mirip dengan Muhammadiyah).

Tiga organisasi yang saya sebut di atas mempunyai ciri khas yang cukup kental. Misalnya KMNU mempunyai aktifitas shalawatan atau latihan Hadrah. Gerakan tarbiyah dan hizbut tahrir bisa dilihat dari penampilan atau busananya. Atau bahasa pergaulannya yang menggunakan semi-Arab. Hal ini membuat saya berpikir, apa ciri khas orang Muhammadiyah? 

Kita bisa saja mengatakan bahwa ciri khas orang Muhammadiyah itu menggunakan batik berwarna hijau, pakai kopeah yang ada logo Muhammadiyah, membaca nashrun minallah wa fathun qariib setiap akhir ceramah. Itu semua benar. Namun sayangnya ciri khas tersebut sifatnya asesoris, belum benar-benar melekat. Lantas apa ciri khas yang benar-benar melekat? 

Sementara ini saya jawab tidak ada. Kalau anda melihat orang Muhammadiyah, mereka tidak akan ada bedanya dengan seorang muslim atau seorang modern pada umumnya. Tentu ada juga orang Muhammadiyah yang memakai gamis, memakai sorban, menggunakan celana cingkrang, memelihara jenggot. Ada juga warga Muhammadiyah yang rambutnya gondrong, pakai celana jeans. Tapi fenomena ini belum bisa mewakili keseluruhan populasi orang Muhammadiyah. 

Kenapa Muhammadiyah tidak punya ciri khas yang melekat? Karena apa yang dahulu menjadi ciri khas Muhammadiyah sudah menjadi kebiasaan muslim pada umumnya. Dahulu kaum santri khas dengan sarungan. Sedangkan kaum priyayi atau abangan tidak sarungan. Namun memakai celana panjang. Jika ada kaum santri namun berpakaian modern, itulah ciri khas orang Muhammadiyah pada masa lalu. 

Tapi apa yang menjadi ciri khas orang Muhammadiyah pada masa lalu sudah diadopsi oleh banyak muslim hari ini. Dahulu ciri khas orang Muhammadiyah adalah menggabungkan pendidikan agama dan pendidikan modern. Hanya Muhammadiyah yang melakukannya pada masa itu. Sekarang apa yang dilakukan Muhammadiyah sudah diadopsi oleh Kementerian Agama dengan mendirikan Madrasah Ibtida'iyah, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Sudah diadopsi juga oleh NU dengan LP Ma'arif dan gerakan Tarbiyah dengan JSIT. 

Dahulu ciri khas orang Muhammadiyah adalah pelembagaan zakat, infak dan shadaqah. Dari asalnya shadaqah diberikan kepada Kiai, menjadi dikelola oleh lembaga. Sekarang apa yang dilakukan Muhammadiyah sudah dilakukan juga oleh Rumah Zakat, Dompet Dhuafa, ACT, dll. 

Jadi, kabar buruknya adalah Muhammadiyah hari ini sudah tidak lagi punya ciri khas yang benar-benar khas Muhammadiyah. Namun kabar baiknya adalah sebab Muhammadiyah tidak punya ciri khas adalah apa yang dulu menjadi ciri khas Muhammadiyah, sekarang sudah diadopsi banyak pihak. 

Tapi jangan khawatir, sebenarnya masih ada satu hal yang menjadi ciri khas Muhammadiyah. Yakni fikrah atau ideologinya. Ideologi Muhammadiyah yang mana? Apakah ideologi Muhammadiyah sebagai gerakan Islam? Bukan. Gerakan Islam bukan hanya Muhammadiyah. Apakah Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah? Bukan juga. Gerakan dakwah bukan cuma Muhammadiyah. 

Fikrah Muhammadiyah yang bisa menjadi ciri khas Muhammadiyah sampai sekarang adalah Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid. Silahkan anda coba googling. Kalau ketik kata tajdid di google, yang akan keluar adalah Muhammadiyah. Bukan ormas Islam lain. Saya berani mengatakan bahwa sampai hari ini, baru Muhammadiyah yang dengan tegas mengidentifikasi diri sebagai gerakan tajdid. Inilah ciri khas Muhammadiyah yang masih tersisa sampai sekarang. 

Konsep tajdid bisa menjadi pembeda Muhammadiyah dengan organisasi-organisasi Islam lain hari ini. Tajdid Muhammadiyah adalah purifikasi (pemurnian) dalam akidah dan ibadah mahdhah, dinamisasi (pengembangan) dalam persoalan muamalah duniawiyah atau kebudayaan. Artinya orang Muhammadiyah itu adalah puritan dalam soal akidah dan ibadah mahdhah, namun fleksibel dalam urusan keduniaan atau kebudayaan. 

Konsep tajdid ini saya selalu terangkan kalau diminta mengisi materi Kemuhammadiyahan. Dengan memahami benar-benar konsep ini, niscaya kita tidak akan kebingungan atau tidak akan minder saat berada di tengah-tengah gerakan Islam yang tumbuh subur bak jamur di musim hujan. 

Terakhir, mungkin pembaca ada yang berpikir, seharusnya ciri orang Muhammadiyah itu shalat tepat waktu, rajin ke masjid, rajin baca Al Qur'an dll. Kalau itu bagi saya bukan termasuk ciri khas, namun keharusan kita sebagai seorang muslim. Rajin shalat dan baca Al Qur'an itu seharusnya menjadi kebiasaan seorang muslim apapun ormas atau gerakannya. Justru bahaya kalau dimonopoli oleh ormas Islam tertentu.

Oleh: Robby Karman

IMM STAI Muhammadiyah Paciran Lamongan Akan Menggelar DAD

KULIAHALISLAM.COM - Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) STAI Muhammadiyah Paciran Lamongan akan menggelar Darul Arqam Dasar (DAD) tahun 2022 yang akan berlangsung pada tanggal 11-13 Februari 2022. Di MTs Muhammadiyah 13 Solokuro Lamongan.

Imam of Training Darul Arqam Dasar STAIM Paciran 2022 Fathan Faris Saputro berharap, nantinya peserta untuk tampil di garda terdepan dan berperan aktif serta ikut dalam menciptakan keamanan dan persatuan serta perangi hoax, Selasa (1/2/2022).

Sebagai organisasi yang fokus pada penanaman ideologi, dia mengajak kader IMM berperan dalam menyikapi problem Bangsa melalui dakwah.

“Mengingat kondisi kebangsaan kita hari ini yang masih kurang stabil, saya berharap kepada peserta DAD nanti untuk tidak mudah terprovokasi,”

“Tidak mudah terpengaruh dan disusupi oleh oknum-oknum yang telah terkooptasi dengan kepentingan tertentu,” kata Fathan yang juga Instruktrur PC IMM Lamongan ini. 

Darul Arqam Dasar bertemakan ‘Memanifestasikan Trilogi Ikatan, Khoirunnas Anfa'uhum Linnas’, menurut Fathan, menjadi manifestasi tekad IMM dalam membangun ideologi Keislaman dan Kebangsaan.

“IMM masih berkomitmen untuk terus melahirkan calon pemimpin yang memiliki karakter yang Islami serta menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan Bangsa,” kata Fathan.

“IMM harus bisa meningkatkan daya saing. Berorganisasi merupakan wadah pembelajaran dalam meningkatkan kemampuan leadership dan menjadi ‘motor penggerak’ dakwah Muhammadiyah,” Pungkasnya.

Transformasi Gerakan IMM: Digital Praksis


KULIAHALISLAM.COM - Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sudah saatnya siap tanggap guna beradaptasi dengan segala situasi yang menyelimutinya. Apalagi dalam kurun setengah abad usia, IMM tentunya telah mengalami berbagai dinamika situasi.

Situasi saat ini ialah era digital, dimana semua orang di dunia memanfaatkan teknologi sebagai kebutuhan dan penunjang aktivitas mereka. Oleh karenanya, di era saat ini manusia dituntut untuk mengikuti perkembangan digital yang sangat cepat. 

Pun sama halnya dengan organisasi. Apabila di tengah arus digital ini tidak dapat beradaptasi, maka ia akan menjadi sebuah organisasi kolot dan stagnan.

IMM hendaknya melakukan transformasi gerakan, menyesuaikan era yang sudah berubah dari sebelum-sebelumnya. Transformasi gerakan yang dimaksud ialah suatu cara berorganisasi yang berbeda dalam gerakan-gerakannya tanpa meninggalkan esensi ruh organisasi.

Islam Transformatif sebagai Paradigma

Menurut Moeslim Abdurrahman, Islam transformatif yaitu suatu paradigma yang mendialogkan antara penafsiran teks dan konteks sehingga lahirlah kekuatan aksi sebagai bentuk transformasi yang terlepas dari pemaksaan teks, namun ia benar-benar sesuai kebutuhan teks.

Islam transformatif bertujuan membentuk gerakan transformatif yang menumbuhkan kepedulian terhadap nasib sesama, melahirkan aksi solidaritas, didasarkan pada liberasi, humanisasi, dan transendensi.

Gerakan Praksis IMM

Djazman al-Kindi (2022: 154) menjelaskan beberapa identitas IMM, yang salah satunya ialah bahwa IMM ialah organisasi kader yang bergerak di bidang keagamaan, kemasyarakatan, dan kemahasiswaan yang kemudian dikenal sebagai Trilogi IMM. 

Dengan berlandaskan ketiga hal tersebut, IMM harus senantiasa memantapkan langkahnya menjadi sebuah organisasi yang konsisten dalam sisi spiritual, sosial, dan intelektual.

Aktualisasi yang dapat dilakukan ialah dengan langkah gerakan praksis IMM. Gerakan praksis yang tentunya berlandasakan pada trilogi IMM. 

Gerakan praksis juga merupakan identitas Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan. Pasalnya dari awal berdiri hingga saat ini dan seterusnya, Muhammadiyah selalu tumbuh dengan semangat praksis yang kuat.

Gerakan Digital IMM

Era baru dalam sejarah manusia telah dimulai sejak populernya kata “digitalisasi”, ini yang disebut Alvin Toffler (1980) sebagai era masyarakat informasi. Perlu dipahami bahwa transformasi kehidupan manusia selalu diawali dengan inovasi dalam memenuhi kebutuhan manusia, terutama kebutuhan ekonomi yang mengilhami terjadinya revolusi industri (DPP IMM, 2021: 121).

Digitalisasi sendiri mulai berkembang setelah manusia mengenal komputer sebagai alat yang memudahkan manusia dalam mengelola sistem manajemen informasi. Selanjutnya sejak saat itu perkembangan digitalisasi sangat cepat yang pada akhirnya sampai kepada era digital seperti saat ini.

Di posisi inilah, beradaptasi dengan zaman adalah suatu keniscayaan bagi IMM. IMM memiliki kemampuan intelektual untuk kesana. Daya pengetahuan, inovasi, dan keterampilanlah yang akan mengarahkan agar IMM bisa adaptif.

Tipologi era mahasiswa dewasa inipun telah berubah, dimana mereka lebih banyak bercengkerama dengan gadget mereka, akrab dengan berbagai media sosial. Mereka bukan lagi generasi yang suka berjam-jam betah ketika membaca buku, diskusi, dan berdebat. IMM sudah seyogyanya membaca fenomena tersebut secara lebih jeli dengan memulai gerakan-gerakan digitalnya.

Gerakan ini dapat dilakukan dengan berbagai bentuk, baik melalui teks, audio, visual, maupun audio visual. Secara teks semisal dapat dilakukan melalui artikel website, secara audio misal melalui podcast, secara visual dapat berupa poster maupun infografis, dan secara audio visual dapat berupa video.

Kendati demikian, sebenarnya gerakan digital di IMM sendiri telah marak dilakukan dari tingkat DPP sampai dengan komisariat. Namun, gerakan digital yang dilakukan masih banyak yang hanya sebatas melaporkan kegiatan. 

Padahal jika dikembangkan lagi, gerakan digital ini dapat menjadi senjata dari IMM untuk melakukan edukasi, sampai dengan kritik saran untuk pihak yang menyeleweng dan hal-hal lain yang lebih berdampak baik bagi siapapun, dan tentunya gerakan digital ini harus berbasis riset dan keilmuan yang matang.

Gerakan Digital-Praksis IMM

Dengan menerapkan paradigma transformatif, kemudian yang penulis tawarkan ialah memadukan gerakan praksis (aksi) dengan gerakan digital. Hal ini merupakan sebuah transformasi gerakan IMM yang biasanya berorientasi hanya pada ranah praksis saja, namun sekarang juga mencoba untuk bergerak lebih luas, yaitu dengan digital. 

Keduanya memiliki penekanan yang sama-sama kuat dan saling melengkapi satu sama lain. Target gerakan praksis ialah masyarakat secara langsung, sedangkan target dari gerakan digital ialah masyarakat dunia maya.

Oleh : Nizam Zulfa (Kandidat Calon Ketua PC IMM Sleman)

Merekonstruksi Pengaderan di Era Disrupsi

Merekonstruksi Pengaderan di Era Disrupsi

KULIAHALISLAM.COM - Pesatnya perkembangan teknologi menuntut banyak orang kini untuk beradaptasi agar tak tertinggal. Hal yang sama juga berlaku untuk para pelajar dan mahasiswa khususnya untuk mempersiapkan bekal agar dapat bersaing di dunia kerja. Mahasiswa kini didorong untuk lebih kreatif, inovatif, dan jeli menangkap peluang terlebih di era digital seperti sekarang ini. 

Melihat hal tersebut, strategi pengaderan terus mendorong mahasiswa agar lebih terbuka wawasannya mengenai dunia digital dan juga kita sebagai calon instruktur akan selaku memotivasi mahasiswa agar kiranya bisa lebih giat untuk belajar demi mendapakan kualitas mahasiswa yang kompetensi dalam dunia digitalisasi.

Dalam perjalanan pengaderan memang membutuhkan kekuatan yang besar demi membuat suatu organisasi menjadi lebih dewasa dan lebih sigap dalam menanggapi segala problem yang ada terutama dalam hal pengaderan. Pengaderan itu sendiri suatu manifestasi sebagai roda organisasi karena menyangkut sebuah keberlangsungan dalam organisasi tersebut.

Sebagai bentuk organisasi, regenerasi kepemimpinan adalah sebuah penentu utama. Mengapa demikian? Karena dalam regenerasi kepemimpinan yang sehat dapat terwujud ketika memiliki kader-kader yang berkualitas di era digital seperti saat ini. 

Selain akan menjadikan organisasi yang dinamis, juga formasi dalam kepemimpinannya akan segar dan energik. Tolak ukur dalam keberhasilan kemudian menjadi poin penting yang diharapkan mampu mengatasi berbagai permasalahan kader saat ini. Dinamika seperti ini sering terjadi, termasuk juga dinamika dalam pengaderan.

Dalam pengaderan tentunya mempunyai tim instruktur. Tim instruktur itu sendiri bertugas memandu dan memegang kendali orientasi, materi dan kualitas acara pengaderan sebagai proses melahirkan ekstrainer yang ideal. Tim instruktur adalah kelompok instruktur yang dari segi keinstrukturan dan pengaderan memenuhi persyaratan sebagai pengelola dengan tugas khusus disamping tugas umum.

Dalam hal ini, masih banyak tentunya yang masih menjalankan pengaderan dimana dalam pendelegasian instruktur dari komisariat itu sendiri masih belum sepenuhnya memenuhi persyaratan untuk menjadi tim instruktur. Dalam arti masih sangat minim untuk kader-kader yang sudah mengikuti pengaderan itu sendiri.

Proses kultural tidak harus dihilangkan bahkan penting untuk dihadirkan, namun di sisi lain proses formalistik juga wajib dihadirkan. Hal ini dikarenakan untuk menjaga legalitas dan marwah mahasiswa di era digital. Semua harus berjalan sesuai apa yang sudah ditetapkan. Agar nantinya dapat menciptakan kader-kader berkualitas. Tentunya, kader yang berkualitas dilihat dari seberapa pahamnya dalam digitalisasi yang dijalankannya.

Merekonstruksi pengaderan pasca pandemi Covid-19 yang sampai hari ini belum mencapai titik terang, menjadi hambatan terbesar bagi manusia dalam segala aspek; sosial, komunikasi, pendidikan, politik, dan lain-lain. 

Begitu pula permasalahan yang terjadi saat ini, akhirnya bukan lagi waktunya untuk kita menyalahkan keadaan melainkan untuk beradaptasi dengan keadaan yang demikian. Maka diperlukan berbagai inovasi dalam menjalankan peradaban.

Gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dalam perannya sebagai gerakan intelektual memerlukan rekonstruksi baik dari pendekatan, strategi, metode, bahkan sampai kepada ranah teknisnya dalam menghadapi berbagai hambatannya untuk memenuhi serta menjalankan perannya. 

Hal tersebut selain untuk mempermudah koordinasi dan integrasi kerja organisasi IMM juga dalam rangka untuk menghindari pragmatisme gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang nantinya berimbas pada hilangnya esensi dalam pergerakan begitu juga menjauhi gerakan yang sporadic.

Menjawab hal itu, diperlukan sebuah langkah taktis guna merumuskan ulang pola gerakan intelektual terkhusus bagi kita yang saat ini berjuang di IMM. Maka dalam hal ini penulis memberikan tawaran sebagai berikut:
  1. Mengidentifikasi disrupsi yang melanda gerakan intelektual. 
  2. Merumuskan hibridasi gerakan IMM new normal. 
  3. Merumuskan gerakan media IMM. 
  4. Mobilitas gerakan IMM.

Disrupsi Gerakan Intelektual

Disrupsi adalah sebuah istilah yang sudah sering kita dengarkan ialah suatu gangguan terhadap kemapanan yang disebabkan oleh perubahan dan perkembangan zaman khususnya pada bidang teknologi sehingga menyebabkan tatanan yang semula mapan seketika hancur bagai diterpa ombak dan akhirnya melebur.

Dalam hal perkembangan zaman ini sangat membuka peluang bagi kita dalam berinovasi dalam pertarungan kaum intelektual sebagai upaya melahirkan Counter Hegemoni. Dalam hal ini penulis akan menjelaskannya melalui pendekatan komunikasi khususnya media massa karena pada dasarnya salah satu faktor terbesar dari disrupsi ialah kemudahan akses informasi.

Pada dasarnya media massa merupakan sarana komunikasi menjadi alat penghubung antara para aktivis dan massa. Media massa pada masa perjuangan kemerdekaan hanya sebatas media cetak seperti koran ataupun poster dan radio. 

Maka dari itu para pejuang kemerdekaan perlu untuk memiliki keterampilan baca tulis. Begitu juga di masa Soe Hok Gie pada pergolakan politik tahun 1965 untuk meruntuhkan kediktatoran Orde lama pada saat itu bahkan sampai masa reformasi.

Mungkin bisa dibilang sudah ada sedikit kemajuan yaitu televisi. Seiring kemajuan teknologi media komunikasi berkembang pesat baik dalam hal jurnalistik dan audio visual. Berbagai platform media sosial dengan segala fitur menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat mendapatkan informasi yang menjadi kebutuhan masyarakat disajikan dengan semudah-mudahnya dan akses yang sebebas-bebasnya. 

Disisi lain tidak melupakan unsur hiburan. Inilah mengapa hari ini kita cenderung lebih suka menonton di You Tube ketimbang di TV, scrolling feed di IG daripada membaca redaksi di media digital, dan bahkan saat ini lebih suka Tik Tok dari pada You Tube.

Fenomena sebagaimana yang penulis terangkan diatas adalah sebagian dari fakta sosial atas bergesernya kemapanan skema komunikasi massa yang kemudian menuntut para intelektual untuk berinovasi merumuskan pola gerakannya yang baru dalam rangka agar tetap mampu bertanggung jawab menjalankan perannya.

Hibridasi Gerakan Intelektual IMM

Dalam diskursus pendidikan disebutkan "In hybrid classes, a significant amount of the course learning activity has been moved online, making it possible to reduce the amount of time spent in the classroom. Traditional face-to-face instruction is reduced but not eliminated.” 

Dalam implementasinya strategi hibridasi ialah mereduksi berbagai agenda pembelajaran dan “memindahkan”-nya kepada dalam jaringan yang pada awalnya dilakukan dengan cara tradisional.

Kaum intelektual dapat menggunakan pendekatan model komunikasi massa SMCR (Source, Message, Channel, dan Receiver). Dengan pendekatan tersebut kemudian kita menentukan siapakah yang menjadi komunikator atau Source (sumber) dalam hal ini ialah IMM sebagai kaum Intelektual. 

Lalu siapa yang mengolah message (pesan) yang akan disampaikan. Setelah itu melalui apa Channel (saluran) pesan itu disampaikan. Dan yang terakhir kepada siapa pesan itu kita tujukan yang kita sebut dalam model ini sebagai Receiver (penerima) sembari kita memperhatikan juga feedback yang diberikannya.

Lasswell menyebutnya dalam jargon “Who? Says what? In which channel? To Whom? With what effect?” (Lasswell, 1960). Contoh penerapannya sebagai berikut;

Source : sumber atau komunikator yang memiliki pikiran, gagasan, dan ide serta Aksi untuk disampaikan melalui media baik dalam ranah Gerakan social maupun kaderisasi.

Message: setelah wacana digagas, maka selanjutnya mengolahnya menjadi pesan baik dalam bentuk audio visual seperti infografis, podcast, poster, dll atau narasi seperti esai, opini, cerpen, puisi, dan lain-lain yang menggunakan pendekatan jurnalisme.

Channel: adalah proses memilih dan memilah media apa yang akan digunakan dalam mendesiminasikan ide dan gagasan yang telah dinarasikan serta diolah menjadi konten.

Reciever: komunikan, penerima, atau kita sebut sasaran penyampaian informasi. Receiver dalam hal ini berbeda-beda, menyesuaikan dengan arah gerak setiap bidang.

Dalam hal ini kita dapat mengacu pada ranah gerak IMM. Tri-logi Keagamaan, Kemahasiswaan, dan Kemasyarakatan. Adapun beberapa komponen yang dibutuhkan dalam menjaga kelancaran dan konsistensi yakni; Tim Narator, Konten Kreator, Riset, dan Pola Monitoring.

Evaluasi Gerakan Media IMM 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dihadapkan pada tiga tantangan dalam menjalankan perannya dalam gerakan pembaruan.

Pertama, pergerakan manusia yang semakin cepat. Akibat proses globalisasi, banyak sumber informasi publik masih belum rata tersebar, terlebih di daerah yang masih belum merasakan internet. Kesempatan untuk mempermudah kunjungan antarwarga negara satu dengan lainnya melalui kesepakatan negara menjadi salah satu dampak positif globalisasi.

Kedua, pergerakan modal. Pihak yang unggul dalam industri 4.0 adalah yang menjadi penguasa ekonomi saat itu. Begitu kerasnya persaingan pasar modal, sehingga yang menang akan menjadi pemain, sementara yang kalah hanya menjadi penonton. 

Ketiga, semakin cepatnya pertumbuhan media. Ungkapan tersebut sangatlah besar di benak seluruh khalayak umum. Bila terjadi pertumbuhan media, maka berbagai informasi, berita, bahkan hoax pun berasal dari media.

Menurut hemat penulis, kebanyakan para kader IMM saat ini dipastikan tidak akan bisa membendung arus globalisasi, juga dengan era industri 4.0 dari berbagai sisi entah itu positif maupun negatif. Solusi dari sumber tersebut adalah mewadahi potensipotensi kader dengan sesuatu yang positif.

Dengan memahami definisi disrupsi, IMM pada umurnya yang ke-56 menjadi fokus dalam bergerak ke ranah media, karena di Indonesia amat banyak pengguna media yang mampu dengan mudah mengakses informasi. Beberapa isu dan peran media sebagai langkah IMM kedepan yang diuraikan menjadi dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal ini adalah sesuatu yang sudah sangat umum dan menjadi perbincangan hangat, yakni perhatian kualitas sumber daya manusia. Dalam hal ini, kader IMM diharuskan perlu pengetahuan tentang definisi, fungsi, dan cara mengelola media. 

Analogikan bentuk informasi di luar sebagai bahan-bahan mentah seperti buku dan sumber informasi lainnya yang harus diolah supaya menjadi sesuatu yan menarik untuk dibahas, digarap, dan diberikan kepada khalayak umum. Terlebih, supaya bisa dinikmati masyarakat luas.

Gerakan digital IMM tersebut menjadi alat strategis untuk berdakwah, terlebih media massa seperti televisi, radio, surat kabar cetak, bahkan yang terpopuler saat ini media elektronik seperti surat kabar online. Media yang tak kalah pentingnya yaitu media sosial seperti podcast, google meet, whatsapp group, live streaming, line, dan masih banyak lagi.


Oleh : Muhammad Dzaky Yulianto